INVENTARISASI SERANGGA PADA TANAMAN PINUS (Pinus merkusii)



Botani Tanaman
Pohon besar, batang lurus, silindris. Tegakan masak dapat mencapai tinggi 30 m, diameter 60-80 cm. Tegakan tua mencapai tinggi 45 m, diameter 140 cm. Tajuk pohon muda berbentuk piramid, setelah tua lebih rata dan tersebar. Kulit pohon muda abu-abu, sesudah tua berwarna gelap, alur dalam. Terdapat 2 jarum dalam satu ikatan, panjang 16-25 cm. Pohon berumah satu, bunga berkelamin tunggal. Bunga jantan dan betina dalam satu tunas. Bunga jantan berbentuk strobili, panjang 2-4 cm, terutama di bagian bawah tajuk. Strobili betina banyak terdapat di sepertiga bagian atas tajuk terutama di ujung dahan
 
Gambar 1. Tegakan  Pinus (Pinus merkusii)
Buah berbentuk kerucut, silindris, panjang 5-10 cm, lebar 2-4 cm. Lebar setelah terbuka lebih dari 10 cm. Benih Bersayap, dihasilkan dari dasar setiap sisik buah. Setiap sisik menghasilkan 2 benih. Panjang sayap 22-30 mm, lebar 5-8 mm. Sayap melekat pada benih dengan penjepit yang berhubungan dengan jaringan higroskopis di dasar sayap, sehingga benih tetap melekat saat disebar angin selama sayap kering, tetapi segera lepas bila kelembaban benih meningkat. Umumnya terdapat 35-40 benih per kerucut dan 50.000-60.000 benih per kg
Pinus memiliki sinonim P. sumatrana Jungh.; P. Finlaysoniana Wallich; P. latteri Mason; P. merkiana Gordon. Nama lokalnya adalah tusam (Indonesia.) uyam (Aceh); son song bai (Thai); merkus pine (perdagangan); mindoro pine (Philipina); tenasserim pine (Inggris). Adapun pembagian taksonomi dari tanaman pinus (Pinus merkusii) yaitu :
Kingdom         : Plantae
Divisio             : Angiospermae
Class                : Dicotylodinae
Filum               : Chordata
Family             : Pinaceae
Genus              : Pinus
Spesies            : Pinus merkusii
(Hidayat, 2001).

Syarat Tumbuh
Satu-satunya pinus yang sebaran alaminya sampai di selatan katulistiwa. Di Asia Tenggara menyebar di Burma, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Indonesia (Sumatra), dan Filipina (P. Luzon dan Mindoro). Tersebar 23OLU-2OLS. Di Pulau Hainan (China) diperkirakan hasil penanaman. Di Jawa dan Sulawesi Selatan (Indonesia) juga merupakan hasil penanaman. Tumbuh pada ketinggian 30 - 1.800 m dpl, pada berbagai tipe tanah dan iklim. Curah hujan tahunan rata-rata 3.800 mm di Filipina hingga 1.000-1.200 mm di Thailand dan Burma. Di tegakan alam Sumatra (Aceh, Tapanuli dan Kerinci), tidak satu bulanpun curah hujan kurang dari 50 mm, artinya tidak ada bulan kering. Suhu tahunan rata-rata 19-28o
Pada mulanya penanaman pinus di lahan-lahan hutan khususnya jenis Pinus merkusii Jung et. de. vries, bertujuan untuk mempercepat reboisasi dan rehabilitasi lahan-lahan kosong dalam kawasan hutan. Pinus merkusii merupakan jenis pionir yang mampu bertahan hidup dan pertumbuhannya sangat cepat (fast growing spesies) serta mampu tumbuh pada kondisi yang sangat sulit. Pohon pinus dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian tempat 200 – 2000 meter diatas permukaan laut (m dpl) dengan persyaratan tidak terlalu sulit. Walaupun demikian agar dapat tumbuh dengan baik dibutuhkan ketinggian tempat di atas 400 m dpl, dengan curah hujan 1500 – 4000 mm/th

Iklim
Iklim, tanah, dan bentuk bentang lahan di setiap daerah adalah khas. Hutan tusam (pinus) terbentuk karena kebakaran hutan yang luas pernah terjadi dan hanya tusam jenis pohon yang bertahan hidup. Hutan daun jarum ini  umumnya terdapat di daerah beriklim dingin

Tanah
            Pinus (Pinus merkusii) dapat tumbuh di tanah yang kurang subur, tanah berpasir, dan tanah berbatu dengan curah hujan tipe A-C pada ketinggian 200-1700 mdpl. Di hutan alam masih banyak ditemukan pohon besar berukuran tinggi 70 m dengan diameter 170 cm

Biologi Hama
Hama adalah hewan yang merusak tanaman (akar, batang, daun, bunga dan buah) sehingga akibat kerusakan tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik sehingga hasilnya rendah. Penyakit adalah berupa jamur/bakteri/virus/nematoda yang merusak tanaman (akar, batang, daun, bunga dan buah) sehingga akibat kerusakan tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, sehingga hasilnya rendah. Beda antara hama dengan penyakit adalah tampak serangan oleh hama menyebabkan kerusakan kehilangan sebagian dari bagian tanaman sedangkan gejala penyakit adalah sistemik sehingga fungsi fisiologi tanaman menjadi terganggu biasanya ditunjukkan adanya perubahan bentuk dan/atau warna tanaman. Hama dan penyakit perlu diberantas/dikendalikan agar tidak merugikan tanaman secara ekonomis              
1. Belalang (Valanga nigricornis)
            Adapun pembagian taksonomi dari belalang (Valanga nigricornis) yaitu :
Kingdom         : Animalia
Divisio             : Atrhropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Orthoptera
Family             : Accrididae
Genus              : Valanga
Spesies            : Valangan nigricornis


2. Walang Sembah (Stagmamantis carolina)
            Adapun pembagian taksonomi dari walang sangit (Stagmamantis carolina)
 yaitu :
Kingdom         : Animalia
Divisio             : Atrhropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Orthoptera
Family             : Mantidae
Genus              : Stagmamantis
Spesies            : Stagmamantis carolina
3. Belalang pedang (Sexava nubila)
            Adapun pembagian taksonomi dari belalang pedang (Sexava nubila) yaitu:
Kingdom         : Animalia
Divisio             : Atrhropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Orthoptera
Family             : Tetigonidae
Genus              : Sexava
Spesies            : Sexava nubila
4. Kupu-kupu (Ypthyma huebner)
            Adapun pembagian taksonomi dari kupu-kupu (Ypthyma huebner) yaitu:
Kingdom         : Animalia
Divisio             : Atrhropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Family             : Satyridae
Genus              : Ypthyma
Spesies            : Ypthyma huebner
5. Ngengat (Plume sp Moth)
            Adapun pembagian taksonomi dari ngengat (Plume sp Moth) yaitu:
Kingdom         : Animalia
Divisio             : Atrhropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Family             : Saturnidae
Genus              : Plume
Spesies            : Plume sp Moth
6. Ulat api (Ataccus sp)
            Adapun pembagian taksonomi dari ulat api (Ataccus sp)  yaitu:
Kingdom         : Animalia
Divisio             : Atrhropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Lepidoptera
Family             : Saturnidae
Genus              : Attaccus
Spesies            : Attacus sp


7. Kutu daun (Bemisia tabaci Genn)
            Adapun pembagian taksonomi dari kutu daun (Bemisia tabaci Genn)  yaitu:
Kingdom         : Animalia
Divisio             : Atrhropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Hemiptera
Family             : Tingidae
Genus              : Bemisia
Spesies            : Bemisia tabaci Genn
8. Jangkrik (Gryllus mirtatus)
            Adapun pembagian taksonomi dari jangkrik (Gryllus mirtatus) yaitu:
Kingdom         : Animalia
Divisio             : Atrhropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Orthoptera
Family             : Gryllidae
Genus              : Gryllus
Spesies            : Gryllus mirtatus
9. Kumbang (Xyloborus citratus)
            Adapun pembagian taksonomi dari kumbang (Xyloborus citratus) yaitu:
Kingdom         : Animalia
Divisio             : Atrhropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Coleoptera
Family             : Curculionidae
Genus              : Xyloborus
Spesies            : Xyloborus citratus
10. Kepik (Diconocoris sp)
            Adapun pembagian taksonomi dari kumbang kepik (Diconocoris sp) yaitu:
Kingdom         : Animalia
Divisio             : Atrhropoda
Class                : Insecta
Ordo                : Hemiptera
Genus              : Diconocoris
Spesies            : Diconocoris sp
(Wikipedia Indonesia, 2003)

Gejala Serangan
1. Belalang (Valanga nigricornis)
Pinggiran daun rusak dengan luka bergerigi tak beraturan. Untuk jenis belalang berukuran kecil, perlu pengamatan cermat. Daun di hutan yang dimakan oleh serangga ini terlihat jelas. Daunnya terkoyak-koyak, jika sudah dalam tahap serangga berat, yang tersisa tinggal tulang daunnya saja
2. Walang Sembah (Stagmamantis carolina)
            Belalang sembah merupakan predator dari serangga lain dan bahkan belalang sembah juga memangsa jantannya setelah melakukan perkawinan. Belalang sembah mencekram, menjapit, memangsa dan kemudian memakannya sampai habis.
3. Belalang pedang (Sexava nubila)
            Serangga ini memakan daun-daunan, tepi daun dimakan sampai berbentuk gerigi. Umumnya terjadi pada daun yang masih muda. Kadang-kadang merusak tanaman bunga/buah yang masih muda.
4. Kupu-kupu (Ypthyma huebner)
            Larva serangga ini menjadi fase yang merugikan. Larva dapat menyebabkan gagal panen karena memakan bagian daun. Hal ini mengakibatkan proses fotosintesis terganggu dan panen gagal.
5. Ngengat (Plume sp Moth)
            Larva menjadi fase yang merugikan karena dapat menyebabkan gagal panen dengan memakan bagian daun tanaman.
6. Ulat api (Ataccus sp)
            Pada jenis ini yang menjadi haa adalah fase ulat. Ciri daun yang diserang adanya bekas gigitan yang banyak pada pinggiran daun maupun di bagian tulang daun.
7. Kutu daun (Bemisia tabaci Genn)
            Serangga ini memakan daun sehingga sampai ke tulang daun, yang menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan proses fotosintesis lagi.
8. Jangkrik (Gryllus mirtatus)
            Serangga ini merusak daun tumbuhan dan memakannya sehingga daun tumbuhan menjadi rusak. Jangkrik juga merusak perakaran tanaman, memotong akar dan kadangkala memakannya. Jangkrik membuat saluran dari bawah pohon sampai seluruh perakaran tumbuhan.
9. Kumbang (Xyloborus citratus)
            Sebelum bertelur induk akan menggali tanah/jaringan tanaman dengan moncongnya. Larva tidak begitu aktif merusak akar, jaringan tanaman, pucuk, tunas, dan biji-bijian. Beberapa di sekitar biji yang dirusak oleh kumbang. Umumnya merusak biji-bijian pada tanaman muda.
10. Kepik (Diconocoris sp)
Serangga ini merusak tanaman dengan cara menghisap buah pada tanaman yang masih muda, sampai membuat tanaman kecil sekali menghasilkan buah kembali.
           
Pegendalian
Pencegahan harus dilakukan melalui penggunaan pestisida alami yang tidak meninggalkan residu berbahaya dan ramah lingkungan (friendly environment), penggunaan musuh alami hama (predator dan parasitoid), bio-pestisida, rotasi tanaman dan menanam tanaman kawan (companion plant). Sedangkan beberapa jenis pestisida organik yang berfungsi sebagai pengendali hama/penyakit antara lain : pestisida nabati (pesnab), agen hayati yang berfungsi sebagai predator atau musuh alami bagi hama-hama atau penyakit jenis tertentu (bio-pestisida), dan bahan-bahan lain yang berfungsi sebagai penarik atau penolak kehadiran serangga/repellent (Samsudin, 2008).
Pada belalang pengendaliannya segera semprotkan insektisida yang bersifat racun kontak/yang sistematik; bila jumlahnya sedikit bisa langsung dimusnahkan/dibunuh. Kutu. pengendaliannya perendaman dapat mengusir kutu babi dari pot anggrek. Kumbang, pengendaliannya dilakukan dengan menyemprotkan tanaman yang diserang dengan menggunakan insektisida sistemik secara rutin; bersihkan pot dari kepompong dan telur kumbang dengan jalan memindahkannya ke pot baru dan media tanam yang baru pula. Ulat daun, pengendaliannya kalau jumlahnya sedikit (2–5 ekor) dapat dibunuh dengan tangan; bila banyak dapat menggunakan insektisida sistemik; tanaman yang telah diserang sebaiknya dipisahkan dengan tanaman yang masih sehat. Kepik, pengendaliannya semprotkan insektisida yang sama seperti untuk membasmi serangga lainnya, seperti ulat, kumbang dan trips

2 komentar:

  1. artikelnya bermanfaat sekali, kebetulan saya sedang ada tugas tentang taksonomi tanaman pinus !
    saya ucapkan terimakasih,..

    BalasHapus

Bila teman suka dengan tulisan di atas
saya berharap teman-teman menuliskan komentarnya
tapi tolong komentar yang sopannya
mari kita jaga sopan santun di dunia maya ini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...