Tampilkan postingan dengan label informasi kehutanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label informasi kehutanan. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 05, 2019

Kisah Iman, Badak Sumatera terakhir di Malaysia

Iman merupakan badak sumatera liar terakhir yang ditemukan di Malaysia, tepatnya di Lembah Danum. Badak betina itu sudah terdeteksi mengidap tumor saat ditangkap dan dipindahkan dari Lembah Danum ke suaka badak BORA (Borneo Rhino Alliance), Maret 2014.

Iman dalam Kenangan Fota: BORA
Iman, badak sumatera di Borneo Rhino Alliance [BORA], Sabah, Malaysia, mati pada Sabtu [23/11/2019] pukul 17.35 waktu setempat.

Kehadiran Iman yang ditemukan para ahli di pedalaman hutan Sabah saat itu, sempat membawa harapan baru bagi upaya konservasi. Para ahli meyakini, Iman adalah betina yang subur dan berpotensi memiliki keturunan. Ia dibawa ke suaka badak BORA untuk dikawinkan dengan Tam, badak jantan yang sudah lebih dulu menghuni BORA. Tam mati pada 27 Mei 2019, karena faktor usia [30 tahun]

Upaya pembuahan in-vitro antara Iman dengan Tam, belum membuahkan hasil karena kualitas sel sperma yang dimiliki Tam tidak begitu bagus. Meski Iman nyatanya menderita tumor ganas, ia merupakan badak paling aktif dan bersemangat di antara dua badak lain yang sudah lebih dahulu menghuni BORA.

Kertam, badak sumatera di BORA [Borneo Rhino Alliance], Taman Nasional Tabin, Sabah, Malaysia, mati pada 27 Mei 2019. Foto: BORA

Iman juga menjadi spesies badak sumatera terakhir yang hidup di Malaysia. Kematian badak berusia 25 tahun itu menjadi pukulan berat di tengah berbagai upaya luar biasa penyelamatan spesies paling terancam di dunia itu.

Para ahli sepakat, saat ini tidak lebih 80 individu badak sumatera [Dicerorhinus sumatrensis] tersisa di Bumi. Keberlangsungan hidupnya yang kritis, kini hanya menyisakan harapan di tiga bentang alam di Pulau Sumatera dan satu wilayah di luar kawasan konservasi di Kalimantan Timur.

Badak sumatera di Pulau Sumatera hanya ada di Taman Nasional Gunung Leuser [TNGL], Taman Nasional Bukit Barisan Selatan [TNBBS], dan Taman Nasional Way Kambas [TNWK]. Untuk di kawasan Kerinci Seblat, sudah tidak ditemukan atau dilaporkan kembali keberadaannya sejak 2011. Sementara di Kutai Barat, Kalimantan Timur, diperkirakan tersisa beberapa individu.

Di hutan Sumatera, saat ini yang sangat mengkhawatirkan adalah badak yang berada di luar kawasan TNGL. Mereka diperkirakan hidup terpencar dengan jumlah sedikit. Di TNBBS, sejak 2012 WWF-Indonesia telah memasang kamera jebak. Pada 2015, hasilnya hanya ditemukan 2 individu.

Sedangkan temuan tim Rhino Protection Unit di TNBBS dari berbagai ukuran jejak dan lokasi yang berbeda dan berjauhan, di diprediksi populasinya sekitar 17-24 individu. Berdasarkan lokakarya Population Viability Analisis pada 2015, badak sumatera yang ada di TNWK diperkirakan 31-36 individu, ditambah satu anakan yang lahir di alam pada Agustus 2016.

Dikutip dari https://www.mongabay.co.id/2019/11/25/punah-badak-sumatera-di-malaysia-menyisakan-cerita/

Senin, November 11, 2019

Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)

Orangutan tapanuli, sebelum diumumkan sebagai jenis baru, sejatinya sudah dikenal masyarakat setempat dan juga para peneliti orangutan di Sumatera. Tidak ada yang menyangka bila spesies yang telah dipublikasikan lebih seabad ini merupakan jenis berbeda dari dua jenis orangutan yang ada.

Orangutan tapanuli menjadi jenis ke tiga yang hidup di Indonesia, selain orangutan sumatera [Pongo abelii] dan orangutan kalimantan [Pongo pygmaeus].

Orangutan tapanuli [Pongo tapanuliensis], yang hidup di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, resmi dinobatkan sebagai jenis baru, November 2017. Hasil penelitian Alexander Nater et al, berjudul “Morphometric, Behavioral, and Genomic Evidence for a New Orangutan Species” yang dipublikasikan di Jurnal Current Biology menasbihkan temuan yang diteliti sejak 1997 tersebut.

Berdasarkan habitat potensial orangutan tapanuli tersisa, diperkirakan sekitar 34% berupa hutan primer, 52% hutan sekunder, dan 14% merupakan tutupan lahan lain.

Orangutan tapanuli hidup pada habitat sangat terbatas, dalam areal sekitar 132 ribu hektar di bentang alam Batang Toru dan beberapa habitat lain yang terus diteliti. Kondisi habitatnya juga terpisah, karena faktor alam maupun akibat pembangunan wilayah.

Sementara dari sisi fungsi kawasan, sekitar 7 % habitat orangutan tapanuli berada di cagar alam yang wilayah pengelolaan dibawah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam [BBKSDA] Provinsi Sumatera Utara. Berikutnya, 64% berada di hutan lindung dan 4% di hutan produksi yang pengelolaannya berada di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah X Padangsidimpuan dan Wilayah XI Pandan. Sisanya, 25% di areal penggunaan lain yang dikelola pemerintah daerah kabupaten dan masyarakat.

Pemerintah Indonesia dalam Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi [SRAK] Orangutan 2019- 2029, menggunakan angka 577-760 individu, di habitat seluas 1.051,32 kilometer persegi yang tersebar pada dua metapopulasi. Lokasi itu adalah Batang Toru Barat dan Batang Toru Timur [Sarulla Timur].

Dugaan angka populasi orangutan tapanuli masih ada perbedaan. Penelitian Nater et al, 2017 menyatakan kisaran 800 individu, sementara Kuswanda [2018] memprediksi antara 495-577 individu.

Orangutan tapanuli awalnya diduga sebagai populasi orangutan paling selatan dari spesies orangutan sumatera [Singleton et al. 2004]. Studi genetik lebih lanjut yang dilakukan menunjukkan adanya perbedaan mendasar dengan orangutan yang berada di utara Danau Toba, sehingga dapat dinyatakan sebagai sub-spesies baru untuk spesies orangutan sumatera atau Pongo abelii tapanuliensis [Rianti 2015].

Namun, berdasarkan penelitian lebih mendalam, secara taksonomi, orangutan tapanuli lebih dekat dengan orangutan kalimantan. Dengan begitu, populasi orangutan sumatera di Batang Toru dinyatakan sebagai spesies baru bernama Pongo tapanuliensis [Nater et al. 2017].

Berdasarkan studi filogenetik menggunakan analisis komponen utama dan model genetik populasi, pada sampel genetik 37 orangutan liar dan analisis morfologi kerangka 34 jantan dewasa orangutan sumatera dan orangutan kalimantan, hasilnya menunjukkan bahwa populasi orangutan di Batang Toru memang merupakan spesies berbeda.

Orangutan tapanuli berdasarkan gen mitokondria diperkirakan telah terpisah dengan garis keturunan orangutan sumatera dan orangutan kalimantan sejak 3,5 juta tahun silam.

Isolasi terjadi setelah terjadinya erupsi Danau Toba yang mengakibatkan kekhususan mutasi gen dan peningkatan alel orangutan tapanuli.

Berdasarkan data mikrosatelit autosomal, keanekaragaman alel [gen yang memiliki lokus [posisi pada kromosom] yang sama, genom DNA mikondria, dan mitokondria HVR-I menunjukkan bahwa orangutan tapanuli merupakan spesies orangutan paling terisolasi di Sumatera.

Hal ini menunjukkan bahwa populasi orangutan di Batang Toru berbeda dengan populasi orangutan yang ada di Sumatera keseluruhan dan Kalimantan.

Berdasarkan DNA mitokondria, orangutan betina di Batang Toru memiliki kekerabatan lebih dekat dengan orangutan kalimantan dibandingkan orangutan sumatera.

Rambut orangutan dapat digunakan sebagai pembeda. Secara umum, orangutan tapanuli lebih mirip dengan orangutan sumatera dalam hal bentuk tubuh, warna, dan banyaknya rambut.

Orangutan tapanuli memiliki rambut lebih panjang dan lebat sehingga bagian ujung rambut cenderung keriting. Umumnya, betina dan jantan dewasa memiliki rambut yang tumbuh mulai dari atas bibir sampai dagu. Sementara, kepala orangutan tapanuli lebih kecil dan bentuk wajahnya lebih rata.

Pohon yang dijadikan sarang orangutan tapanuli di Batang Toru diperkirakan sebanyak 91 jenis, terdiri 27 famili. Fagaceae banyak dipilih karena pohon relatif kuat yang mampu menopang tubuh orangutan, serta memiliki percabangan horizontal rapat dengan daun tidak berbulu dan bergetah. Daunnya tidak terlalu besar dan lembut.

Namun, ketika pepohonan dari Famili Fagaceae berbuah, orangutan tapanuli justru tidak menggunakannya sebagai sarang. Alasannya, menghindari perjumpaan dan persaingan dengan satwa lain yang juga ingin memanfaatkan pohon tersebut. Rata-rata tinggi pohon yang digunakan untuk bersarang sekitar 16 meter lebih.

Keunikan lain orangutan tapanuli adalah satu-satunya populasi orangutan di hutan dataran rendah tanah kering yang menggunakan alat pada buah cemengang [Neesia sp.] yang sebelumnya hanya ditemukan pada orangutan di hutan rawa [van Schaik 2009].

Sebagai flagship species berstatus Kritis [Critically Endangered] berdasarkan IUCN Red List, orangutan tapanuli bisa dijadikan simbol peningkatan kesadaran konservasi, sekaligus penyelamatan ekosistem hutan dan pembangunan berkelanjutan.


Pemerintah Indonesia telah menetapkan orangutan tapanuli sebagai spesies dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No.P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Melalui SK No.308/MENLHK/KSDAE/ KSA.2/4/2019 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia Tahun 2019-2029 yang diluncurkan 12 Agustus 2019, Pemerintah Indonesia juga telah menerbitkan rencana aksi pelestarian orangutan tapanuli sebagai target prioritas nasional.

Sumber https://www.mongabay.co.id/2019/10/29/orangutan-tapanuli-dan-7-fakta-uniknya/


Rabu, Juli 03, 2019

HEARTLEAF ICEPLANT (Aptenia cordifolia)

Sinonim
Mesembryanthemum cordifolium L. f.

Nama Umum
Inggris: heartleaf iceplant

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Hamamelidae
Ordo: Caryophyllales
Famili: Aizoaceae
Genus: Aptenia
Spesies: Aptenia cordifolia (L. f.) Schwant.

sumber
http://plantamor.com/species/info/aptenia/cordifolia

Minggu, Juni 30, 2019

BANGUN-BANGUN (Plectranthus amboinicus)

Sinonim
Coleus amboinicus Lour.

Nama Umum
Indonesia: bangun-bangun, daun kucing, daun kambing;
Vietnam: tan day la;
China: zuo shou xiang, yin du bo he, dao shou xiang;
Jepang: kuuban oregano;
Inggris: country borage, indian mint, mexican mint

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Asteridae
Ordo: Lamiales
Famili: Lamiaceae
Genus: Plectranthus
Spesies: Plectranthus amboinicus (Lour.) Spreng.

sumber
http://plantamor.com/species/info/plectranthus/amboinicus

Senin, Juni 17, 2019

RANDU (Ceiba pentandra)

Sinonim
Bombax pentandrum L.
Eriodendron anfractuosum DC.

Nama Umum
Indonesia: randu, kapuk randu;
Filipina: buboi;
Thailand: nun;
Inggris: kapok

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Viridiplantae
Superdivisi: Embryophyta
Divisi: Tracheophyta
Subdivisi: Spermatophytina
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Dilleniidae
Ordo: Malvales
Famili: Bombacaceae
Genus: Ceiba
Spesies: Ceiba pentandra (L.) Gaertn.

sumber
http://plantamor.com/species/info/ceiba/pentandra

Kamis, Juni 06, 2019

Kementerian Lingkungan Rilis Peta Indikatif Hutan Adat dan Ubah Aturan

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan meluncurkan peta indikatif hutan adat tahap I yang disebutkan berasal dari usulan-usulan berbagai pihak dan telah mendapatkan pengakuan dari pemerintah daerah.

Pada 29 April 2019, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerbitkan Keputusan Menteri LHK Nomor SK.312 tahun 2019 tentang Peta Hutan Adat dan Wilayah Indikatif Hutan Adat Fase I.

Surat ini menetapkan peta hutan adat dan wilayah indikatif hutan adat tahap pertama seluas 472.981 hektar. Ia terdiri dari peta indikatif hutan adat 453.831 hektar (hutan negara seluas 384.896 hektar dan areal penggunaan lain 68.935 hektar) serta penetapan SK hutan adat seluas 19.150 hektar.

“Dengan penetapan peta hutan adat dan wilayah indikatif hutan adat fase I memastikan jaminan usulan-usulan di daerah yang memiliki subyek dan obyek masyrakat adat dapat ditetapkan atau dicantumkan hutan adat di masa yang akan datang,” kata Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam peluncuran acara itu, di Jakarta, (27/5/19).

Siti mengatakan, langkah ini untuk penyelesaian konflik-konflik yang terjadi dan mengurangi tumpang tindih peruntukan lahan. ”Peta indikatif ini mem-block interest-interest lain yang hendak masuk yang jadi sumber konflik. Kombinasi cara ini bekerja untuk mengurangi konflik.”

Prosesnya, katanya, melalui verifikasi subyek dan obyek pada tingkat lapangan dan fasilitasi percepatan penerbitan peraturan daerah. Dia berharap, proses penetapan ini terus berlangsung berkelanjutan dan tak melebihi fase-10.

”(Penetapan peta indikatif ini) beban sekaligus jadi bekal untuk selesaikan pekerjaan rumah,” katanya.

Adapun, luasan peta indikatif ini tersebar di lima region, yakni, 64.851,17 hektar (Sumatera), 14.818,49 (Jawa, Bali, Nusa Tenggara), 54.978,98 (Kalimantan), 261.323,01 (Sulawesi) dan 77.009,57 (Maluku dan Papua). Angka ini, katanya, akan bertambah seiring proses identifikasi, verifikasi dan validasi terhadap areal hutan adat lain.

Peta ini akan jadi rujukan bagi pemegang kebijakan lintas direktorat di KLHK sebelum mengeluarkan izin. Langkah ini, katanya, akan dikomunikasikan kepada lintas kementerian.

Peta usulan hutan adat?

Berdasarkan data KLHK, terdapat usulan hutan adat seluas 9,3 juta hektar dari para pihak dan telah dianilisis dengan peta kawasan hutan, seluas 6.551.305 hektar berada dalam kawasan hutan. Dari luasan itu, 2.890.492 hektar tak memiliki produk hukum dan 3.660.813 hektar ada produk hukum.

Bambang Supriyanto, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, KLHK mengatakan, produk hukum masyarakat adat terbagi dalam empat kluster, yakni, 6.495 hektar punya perda pengakuan masyarakat adat, 185.622 hektar memiliki perda pengaturan dan surat keputusan pengakuan. Lalu, 226.896 hektar SK pengakuan masyarakat adat, 3.067.819 hektar perda pengaturan, dan 274.771 hektar produk hukum lain.

”Terkait produk hukum lain ini yang jadi pekerjaan rumah. Misal, perda hutan adat Banten di Lebak, ada aturan namun wilayah adat belum ditetapkan oleh SK Bupati,” katanya.

Berdasarkan fungsi kawasan, kata Bambang, wilayah adat di hutan produksi paling banyak 171.233,24 hektar, diikuti hutan lindung 126,344.07, hutan konservasi 97,604,59 dan APL 77.799,33 hektar.

Penyerahan SK pengakuan dan pencantuman hutan adat pertama kali oleh Presiden Joko Widodo 30 Desember 2016. Ia jadi momentum kali pertama selama Indonesia ada, pemerintah memberikan pengakuan resmi tentang masyarakat dan hutan adat sebagai pengenjawantahan UUD 1945 Pasal 18B.

Sejak 2016-2018, pengakuan hutan adat sudah 33 komunitas seluas 17.323 hektar. Sampai 27 Mei 2019, bertambah jadi 49 seluas 22.193 hektar dan pencadangan hutan adat 5.172 hektar– hutan adat Pandumaan Sipituhuta di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.


Baca Lengkapnya
https://www.mongabay.co.id/2019/05/29/kementerian-lingkungan-rilis-peta-indikatif-hutan-adat-dan-ubah-aturan/

Minggu, April 21, 2019

DURIAN (Durio zibethinus)

Nama Umum
Indonesia: durian, duren, kadu [Snd];
Malaysia: durian;
Filipina: durian;
Thailand: thurian;
China: liu lian;
Inggris: durian

Klasifikasi
Kingdom:      Plantae
Subkingdom: Viridiplantae
Superdivisi:    Embryophyta
Divisi:           Tracheophyta
Subdivisi:      Spermatophytina
Kelas:           Magnoliopsida
Subkelas:      Dilleniidae
Ordo:           Malvales
Famili:        Bombacaceae
Genus:        Durio
Spesies:     Durio zibethinus Murray

sumber http://plantamor.com/species/info/durio/zibethinus

Selasa, April 16, 2019

Kecombrang yang Menggairahkan Kelompok Perempuan Peduli Situs Warisan Dunia

Kecombrang, Anda pernah mendengarnya?

Tumbuhan bernama latin Etlingera elatior ini merupakan spesies dari famili Zingiberaceae yang tersebar luas di Indonesia. Sebutan lokalnya beragam, seperti unji, honje, cekala, patikala, bongkot, sambuang dan kencong. Umumnya, kecombrang tumbuh di pinggiran hutan primer dan sekunder pada dataran rendah yang teduh.

Apa yang menarik dari tumbuhan ini? Selain bunga, buah, batang, daun, hingga rimpangnya dapat dimanfaatkan sebagai rempah-rempah, obat tradisional beserta keperluan lainnya.

Beragam manfaat inilah yang mendorong kelompok perempuan peduli lingkungan untuk memanfaatkan kecombrang.

“Kami ingin mengolah kecombrang yang tumbuh di kawasan TNKS [Taman Nasional Kerinci Seblat] untuk kesejahteraan, kesehatan perempuan, dan tentunya turut melestarikan taman nasional. Dengan akses pemanfaatan yang kami miliki, kami ingin mewujudkan keinginan tersebut,” ujar Rita Wati, Ketua Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan [KPPL] Maju Bersama, Desa Pal VIII, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, belum lama ini.

KPPL Maju Bersama dan Balai Besar TNKS telah menandatangani kerja sama kemitraan konservasi berikut rencana pelaksanaan program dan rencana kerja tahunan. Atas dasar perjanjian itu, KPPL memiliki hak akses memanen kecombrang liar dan membudidayakannya di zona tradisional taman nasional seluas 10 hektar. Selain tentunya, ikut serta memulihkan ekosistem TNKS dan sekitar.

Inovasi
Selama ini masyarakat di Desa Pal VIII dan Bengkulu keseluruhan, memanfaatkan kecombrang sebagai sambal, gulai, atau lauk makan. Dengan akses yang diperoleh itu, KPPL akan mengolah kecombrang menjadi makanan dan minuman kemasan. “Bukan hanya untuk kesejahteraan anggota, keuntungan juga akan digunakan untuk pelestarian TNKS yang merupakan situs warisan dunia. Semisal, sosialisasi, penghijauan dan lainnya,” ujar Rita.

Dari sejumlah literatur yang dibaca Rita, kecombrang dijelaskan memiliki beragam manfaat kesehatan, seperti antioksidan, antihipertensi, dan antikanker. “Dengan memproduksi minuman dan makanan olahan, kami berharap bisa membantu perempuan menjaga kesehatan, terlebih mencegah kanker payudara dan serviks,” terang Rita.

Inisiatif KPPL berinovasi mengolah kecombrang direspon positif oleh Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Sekretaris Jurusan Teknologi Pertanian Fakulas Pertanian Universitas Bengkulu, Yessy Rosalina, mengatakan kerja sama dengan kelompok perempuan ini terkait pengembangan produk. Fokusnya pada pengawasan proses, perbaikan formula, dan kemasan produk. “Harapan kami, produk KPPL Maju Bersama bisa diterima pasar dengan daya saing yang baik,” kata Yessy.

Hak perempuan
Kepala Balai Besar TNKS Tamen Sitorus mengungkapkan, KPPL Maju Bersama merupakan kelompok perempuan pertama di Indonesia yang menjadi mitra unit pengelola konservasi, dari 47 balai besar dan balai taman nasional.

“Di Indonesia, ada [perempuan], namun belum menamakan dirinya kelompok perempuan peduli lingkungan karena masih bergabung dengan laki-laki,” katanya.   

Tamen melanjutkan, pengelola kawasan konservasi didorong untuk memposisikan perempuan di garis terdepan. Karena, perempuan setiap hari berhubungan dengan sumber daya genetik, sumber daya hutan dan kehutanan. Mereka sehari-harinya berhubungan dengan material seperti kecombrang dan yang bersumber dari hutan.

“Perempuan di depan juga dilandasi fakta, perempuan lebih efektif mempengaruhi keluarga dan komunitas tentang arti penting melestarikan kawasan konservasi serta satwa liar dilindungi,” terangnya.

Selaku kelompok perempuan pertama mitra konservasi, Rita menambahkan, posisi ini sebagai motivasi sekaligus tantangan. Kami harus bisa membuktikan, ketika perempuan memperoleh akses pemanfaatan, kehidupan perempuan akan menjadi lebih baik dan lebih peduli terhadap upaya pelestarian TNKS.

“Banyak pihak awalnya meragukan kami dan menganggap tidak mungkin. Kedepan, kami ingin mendapat dukungan berbagai pihak,” jelasnya.

Kesehatan
Sejumlah literatur telah mengulas manfaat positif kecombrang. Wijekoon et al. [2011] menuliskan, “Laporan-laporan yang ada menunjukan, bunga kecombrang memperlihatkan aktivitas antioksidan, antikanker dan antimikrobial yang kaya [Habsah et al., 2005; Chan et al., 2007, 2008; Wijekoon et al., 2010; Lachumy et al., 2010].”

Lalu, Lim [2014] menuliskan, “Ekstrak pucuk bunga juga menunjukkan aktivitas yang mempromosikan antitumor [Murakami et al. 2000]… Ekstrak etanol pucuk bunga E. elatior ada sitotoksik terhadap sel kanker serviks [Mackeen et al. 1997].”

Kementerian Kesehatan mengungkapkan [31 Januari 2019], di Indonesia, untuk perempuan, kanker payudara menempati urutan tertinggi sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 perempuan. Berikutnya, kanker leher rahim sekitar 23,4 per 100.000 penduduk, dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 perempuan.

Sebelumnya, Wahidin [2015] menjelaskan, estimasi insiden kanker payudara di Indonesia sebesar 40 per 100.000 perempuan dan kanker leher rahim 17 per 100.000 perempuan. Angka ini meningkat dari 2002, dengan insiden kanker payudara 26 per 100.000 perempuan dan kanker leher rahim 16 per 100.000 perempuan [Globocan/IARC 2012].

dikutip dari
https://www.mongabay.co.id/2019/04/12/kecombrang-yang-menggairahkan-kelompok-perempuan-peduli-situs-warisan-dunia/

Sabtu, April 13, 2019

MARKISAH BESAR (Passiflora quadrangularis)

Nama Umum
Indonesia: markisah besar;
Inggris: giant granadilla


Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Dilleniidae
Ordo: Violales
Famili: Passifloraceae
Genus: Passiflora
Spesies: Passiflora quadrangularis L.

sumber
http://plantamor.com/species/info/passiflora/quadrangularis

Jumat, April 12, 2019

Siamang, Owa Besar Sumatera yang Terlupakan oleh Dunia

Si Kera Penyanyi dan Jagoan Berayun
Susan Lappan, seorang antropolog di Appalachian State University, menjelaskan bahwa “lagu-lagu berirama” biasanya merupakan duet antara pasangan jantan dan betina yang “dijalin bersama menjadi tampilan vokal yang rumit yang dikoordinasikan dengan gerakan akrobatik melalui pohon-pohon.”

Para peneliti percaya bahwa jenis-jenis owa, termasuk siamang, bernyanyi untuk menandai wilayah mereka, membentengi ikatan keluarga, melindungi pohon buah terbaik dan upaya untuk menarik perhatian pasangan, khusus yang terakhir mirip dengan apa yang umum dilakukan oleh manusia juga.

Bakat bawaan jenis owa ‘untuk bersuara secara eksotis’ dengan nada vokal terbentang layaknya seruling Jepang hingga raungan sirene polisi dan kemampuannya akrobatiknya yang luar biasa telah menyebabkan keluarga primata ini dijuluki “kera bernyanyi yang senang berayun bebas”.

Tapi seluruh keahlian yang tersebut tidak membawa siamang, dan spesies owa lain, serta merta menjadi pusat perhatian dunia. Sejak lama mereka telah diabaikan oleh para konservasionis, ilmuwan dan masyarakat global, setidaknya jika dibandingkan dengan kera besar, harimau, gajah dan badak, bahkan saat mereka menghadapi banyak bahaya yang sama seperti mamalia besar Asia lainnya. Padahal saat ini, siamang pun telah terdaftar sebagai satwa terancam punah (endangered) oleh IUCN Red List.

Mayoritas siamang yang tersisa di dunia ditemukan di Sumatera. Meski terdapat populasi lain di daratan Asia, yaitu Semenanjung Malaysia dan Thailand, meski para konservasionis masih memperdebatkan apakah kedua populasi tersebut (yang ada di Sumatera dan daratan Asia) mewakili dua sub spesies yang terpisah.

Bukan hanya siamang, spesies owa yang terancam kepunahan. Dari enam belas jenis owa yang ada dalam daftar IUCN Red List, satu dianggap rentan, sebelas dianggap langka dan empat dalam status kritis punah (critically endangered).

Morfologi siamang
Siamang digambarkan sebagai jenis owa raksasa. Ukuran tubuhnya dapat mencapai satu meter dengan berat 14 kg, dua kali ukuran tubuh dari jenis owa lainnya, meski masih tetap lebih kecil dari ukuran kera besar lain seperti orangutan dan simpanse. Siamang dikelompokkan sebagai owa (gibbons) dari famili Hylobatidae, namun memiliki genus mereka sendiri, yaitu Symphalangus.

Tidak hanya berbeda dalam bentuk ukuran, siamang adalah satu-satunya keluarga owa yang memiliki kantung tenggorokan yang dapat digembungkan, yang disebut gular, mirip dengan yang dimiliki oleh burung frigate, beberapa jenis belibis dan katak. Ketika sampai pada titik maksimalnya, gular dapat lebih besar dari ukuran kepala siamang. Gular berguna untuk memberi dorongan (semacam bag pipe) yang secara signifikan meningkatkan volume kekerasan suaranya.

Bagi Lappan, siamang tidak hanya berbeda secara fisik dari owa kerabatnya, salah satu yang menarik perhatiannya adalah bagaimana siamang mengasuh anak-anak mereka.

“Siamang adalah satu-satunya spesies owa di mana sang jantan sangat terlibat dalam perawatan bayi,” jelasnya. Dia mencatat bahwa siamang jantan turut merawat bayi mereka hingga mencapai usia satu tahun. “Siamang muda umumnya mulai berbagi tempat tidur dengan induk jantannya, bukan dengan ibu mereka, ketika adik mereka lahir, siamang remaja terus berbagi tempat tidur dengan induk jantan hingga mereka berusia 4 hingga 5 tahun.”

Meskipun umumnya berpasangan monogami dan mengasuh anak secara bersama, namun penelitian O’Brien menyebutkan bahwa terdapat pula kelompok siamang yang bersifat poliandri, dimana satu betina memiliki beberapa jantan sebagai pasangannya.

Seperti semua jenis owa lainnya, siamang adalah spesialis akrobat arboreal yang mampu melakukan gerakan yang sulit di puncak-puncak tajuk pohon hutan hujan tropis dengan mudah. Sembari bergerak menyangga tubuhnya, siamang berayun diiringi dengan lagu-lagu mereka.

Dalam peran ekologisnya, siamang memainkan peran penting di hutan tropis sebagai penyebar benih. Mengacu pada penelitian Mohamad Rusmanto, seperti yang disebutkan oleh Lappan, saat buang air besar beberapa biji disebarkan ‘secara utuh dan tidak rusak berjarak ratusan meter dari pohon induknya.’

Dengan demikian, siamang membantu penyebaran biji makanan favoritnya agar jenis-jenis vegatasi itu dapat bereproduksi. Bayangkan, jika siamang punah dari alam, maka agen layanan penyebaran benih tersebut hilang, sesuatu yang akan berdampak pada degradasi hutan secara jangka panjang.

Spesies yang Diabaikan Dunia
Meskipun penting secara ekologi, siamang dan berbagai jenis owa lainnya hanya mendapat perhatian minim dari upaya konservasi dan riset. Ketika bicara tentang satwa liar Sumatera, perhatian akan berkisar pada empat spesies utama: orangutan, gajah, harimau dan badak. Siamang dan dua spesies owa lainnya di pulau ini jarang sekali disebutkan.

Menurut Lappan, pengabaian ini awalnya mungkin berasal dari sikap masyarakat yang lebih intensif memperhatikan spesies yang lebih besar.

“Badak, harimau dan gajah telah akrab dengan masyarakat dunia selama beberapa dekade,” katanya. “Sebelum studi lapangan jangka panjang pertama siamang pada 1970-an, hampir tidak ada yang mengetahui tentang perilaku dan ekologi owa ini.”

Menurut O’Brien hal tersebut mungkin berhubungan dengan cara pandang dunia terhadap jenis-jenis owa yang disebut sebagai “kera kecil”. Menurutnya, penamaan gibbons berasosiasi kepada “jenis kera yang memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dengan sepupu kera besar mereka.” Sayangnya label ini telah membuat satwa ini menjadi kurang karismatik, kurang menarik dan kurang menarik perhatian ketimbang yang disebut sebagai “kera besar” (great apes).

Nasib serupa tampaknya telah menimpa banyak jenis-jenis kucing liar berukuran kecil di dunia, seperti margay (Leopardus wiedii) di Amerika Tengah atau kucing emas afrika, dua spesies yang lama diabaikan oleh konservasionis dan peneliti; bahkan seperti nasib satwa-satwa berukuran kecil lainnya, termasuk jenis-jenis kera kecil, saat ini statusnya telah bergeser dari status aman menjadi terancam.

Gap Konservasi
Sedikit yang diketahui tentang keadaan populasi siamang hari ini. Para ilmuwan sebagian besar berfokus pada riset yang berhubungan dengan perilaku siamang, lagu atau gerak, sementara hanya sedikit studi yang melihat ancaman dan status owa raksasa ini. Di Sumatera misalnya, para konservasionis dapat memberikan perkiraan yang cukup baik berapa jumlah harimau, badak atau gajah yang tersisa, bahkan IUCN sendiri pun tidak memberikan perkiraan kasar dari jumlah total siamang.

“Sebagian besar populasi siamang belum disensus, namun diperkirakan puluhan ribu siamang masih hidup di dalam dan sekitar beberapa taman nasional di Sumatera,” tutur Lappan. Pada tahun 2002, sebuah survei populasi siamang di TN Bukit Barisan Selatan, salah satu kawasan konservasi terbesar di Sumatera bagian selatan, memperkirakan wilayah tersebut adalah tempat bagi sekitar 22 ribu individu spesies ini.

“[Sumatera mungkin harapan terakhir] saat sebagian besar Semenanjung Malaysia saat ini telah gundul. Ada kekhawatiran besar tentang status siamang di Malaysia dan Thailand selatan,” jelas Lappan melanjutkan.

Lembaga konservasi internasional, IUCN bahkan mulai memberi peringatan tentang turunnya jumlah populasi siamang di dunia. “Setidaknya populasi siamang telah berkurang 50 persen selama 40 tahun terakhir (tiga generasi) akibat perburuan, perdagangan satwa peliharaan dan hilangnya habitat tempat hidup.”  Laporan jumlah populasi terakhir dilakukan tujuh tahun terakhir, padahal banyak wilayah yang telah kehilangan kawasan hutannya sejak saat itu.

Mungkin siamang termasuk spesies yang kurang beruntung tinggal di negara yang termasuk dua peringkat terbesar deforestasi tercepat di dunia. Indonesia adalah penggundul hutan terbesar di dunia, melebihi Brasil, sementara Malaysia pun sama saja. Lebih buruk lagi, Sumatera adalah pulau yang paling banyak kehilangan hutan di seluruh Asia. Sumatera telah kehilangan 85 persen hutan dalam 50 tahun terakhir, dan itu terus berlangsung.

Pada tahun 2008, seperti perkiraan IUCN, siamang telah kehilangan 70-80 persen habitat utamanya di Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Satu-satunya kabar baik adalah siamang merupakan jenis satwa yang mudah beradaptasi dari hilangnya habitat dibandingkan dengan berbagai spesies hutan hujan lainnya, termasuk jenis-jenis owa lainnya. Siamang masih mampu hidup di hutan sekunder, yang memiliki kepadatan yang lebih rendah dibandingkan hutan hujan primer. Namun para saintis tidak percaya bahwa siamang dapat tetap bertahan hidup di area monokultur seperti sawit, kopi, HTI akasia yang telah menggantikan secara cepat hutan tempat mereka hidup dalam beberapa dekade terakhir ini.

“Siamang dan jenis owa lainnya hidup di pepohonan dan memerlukan dahan di kanopi pohon untuk bergerak,” jelas O’Brien. “Kalau hutan ditebang, petak yang tersisa menjadi terisolasi dan menjadi terlalu kecil untuk mendukung populasi siamang yang layak.”

Siamang pun menghadapi ancaman tambahan, yaitu perdagangan satwa peliharaan ilegal. Menurut sebuah laporan tahun 2009 tentang perdagangan owa di Sumatera, siamang jarang diperjualbelikan secara terbuka, namun dapat dengan mudah diperoleh di pasar ilegal.

“Para pedagang satwa di pasar dapat mengatur penjualan mamalia besar seperti orangutan, siamang, harimau sumatera, beruang madu dan satwa lainnya jika ada permintaan,” jelas laporan tersebut. Siamang pun menjadi satwa peliharaan populer di kalangan PNS maupun aparat militer baik di Sumatera maupun Jawa, pulau yang tidak memiliki populasi siamang asli.

Di Jawa, siamang adalah jenis primata yang paling umum diperdagangkan. Laporan ini pun mengungkap bahwa banyak kebun binatang di Indonesia dan di Asia yang bergantung pada para pedagang untuk memperoleh siamang mereka. Padahal perburuan dan perdagangan satwa peliharaan umumnya bermodus membunuh ibu satwa dan menculik bayi satwa tersebut.

Di Indonesia, satu organisasi yang bekerja untuk menghentikan perdagangan ilegal owa adalah Kalaweit. Berfokus pada jenis-jenis owa, Kalaweit membantu merehabilitasi jenis kera ini di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Namun sayangnya sebagian besar jenis owa yang mereka selamatkan tidak dapat lagi dikembalikan ke alam liar karena telah terjangkit penyakit yang ditularkan oleh manusia. Namun, owa yang dirawat secara benar, kadang-kadang masih dapat kembali ke rumah hutan mereka.

Sebagai spesies satwa yang sangat terpukul karena deforestasi, perdagangan satwa dan kurangnya perhatian dunia konservasi, kedepannya siamang dapat menjadi kandidat primata Asia Tenggara yang berakhir dengan status critically endangered jika tidak mendapat perhatian serius.

“Siamang adalah mahluk ciptaan yang sangat luar biasa. Saya masih berharap masih diberi kesempatan untuk menghabiskan banyak waktu bersama mereka,” tutur Lappan. 

sumber
https://www.mongabay.co.id/2015/08/09/siamang-owa-besar-sumatera-yang-terlupakan-oleh-dunia/

Rabu, April 10, 2019

Penetapan Hutan Adat Hanya 1% dari Realisasi Perhutanan Sosial

Pemerintahan Presiden Joko Widodo–Jusuf Kalla, mempunya target lumayan tinggi untuk distribusi lahan dan hutan kepada warga, antara lain lewat skema perhutanan sosial dengan target 12,7 juta hektar, belakangan merevisi jadi 4,39 juta hektar sampai 2019. Realisasi hutan adat, termasuk penetapan pada Februari lalu, total baru 28.286,34 hektar alias terkecil atau 1% dari skema perhutanan sosial yang lain.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, per 4 Maret 2019, capaian perhutanan sosial 2.566.708,15 hektar, terdiri dari 1.281.049,18 hektarhutan desa, 645.593,82 hutan kemasyarakatan, 331.993,68 hektar hutan tanaman rakyat, 549.785,13 hektar kemitraan kehutanan dan 28.286,34 hektar hutan adat.

Februari lalu, KLHK menetapkan tujuh hutan adat baru di Banten, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat, seluas 2.182 hektar.

Bambang Supriyanto, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, KLHK mengatakan, dari rencana anggaran 2019, KLHK menargetkan menetapkan atau memverifikasi hutan adat seluas 30.000 hektar.

Selanjutnya, KLHK akan menetapkan, enam lokasi di Jambi, seluas 1.518 hektar hingga total 3.700 hektar dari capaian Februari lalu.

”Angka-angka capaian akan terus bertambah, seiring proses fasilitasi dan verifikasi hutan adat,” katanya, seraya bilang, tahap lanjutan akan menyasar ke Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, Bali, Bengkulu, Sulawesi Tengah dan lokasi lain yang secara prosedur siap ditindaklanjuti.

Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kala penetapan tujuh hutan adat Februari lalu mengatakan, hutan adat untuk perlindungan masyarakat adat dan kearifan lokal hingga tak menghilangkan fungsi sebelumnya, seperti fungsi lindung ataupun konservasi.

”Selain itu, (pemerintah menimbang) kekhususan adat adalah kebersamaan (komunal). Karena itu, hutan adat juga tidak untuk diperjualbelikan dan dipindahtangankan,” katanya.

Muhammad Arman, Direktur Advokasi Kebijakan, Hukum dan HAM Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengatakan, proses pengakuan wilayah adat ini lambat erat kaitan dengan kemauan politik pemerintah masih setengah hati.

Data AMAN, ada 71 produk hukum daerah soal masyarakat adat tetapi pemerintah selalu menuntut usulan wilayah yang sudah memiliki produk hukum itu harus clean and clear atau tak terjadi tumpang tindih lahan.

Dia berharap, RUU masyarakat adat segera sah. “Siapapun presiden nanti, perlu memastikan pengakuan masyarakat adat harus terjadi, bukan kemauan individu atau komunitas, itu perintah konstitusi.”

Hasil kajian sementara, AMAN mencatat dari 9,6 juta hektar wilayah adat yang terpetakan dan terdaftar di pemerintah, ada 313.000 hektar tumpang tindih dengan izin-izin hak guna usaha (HGU), tersebar di 307 komunitas adat.

Arman menyesalkan, KLHK tak juga pencadangan wilayah adat, setelah rapat koordinasi masyarakat adat. ”Bahkan hingga Pokja percepatan perhutanan sosial hingga Desember lalu selesai (2018-red), tidak ada [SK Menteri untuk mengamankan wilayah adat],” katanya.

Selain itu, tak ada keterbukaan informasi publik menjadi penyebab wilayah adat hilang. ”Masyarakat adat tak pernah tahu bagaimana proses wilayah adat jadi kawasan hutan negara atau diberikan kepada izin-izin konsesi. Masyarakat adat baru tahu setelah didatangi alat-alat berat.”

Berdasarkan hasil telaah DItjen PSKL terhadap peta-peta usulan penetapan hutan adat dari berbagai sumber, terdapat areal 369.861 hektar ditetapkan dan disusun dalam peta indikatif lokasi hutan adat (PILHA). Bambang mengatakan, angka itu dari peta usulan dan informasi termasuk hasil Rakor Hutan Adat Januari 2018.

Peta Indikatif Lokasi Hutan Adat per 31 Januari 2019, terdiri dari kawasan hutan negara (300.631 hektar), areal penggunaan lain (51.571 hektar) dan hutan adat yang ditetapkan seluas 34 unit (17.659 hektar).

Sumber
https://www.mongabay.co.id/2019/03/27/penetapan-hutan-adat-hanya-1-dari-realisasi-perhutanan-sosial/

Selasa, April 02, 2019

HANTAP (Sterculia coccinea var. Jack)

Nama Umum
Indonesia: hantap;
Inggris: scarlet sterculia;
Vietnamt: trôm , sang sé, trôm lá mác, trôm thon, che van, chóc móc or tròm thon
Photo by: Lynn Lin

Klasifikasi
Kingdom:  Plantae
Subkingdom:  Tracheobionta
Superdivisi:  Spermatophyta
Divisi:  Magnoliophyta
Kelas:  Magnoliopsida
Subkelas:  Dilleniidae
Ordo:  Malvales
Famili: Sterculiaceae
Genus:  Sterculia
Spesies:  Sterculia coccinea var. Jack Gentry & J.Z. Weber (pro sp.)

sumber http://plantamor.com/species/info/Sterculia/coccinea/Jack

Senin, Maret 25, 2019

Pohon Cengkeh Tertua di dunia

Jauh sebelum Republik Indonesia terbentuk, bumi nusantara sudah dikenal oleh dunia karena keberadaan rempah-rempahnya terutama cengkeh. Tanaman rempah ini amat disukai oleh para pedagang dari Tiongkok , Arab dan bangsa eropa karena kemampuannya untuk mengawetkan makanan yang kala itu merupakan komoditas perdagangan yang paling mahal dan diminati di dunia. Ternate, Maluku Utara adalah sentra-sentra penghasil cengkeh yang cukup terkenal di dunia pada saat itu dan sekarang. 

Siapa sangka di kepulauan ini juga terdapat tanaman cengkeh yang disebut sebagai pohon cengkeh tertua di dunia, yakni cengkeh Afo nenek moyang dari semua tanaman cengkeh yang ada di dunia. Cengkeh Afo dikatakan dapat hidup hingga usia ratusan tahun. Bahkan, pohon cengkeh generasi pertama dari jenis ini bisa hidup hingga usia 400 tahun. Namun, pada tahun 1990-an tanaman ini tak mampu bertahan lebih lama. Ia mati, dimakan usia yang menginjak angka 416 tahun. Pohon cengkeh afo Generasi pertama ini memiliki tinggi 36.60 m, garis tengah 1.98 m, dan lingkaran 4.26 m. Cengkeh Afo merupakan varietas cengkeh yang hasil produksinya cukup besar dan tahan lama.

Walau pohon cengkeh pertama di dunia ini telah mati. Saat ini, kita masih dapat melihat pohon cengkeh afo generasi kedua yang hanya tersisa dua pohon yang masih berdiri tegak dengan umur sekitar 200 tahun dengan kondisinya hampir mati. Letak Lokasi Pohon tersebut berada pada ketinggian 800 m, sekitar 2 km dari Pos Pengamatan Gunungapi Gamalama di Marikrubu ke arah baratlaut. Atau tepatnya kebun Air Tege-Tege Kelurahan Marikurubu, Kecamatan Ternate Tengah, lereng Gunung Gamalama.

Disadur dari 
https://komunitaskretek.or.id/ragam/2017/01/afo-cengkeh-tertua-dan-pertama-di-dunia/
http://www.tribunnews.com/section/2018/10/04/pohon-cengkeh-tertua-di-dunia-ternyata-ada-di-gunung-gamalama-usianya-capai-4-abad?page=1








Kamis, Maret 21, 2019

Panduan Singkat penggunaan GPS Garmin 78s dan 76CSx

Panduan Singkat penggunaan GPS Garmin 78s

Cara memulai
1. Pasang baterai
2. Aktifkan perangkat dengan menekan tombol [Light] yang berwarna merah.
3. Mencari satelit -> Pilih menu satelit di layar utama -> Carilah tempat yang terbuka agar cepat dan mudah menangkap sinyal. Selanjutnya, diamkan untuk beberapa saat untuk mencapai akurasi maksimum satelit ( antara 3m s/d 1m ).

Pengaturan GPS Garmin 78s
1. Pilihlah [Setup] atau Pengaturan di layar utama.
2. Selanjutnya akan muncul menu lainnya dari pengaturan.
   a. Sistem > GPS (Normal) > Bahasa (Indonesia) > Tipe Baterai (Lithium / Alkaline / NiMH) > Interface (Garmi Serial).
   b. Tampilan > Waktu Kecerahan Layar (sesuaikan sendiri) > Battery Save (On/off) > Warna / Colors (Sesuaikan sendiri).
   c. Jejak > Log jejak (Do not Record /  Tidak merekam) > Metode rekam (Otomatis) > Interval (Normal) > Simpan otomatis / Auto archive (Ketika penuh / When full) > Colors (Sesuaikan sendiri)
   d. Satuan > Jarak / Kecepatan (Metrix) > Ketinggian (meter, m/s) > Kedalaman (meter) > Suhu (Celcius) > Tekanan (Milimeter Hg - Sesuaikan sendiri)
   e. Waktu > Format waktu (24 jam) > Zona Waktu (Hongkong / sesuaikan menurut zona lokasi) > Hemat siang hari (tidak)
   f. format posisi > Format posisi (UTM UPS / disesuaikan menurut pekerjaan) > Datum peta (WGS 83)

Cara Membuat Titik
1. Tekan tombol ENTER untuk membuat tanda / mark 'tekan agak lama'
2. Jika sudah muncul tampilan, pilih SELESAI maka secara otomatis titik tersebut sudah tersimpan di 'Peta' dan MENU 'Kelola TItik'. Anda juga bisa edit untuk mengganti nama titik dan simbol yang berada di atas layar.
3. Jika ingin membuat titik lagi sesuai dengan kebutuhan Anda, lakukan langkah 1 dan 2 kembali.

Cara Mengukur Jarak atau Mengukur Titik
1. Tekan tombol PAGE pada perangkat, selanjutnya gulir ke MENU 'Peta' maka akan terlihat semua titik yang telah Anda buat tadi.
2. Letakan kursor pada titik pertama yang akan Anda ukur
3. Selanjutnya pilih tombol MENU pada perangkat
4. Setelah ditekan maka akan menampilkan pilihan, Silahkan ENTER saja "Mengukur Jarak" di pilihan tersebut
5. Tarik kursor ke titik kedua dan tekan, maka akan menampilkan jarak diantara dua titik tersebut.

Cara Mengukur Luas Area
1. Pilih menu "Kalkulasi Area" pada layar utama
2. Untuk keakuratan penghitungan luas area, tetapkan terlebih dahulu patokan utama agar anda dapat berhenti ke tempat yang sama dan juga perbesar tampilan peta hingga mencapai jarak 5m.
3. Pilih MULAI dengan menekan tombol ENTER, kemudian berjalanlah di sekitar area yang ingin di hitung luasnya.
4. Selanjutknya kembalilah ke posisi semula, Kemudian tekan KALKULASI untuk melihat area yang telah lewati.
5. Langkah akhir simpanlah SAVE atau pilih "Ubah Unit" untuk edit luas area menjadi satuan 'Meter persegi' atau 'Hektar'

Cara menghapus Titik atau Jejak yang di Mark
1. Masuklah ke MENU "Kelola Titik" atau "Kelola Jejak"
2. Pilih dan ENTER salah satu titik jejak yang akan di hapus
3. Kemudian tekan tombol "Menu" pada perangkat
4. Pilih / Tekan hapus
5. untuk menghapus semua data dapat mudah dilakukan dengan mengikuti langkah 1, kemudian tekan tombol "Menu", Selanjutnya pilih "Hapus Semua". Atau bisa juga pilih "Pengaturan", kemudian tekan "Reset / Ulang". akan muncul pilihan lain, tekan "Hapus semua Waypoint" atau "Hapus jejak sekarang / Clear Current Track".

Cara Mencari Titik, Jejak, Koordinat atau Lokasi
1. Tekanlah tombol FIND
2. Pilih MENU 'Titik, Jejak. koordinat, Lokasi, dll'
3. Jika sudah, lalu ENTER menu tersebut
4. Pilih "Pergi" untuk menuju ke titik tujuan yang Anda cari
5. Khusus untuk mencari Koordinat, masukan terlebih dahulu data titik koordinat yang sudah ada lalu tekan "Selesai"

Demikian cara setting GPS Garmin 78s

Cara menggunakan GPS Garmin seri 76CSx.
Langkah-langkah menggunakan GPS Garmin Seri 76CSx.
1. Pemasangan Baterai
76CSx dioperasikan dengan 2 baterai jenis AA, yang dipasang dibagian belakang GPS. Untuk memasang baterai, buka bagian tutup baterai dengan memutar kunci D pada bagian belakang GPS seperempat putaran berlawanan arah jarum jam. Masukkan baterai dengan memperhatikan polaritas yang telah ada. Tutup kembali tutup baterai dengan memutar kunci D seperempat putaran searah jarum jam.

2. Langkah Pertama
Sebelum anda dapat benar-benar menggunakan 76CSx untuk navigasi, pertama anda harus menentukan posisi pasti anda saat ini. Untuk melakukan ini, bawalah 76CSx anda keluar ke tempat terbuka yang cukup luas. Tekan dan tahan tombol POWER untuk menyalakan GPS anda akan melihat halaman muka selama beberapa detik sebelum 76CSx melakukan pengujian secara otomatis, diikuti dengan halaman satelit. 76CSx memerlukan sekurang-kurangnya 3 sinyal satelit yang kuat untuk mementukan posisi anda.

3. Lampu Layar Dan Tingkat Kejelasan Gambar
Untuk menyalakan lampu layar, tekan dan kemudian lepaskan tombol POWER pada layar. Lampu layar sudah ditentukan untuk menyala selama 30 detik untuk menghemat tenaga baterai. Untuk menyesuaikan tingkat kejelasan gambar pada layar tekan dan kemudian lepaskan tombol POWER, kemudian tekan tombol DOWN untuk membuat layar lebih gelap, dan tekan tombol UP untuk membuat layar lebih terang.

4. Memilih Halaman
Semua informasi yang dibutuhkan untuk mengoperasikan 76CSx dapat ditemukan dalam enam halaman utama (layar tampilan). Halaman-halaman ini antara lain Satelit, Trip Computer, Peta, Compas, Altimeter dan Main Menu. untuk memilih halaman-halaman tersebut tekan tombol PAGE sampai anda menemukan halaman yang di inginkan.

5. Menentukan Waypoint
Waypoint adalah lokasi dimana anda dapat mengeplot (menyimpan dalam memori) sebagai arah untuk navigasi nantinya. Untuk menentukan waypoint adalah dengan cara :
Ø Tekan tombol ENTER sampai halaman mark waypoint muncul.
Ø Gantilah waypoint name dan waypoint symbol sesuai keinginan anda, dengan cara menekan enter pada waypoint name dan symbol, kemudian gantilah waypoint name dan symbol sesuai keinginan anda.
Ø Setelah  semua selesai pilih OK lalu tekan ENTER.

6. Cara membuat Track
Untuk membuat trek adalah dengan cara sebagai berikut:
Ø Tekan tombol MENU dua kali > pilih Track
Ø Pilih clear (apabila precentage of memori in use belum 0 %) > tekan ENTER. Kemudian akan muncu konfirmasi dan pilih OK
Ø Setelah track menjadi 0% maka, track baru siap digunakan.
Ø Untuk membuat track baru adalah dengan memilih ON > tekan ENTER.
Ø Setelah track selesai maka simpanlah dengan cara memilih SAVE > tekan ENTER.

7. Cara membuat Route
Cara membuat route adalah sebagai berikut:
Ø Tekan MENU dua kali > Routes.
Ø Pilih New>< Pilih Next Point>.
Ø Gunakan Menu Find untuk memilih Route Waypoint dari salah satu dari Find groups.
Ø Pilih  Select next point untuk menambahkan waypoint kedalam Route > waypoint yang akan digunakan yang akan digunakan di Recent Finds / Waypoints / Cities / Geocache / Marine > pilih waypoint yang anda inginkan kemudian ENTER dan pilih Use > tekan ENTER. (dan begitu terus sampai seluruh waypoint yang anda butuhkan semua ada)
Ø Pilih Navigate > tekan ENTER
Ø Pilih Follow Road (jika rute tersebut di buat mengikuti jalan) atau Off Road (jika rute yang di buat tidak mengikuti jalan)

8. Menghitung Luas Area Menggunakan Garmin GPSMap 76csx
GPSMap 76CSx sangat cocok digunakan untuk Anda yang sering mengerjakan pengukuran di lapangan, seperti pengukuran lahan pertanian, pertanahan, pertambangan, dll.
Berikut langkah-langkahnya :
Ø Nyalakan GPS 76CSx Anda dan tunggu sampai sinyal satelit terhubung dengan GPS, jika indikator sinyal satelit sudah muncul dan posisi/koordinat sudah ada berarti GPS sudah siap digunakan.
Ø Secara default fitur/halaman menghitung luas belum ada di GPS Anda, untuk itu halaman harus di setting manual dengan cara :
a.     Tekan tombol MENU 2 kali, akan muncul halaman menu utama, setelah itu pilih SETUP.
b.     Tekan tombol ENTER
c.      Pilih Page Sequence lalu ENTER,  
d.     Muncul halaman tambah halaman, tekan tombol Rocker bawah sampai ke pilihan Add Page lalu ENTER. Pilih Area Calculation dan akhiri dengan tombol ENTER.
Ø Setelah penambahan halaman sudah dilakukan, langkah selanjutnya yaitu tekan tombol PAGE beberapa kali sampai muncul halaman Area Calculation.
Ø Tekan Tombol Start di halaman Area Calculation, setelah Anda ENTER tombol Start berubah menjadi tombol Stop, jika demikian berarti GPS sudah siap digunakan untuk menghitung Luas Area.
Ø Silahkan anda berjalan di area yang akan dihitung luasnya, dari titik A (mulai) sampai kembali ke titik A lagi (akhir).
Ø Setelah mengelilingi area yang diukur, lalu Anda tekan tombol Stop. Dibawah tombol Stop akan muncul hasil dari perhitungan area tersebut.
Ø Dihalaman selanjutnya akan muncul keterangan dari hasil kalkulasi area, seperti :
a.     Name (anda bisa mengganti nama yang Anda inginkan dengan menekan tombol Rocker ke atas sampai ke field Name,
b.     ENTER dan isi nama sesuai yang Anda inginkan), selain informasi Name ada juga informasi Distance (jarak), Area, dan Color (warna). Setelah itu Anda tekan tombol OK untuk menyimpan hasil pengukuran.

Catatan : Pengukuran luas area menggunakan GPS Garmin sangat tidak disarankan karena akurasi GPS Garmin sekitar 5 - 15 meter, untuk pengukuran yang lebih akurat Anda bisa menggunakan GPS tipe Pemetaan atau GPS Geodetik yang akurasinya bisa mencapai 5mm - 10mm.

Kamis, Maret 14, 2019

SARANG SEMUT (Myrmecodia tuberosa)

Nama Umum
Indonesia: sarang semut; Inggris: ant plant

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Asteridae
Ordo: Rubiales
Famili: Rubiaceae
Genus: Myrmecodia
Spesies: Myrmecodia tuberosa

sumber http://plantamor.com/species/info/myrmecodia/tuberosa

Selasa, Maret 12, 2019

SARPRAS PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN RI NOMOR P.32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 TENTANG PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN pada tanggal 18 April 2016 maka berdasarkan ketentuan Pasal 110 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.12/Menhut-II/2009 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Dalam ketentuan PermenLHK No 32 tahun 2016 terdapat ketentuan mengenai standar sarpras Pengendalian Kebakaran Hutan.

Sarpras Pengendalian Kebakaran Hutan pada KPHP, KPHL, KPHK, KPH Perum Perhutani, IUPHHK atau UPHHBK atau IUPHHK restorasi ekosistem dalam hutan alam pada hutan produksi, IUPHHK atau IUPHHBK dalam HTI atau HTHR izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan pada Hutan Lindung dan Hutan Produksi untuk Kegiatan Pertambangan 

SARPRAS PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN 

Sarpras penyadartahuan atau kampanye pencegahan, seperti perangkat komputer, televisi, video player, screen, infokus, papan clip, poster, leaflet dan booklet. 
Sarana keteknikan pencegahan, terdiri atas sekat bakar buatan, jalur hijau/green belt dan embung/water point atau kantong air 
Sarana pengelolaan kanal pada gambut terdiri atas peralatan hidrologi sederhana, sekat kanal dan pintu air. 
Sarana posko krisis penanganan kebakaran hutan dan lahan sekurang-kurangnya sama dengan sarpras posko krisis penanganan kebakaran hutan dan lahan 
Sarana peringatan dini kebakaran hutan dan lahan terdiri atas peta rawan kebakaran atau peta sejenisnya, peta kerja, database sumberdaya pengendalian kebakaran, perangkat pendukung untuk mengetahui tingkat resiko terjadinya bahaya, kebakaran, rambu-rambu larangan membakar, papan informasi Peringkat Bahaya Kebakaran (PBK), bendera PBK, alat bantu PBK Desa, dan peralatan pengukur cuaca portabel atau menetap, dan sistem yang dapat mendukung untuk penyebar-luasan informasi kerawanan kebakaran hutan dan lahan. 
Sarana deteksi dini kebakaran hutan meliputi menara pengawas atau CCTV atau sensor panas sejenisnya, perangkat pendukung untuk mengolah data informasi hotspot, global positioning system, drone, ultra light trike atau pesawat terbang sejenisnya, dan peralatan dan perlengkapan untuk penyebar-luasan informasi hasil deteksi dini. 

SARPRAS PEMADAMAN KEBAKARAN HUTAN 
   
1. Perlengkapan pribadi  
Perlengkapan pribadi terdiri atas: topi pengaman, lampu kepala, kacamata pengaman, masker dan penutup leher, sarung tangan, sabuk, peples, peluit, ransel, sepatu pemadam, baju pemadam, kaos, kantong tidur, dan ransel standar, yang masing-masing perlengkapan sejumlah 15 set. 

2. Perlengkapan regu, 
Perlengkapan regu, terdiri atas: 2 unit tenda, 1 set peralatan standar perbengkelan, 2 unit peralatan standard P3K, dan 1 unit peralatan penerangan, 1 unit peralatan masak, dan 1 unit perlengkapan standar evakuasi dan penyelamatan sederhana. 

3. Peralatan regu, 
a. peralatan tangan;
sekurang-kurangnya terdiri dari atas:  kapak dua fungsi sejumlah 4 unit; gepyok sejumlah 8 unit; garu tajam sejumlah 6 unit; garu pacul sejumlah 3 unit; sekop sejumlah 6 unit; pompa punggung sejumlah 10 unit; obor sulut tetes sejumlah 1 unit; kikir sejumlah 2 unit; golok/parang sejumlah 10 unit. 

b. Peralatan Mekanis. 
Pompa bertekanan tinggi dalam 1 regu sekurangnya terdiri atas 
 • Pompa induk berjumlah 1 unit; 
 • Pompa jinjing berjumlah 3 unit; 
 • Pompa apung berjumlah 2 unit. 
 Kelengkapan pompa, sekurang-kurangnya terdiri atas: 
 • Nozzle 5 (lima) buah 
 • Suntikan gambut 5 (lima) buah 
 • Tanki air lipat berjumlah 5 (lima) unit 
 • Selang berjumlah 50 buah 
 • Perlengkapan lainnya menyesuaikan. 
 Chain-saw 

4. Kendaraan Khusus Pemadam Kebakaran Hutan Dan Lahan Roda 4  
Dalam 1 regu sekurang-kurangnya terdiri atas mobil pemadam dan mobil tanki masing-masing berjumlah 1 (satu) unit dalam 1 (satu) regu. 

5. Sarana Pengolahan Data Dan Komunikasi sekurang-kurangnya terdiri atas: 
a. GPS 1 unit; 
b. radio genggam 4 buah; 
c. radio mobil 1 unit; 
d. megaphone 1 buah; dan
e. peralatan komunikasi tradisional 

6. Sarana Transportasi dalam 1 regu sekurang-kurangnya terdiri atas: 
kendaraan roda dua jenis lapangan, sejumlah 2 unit; 
kendaraan roda empat 2 unit jenis lapangan meliputi dua fungsi mobil logistik dan mobil pengangkut peralatan; dan atau 1 unit speed; boat atau klotok atau jenis lainnya; dan 
jenis sarana transportasi lain yang menyesuaikan wilayah kerja. 

C. SARPRAS LAINNYA 
terdiri atas dokumen prosedur operasional internal, ruangan kerja, gudang peralatan, bengkel dan peralatannya, garasi, tempat penyimpanan bahan bakar dan tempat pembersihan alat, barak personil, dapur, ruang makan, dan lapangan berlatih.

Rabu, Maret 06, 2019

CEREMAI (Phyllanthus acidus)

Sinonim
Cicca acidua (L.) Merr.
Cicca disticha L.
Phyllanthus distichus (L.) Mull. Arg.
Ceremai

Nama Umum
Indonesia: ceremai, cereme;
Malaysia: cermai;
Thailand: ma-yom;
Inggris: otaheite gooseberry, malay gooseberry

Klasifikasi
Kingdom:                 Plantae
Subkingdom:            Tracheobionta
Superdivisi:             Spermatophyta
Divisi:                     Magnoliophyta
Kelas:                     Magnoliopsida
Subkelas:                Rosidae
Ordo:                     Euphorbiales
Famili:                   Euphorbiaceae
Genus:                   Phyllanthus
Spesies:                 Phyllanthus acidus (L.) Skeels

sumber http://plantamor.com/species/info/phyllanthus/acidus

Sabtu, Maret 02, 2019

Kemiri (Aleurites moluccana)

Kemiri (Aleurites moluccana)

Sinonim
Aleurites javanica Gand.
Aleurites triloba J.R. Forst. & G. Forst.

Nama Umum
Inggris: candlenut, candleberry; 
Indonesia: kemiri, kemling [Lampung], muncang [sun]; 
Vietnam: lai; 
Filipina: kapili, kumbang, lumbang-bato; 
Thailand: ma yao, phothisat; 
China: he shi li; 
Jepang: kukui nattsu, kukui noki

Klasifikasi
Kingdom:                             Plantae
Subkingdom:                       Tracheobionta
Superdivisi:                         Spermatophyta
Divisi:                                  Magnoliophyta
Kelas:                                  Magnoliopsida
Subkelas:                             Rosidae
Ordo:                                   Euphorbiales
Famili:                                Euphorbiaceae
Genus:                                Aleurites
Spesies:                              Aleurites moluccana (L.) Willd

  • Kemiri bernilai ekonomi tinggi dan merupakan tanaman konservasi alias penyerap air. Di Hutan Kemasyarakatan (HKm) Santong, kemiri ditanam antara 1997-1998 dan memberikan berkah bagi petani maupun masyarakat sekitar
  • Kemiri olahan, baik gelondongan maupun minyak kemiri memiliki nilai tambah lebih tinggi daripada masih dengan cangkang
  • Riset WWF Nusa Tenggara, dari luas tanam kemiri sekitar 613 hektar, nilai dari kemiri gelondongan mencapai Rp1,5 miliar. Cangkang kemiri juga jadi bahan bakar pengovenan tembakau
  • Buntut nilai ekonomis tinggi ini, kebiasaan masyarakat Lombok bebas memungut kemiri dimanapun, jadi berubah. Kemiri jatuh dari pohon, hanya boleh diambil orang yang menanam atau di lahan garapannya.

Kemiri (Aleurites moluccana) kalau dibakar mudah pecah. Proses itu akan mengeluarkan bau khas. Ia bisa dimakan mentah sebagai camilan, tetapi lebih sering jadi bumbu masak. 
Kemiri bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, kemiri merupakan tanaman konservasi. Dibandingkan sengon, kesambik, mahoni—ada masa penebangan—, kelestarian kemiri justru lebih terjaga. Pohon menjulang tinggi, bahkan banyak petani Hutan Kemasyarakatan (HKm) menanam di halaman rumah mereka lantaran nilai ekonomis biji kemiri itu. mongabay.co.id

Rabu, Februari 27, 2019

KISEUREUH (Piper aduncum)

Sinonim
Piper angustifolium 
Piper celtidifolium 
Piper elongatum

Nama Umum
Indonesia: kiseureuh, seuseureuhan;
Inggris: higuillo de hoja menuda

Klasifikasi
Kingdom:                            Plantae
Subkingdom:                      Tracheobionta
Superdivisi:                         Spermatophyta
Divisi:                                 Magnoliophyta
Kelas:                                  Magnoliopsida
Subkelas:                             Magnoliidae
Ordo:                                   Piperales
Famili:                                 Piperaceae
Genus:                                 Piper
Spesies:                               Piper aduncum L.

plantamor

Selasa, Februari 26, 2019

Pengertian Reduced Impact Logging

Sejarah kelahiran teknik pembalakan ramah lingkungan atau Reduced Impact Logging dilandasi oleh kesadaran bahwa penerapan teknik pembalakan konvensional memberi kontribusi yang tinggi terhadap tingkat kerusakan hutan. Dengan ciri-ciri berupa kegiatan tebang dan jual, praktek penebangan konvensional telah mengakibatkan kerusakan hutan mulai dari terbukanya lahan hutan, kerusakan tanah, erosi, kerusakan tegakan tinggal, dan penumpukan limbah penebangan.

Pengertian Reduced Impact Logging (RIL)
Pembalakan ramah lingkungan berdasarkan terminologi konsep RIL mengacu pada definisi low impact logging (LIL), reduced impact timber harvesting (RITH), pembalakan yang direncanakan, serta pembalakan yang bernuansa lingkungan. Berdasarkan terminologi di atas, RIL didefinisikan sebagai teknik pembalakan hutan yang direncanakan secara intensif dengan sistem operasi lapangan menggunakan teknik pelaksanaan dan peralatan yang tepat serta diawasi secara terpadu untuk meminimalkan kerusakan tanah maupun kerusakan tegakan tinggal. Oleh karena itu RIL merupakan salah satu teknik yang dapat menggantikan teknik pembalakan konvensional yang terbukti menjadi penyebab degradasi fungsi ekologis hutan.

Tujuan Teknik RIL
Tujuan penerapan teknik RIL antara lain adalah :
- Meminimalkan dampak negatif aktivitas pembalakan hutan pada lingkungan seperti erosi, sedimentasi, maupun pengeruhan air sungai
- Meningkatkan efisiensi pembalakan melalui pengurangan volume limbah penebangan, biaya pembalakan dan peningkatan kualitas produksi kayu
- Menciptakan ruang tumbuh yang optimal bagi tegakan tinggal dengan memaksimalkan pertumbuhan pohon dan hasil hutan non-kayu
- Meningkatkan pendapatan, kesehatan, dan keselamatan pekerja maupun masyarakat, serta
- Menciptakan prakondisi pengelolaan hutan tropis secara lestari

Komponen Penting dalam Teknik RIL
Dalam pelaksanaannya, untuk mengoptimalkan dampak positif yang dikontribusikan dari implementasi teknik RIL, terdapat 7 (tujuh) komponen penting yang harus disiapkan dan dilaksanakan.
1. Survei yang bertujuan mendapatkan data yang diperlukan untuk perencanaan kegiatan pembalakan.
2. Pemetaan lokasi pohon dan topografi sebagai petunjuk penyaradan dan penebangan.
3. Pembersihan jenis-jenis liana pada kegiatan pembalakan untuk memudahkan penebangan dan penyaradan
4. Pelatihan yang baik untuk mengikuti dinamika ilmu pengetahuan.
5. Pengarahan rutin tentang teknik dan prosedur pembalakan untuk mengikuti dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi.
6. Perlakuan pasca penebangan.
7. Pengadopsian sistem pembayaran berupa gaji dan insentif yang disesuaikan dengan jumlah maupun kualitas produksi yang dihasilkan untuk menjamin kesejahteraan tenaga kerja.

Tahapan Kegiatan RIL di Indonesia
Kegiatan memanen hasil hutan kayu dengan teknik RIL di Indonesia, secara konsep teknis mengacu pada sistem silvikultur TPTI. Implementasi konsepsi teknis RIL dalam TPTI terbagi dalam 4 tahap yaitu:
- Et-3 (tiga tahun sebelum penebangan) meliputi kegiatan penataan areal kerja
- Et-2 (dua tahun sebelum penebangan) meliputi kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP), survei topografi, pembuatan peta pohon pada peta kontur, dan perencanaan pembukaan wilayah hutan (PWH)
- Et-1 (satu tahun sebelum penebangan) meliputi kegiatan perencanaan pemanenan, pembukaan wilayah hutan, dan persiapan lapangan sebelum penebangan.
- Et-0 (pada tahun penebangan) meliputi kegiatan pembukaan tempat pengumpulan kayu (TPn) dan pembukaan jalan sarad, penebangan, dan pembagian batang, operasi penyaradan, pembagian batang, pengulitan, dan penumpukan kayu di TPn, pengangkutan kayu, perbaikan areal pasca panen, serta inspeksi dan pelaporan.

Pada prinsipnya teknik RIL sendiri secara konsep di bagi ke dalam 4 jenis kegiatan yaitu:
1. Kegiatan perencanaan pemanenan yang meliputi 3 kegiatan utama yaitu kegiatan sebelum perencanaan penebangan, penataan zona penebangan, dan perencanaan penebangan.
2. Kegiatan operasi pemanenan yang meliputi 3 kegiatan utama yaitu supervisi operasi pembalakan, operasi penebangan, dan operasi penyaradan dan penumpukan kayu di TPn
3. Kegiatan pemeliharaan yang meliputi 3 kegiatan utama yaitu pemeliharaan dan servis, kesehatan kamp, dan keselamatan kerja
4. Kegiatan pasca panen yang meliputi 7 tahap kegiatan utama yaitu penutupan jalan, penutupan jalan
sarad, penutupan penyeberangan sementara, penutupan tambang, penutupan TPn, penutupan kamp dan bengkel, dan pemeliharaan rutin.

sumber