Tampilkan postingan dengan label fauna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fauna. Tampilkan semua postingan

Rabu, Januari 30, 2019

Fakta menyedihkannya, tingkat kepunahan hewan telah meningkat semakin tinggi sejak manusia tersebar di seluruh planet ini. Banyak spesies yang terancam punah oleh penggundulan hutan, hilangnya habitat, polusi, perubahan iklim, perburuan, dan kasus-kasus lainnya yang ditimbulkan manusia terhadap planet ini.

Pada tahun 2018, dunia kehilangan beberapa hewan yang luar biasa termasuk beberapa spesies burung dan mamalia. Meskipun tahun 2019 baru saja dimulai, satu spesies telah dinyatakan punah sementara beberapa lainnya telah ditambahkan ke dalam daftar spesies yang kemungkinan akan menghilang sekitar tahun ini. Berikut daftar hewan yang telah dinyatakan punah pada tahun 2018.

Poʻo-uli (Punah)
Poʻo-uli
Poʻo-uli, Melamprosops phaeosoma, adalah spesies burung kicau yang ditemukan di pulau Maui di Hawaii sampai dinyatakan punah pada tahun 2018. Semenjak ditemukan pertama kali pada tahun 1973. Pada tahun 2018 dilakukan sebuah penelitian menunjukan bahwa tidak ditemukan lagi populasi poʻo-uli yang tersisa di mana pun di pulau tersebut.

Poʻo-uli punah karena sejumlah faktor seperti hilangnya habitat, dimangsa oleh spesies invasif (tikus, babi, kucing, dan luwak Asia), serta penurunan populasi siput pohon yang jadi makanan mereka.

Eastern Puma (Punah)
Eastern Puma

Spesies puma ini resmi dinyatakan punah pada 22 Februari 2018. Spesies Puma ini sering terlihat di Amerika Serikat bagian timur laut dengan populasi yang ada di utara Maine, tetapi populasi mereka mulai menurun di awal abad ke-20. Dinyatakan punah pada tahun 2018 setelah U.S. Fish and Wildlife Service berhenti melakukan pencarian spesies puma ini di timur laut Amerika Serikat tersebut.

Macaw Spix (Punah)
Macaw Spix

Terakhir terlihat pada tahun 2016 lalu. Macaw Spix pertama kali dideskripsikan pada tahun 1638 dan menjadi salah satu harta karun alami favorit Brasil yang disebut sebagai "Little blue macaw" karena ukurannya yang relatif kecil (300 gram).

Vaquita (Sangat terancam punah)
Vaquita 

Vaquita adalah spesies lumba-lumba asli perairan Teluk California utara. Mereka pertama kali diketahui pada tahun 1958, tapi berada di ambang kepunahan karena terakhir kali diketahui hanya ada 12 sampai 15 ekor Pertama kali terdaftar sebagai sangat terancam pada tahun 1996 ketika populasi diperkirakan sekitar 600 ekor, kemudian menurun terus secara drastis tiap tahunnya.

Badak Putih Utara (Sangat terancam punah)
Badak Putih Utara

Badak putih utara adalah subspesies badak putih, yang dulu mendiami wilayah Afrika sub-Sahara timur dan tengah. Spesies ini dipastikan akan punah, meski masih ada 2 ekor yang hidup di awal 2019, tapi keduanya adalah betina.

Jantan terakhir dari spesies ini, Sudan, mati di Kebun Binatang Dvr Králové pada 19 Maret 2018.Salah satu alasan spesies badak ini menjadi punah adalah karena diburu untuk diambil tanduknya, yang bisa dijual mencapai $ 50.000 per kilogram.

Siput pohon Hawaii (Punah)

Spesies siput ini dikabarkan baru saja punah pada Januari ini setelah anggota Achatinella apexfulva terakhir bernama George mati pada usia 14 tahun.

Spesies ini punah akibat siput invasif yang disebut Rosy Wolfsnail yang biasanya ditemukan di Amerika Tengah. Siput itu berkembang biak secara masif sampai jadi ancaman pertanian dan menyebabkan kepunahan delapan spesies siput lainnya di pulau Hawaii.


Sabtu, Januari 26, 2019

Ciri-Ciri Hewan Amfibi

Kata Amfibi berasal dari bahasa yunani, dimana hewan-hewan amfibi tergolong dalam kelas Amphibia. Dimana Kata Amphibia terdiri dari dua kata dari bahasa yunani yaitu amphi yang artinya ganda dan bios yang artinya kehidupan. Dari dua arti kata tersebut hewan amfibi dapat diartikan hewan yang bisa hidup di dua alam baik darat maupun air.

Hewan amfibi dapat hidup di dua lingkungan yang berbeda di karenakan hewan amfibi adalah hewan berdarah dingin atau poikiloterm. Sehingga hewan amfibi bisa dengan mudah beradaptasi atau menyesuaikan diri pada perubahan suhu lingkungan bahkan dalam kondisi ekstrem. Hewan amfibi merupakan vertebrata (hewan bertulang belakang) yang mengalami metamorfosis sempurna.

Berikut ciri-ciri Hewan Amfibi pada umumnya yang wajib diketahui
1. Kulit tubuh yang licin karena lendir
2. Berdarah dingin (poikiloterm)
3. Mengalami metamorfosis lengkap atau sempurna.
4. Ketika muda bernafas dengan insang, saat dewasa beralih menggunakan kulit dan paru-paru untuk bernafas
5. Hewan amfibi memiliki selaput pada mata yang disebut membran niktitans.

Hewan amfibi terbagi dari menjadi 3 ordo yaitu:
A. Anura (Salientia)
     Ordo Anura, ketika muda memiliki ekor, namun berangsur hilang saat menuju dewasa. Spesies dari ordo Anura antara lain berbagai spesies katak dan kodok salah satu contoh y katak sawah, kodok bangkok, dan jenis katak pemanjat.
Katak Pohon Bergaris (Polypedates leucomystax)

B. Caudata (Urodela)
     Ordo Caudata, jenis ini yang dikenal yaitu salamander. setidaknya ada 550 spesies salamander yang ada di seluruh dunia. Keunikan dari salamander ini terletak pada kemampuan regenerasi anggota tubunya. Selain itu ada beberapa macam salamander yang menghabiskan waktunya di salah satu habitat.
Red Salamander (Pseudotriton ruber) Photo by Todd Pierson

C. Gymnophiona (Apoda)
    Hewan amfibi yang tergolong apoda tidak memiliki ekor dan kaki, contohnya cecilia yang berbentuk mirip dengan cacing (karena tubuhnya yang bersegmen), ular, atau belut. Umumnya hewan ini hidup dan sering dijumpai pada lingkungan yang lembab seperti di tepian sungai dan hutan yang masih terjaga dan hewan ini sangan langka. Ordo ini mempunyai 5 famili yaitu Rhinatrematidae, Ichtyopiidae, Ureaotyphillidae, Scolecomorphiidae, dan Caecilidae. Dari kelima famili ini Ichtyopiidae adalah salah satu famili yang ada di indonesia. Ordo ini sangat jarang diketahui oleh banyak orang.


Rabu, Mei 25, 2011

Ikan Terkecil di Dunia ada di Indonesia

    

Para peneliti pada tahun 2006 menemukan salah satu ikan terkecil di dunia di rawa gambut di Pulau Sumatera.
Individu genus Paedocypris ukurannya hanya 7,9 mm saat dewasa, tulis para ilmuan dalam sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Royal Society Inggris.
Namun mereka mengingatkan prospek jangka panjang ikan ini buruk, karena perusakan cepat rawa gambut Indonesia.
Ikan ini harus bertahan hidup dalam kolam air asam di rawa hutan tropis.
“Ini adalah salah satu ikan teraneh yang saya lihat dalam seluruh karir saya,” kata Ralf Britz, seorang ahli zoologi dari Museum Sejarah Alam di London, Inggris.
“Ia kecil, ia hidup dalam asam dan ia memiliki sirip penangkap yang aneh. Saya harap kita punya cukup waktu untuk mengetahuinya lebih banyak sebelum habitat mereka lenyap seluruhnya.”
Ikan baru ini ditemukan oleh Maurice Kottelat (dari Swiss) dan Tan Heok Hui dari Museum Penelitian Keanekaragaman Hayati Raffles di Singapura, saat bekerja dengan kolega mereka dari Indonesia dan dengan Kai-Erik Witte dari Institut Max Planck di Jerman.
Ralf Britz membantu menganalisa kerangka hewan ini termasuk struktur sirip pelviknya yang kompleks.
Ancaman manusia
Paedocypris dapat menopang tubuhnya yang kecil dengan memakan plankton di dekat dasar kolam airnya.
Untuk tetap mempertahankan ukuran, ikan ini meninggalkan banyak atribut kedewasaan – karakteristik yang ditunjukkan namanya.
Otak misalnya, tidak memiliki pelindung bertulang dan betinanya memiliki ruang untuk hanya membawa sedikit telur saja.
Jantan memiliki clasp kecil dibawah tubuhnya untuk membantu mereka membuahi telur secara individual.
Walau begitu kecil, ikan ini dapat hidup dalam kekeringan yang ekstrim, dengan mencari perlindungan di genangan terakhir di rawa; namun mereka sekarang terancam oleh manusia.
Perusakan hutan yang luas, pengeringan rawa gambut untuk penanaman kelapa sawit dan kebakaran hutan merusak habitat mereka.
Sains menemukan Paedocypris tepat waktu – namun banyak kerabat mini mereka mungkin telah punah.
Ada klaim keberadaan ikan lain yang lebih kecil lagi namun beberapa peneliti berdebat apakah spesimen yang diukur memang benar berada dalam bentuk dewasa.
Sumber :
Roland Pease. Scientists Find ‘Smallest Fish.’ BBC, 25 January 2006.
Referensi lanjut:
Maurice Kottelat, Ralf Britz, Tan Heok Hui, Kai-Erik Witte, 2005. Paedocypris, a new genus of Southeast Asian cyprinid fish with a remarkable sexual dimorphism, comprises the world’s smallest vertebrate. Proceedings of the Royal Society B 10.1098/rspb.2005.3419.

dikutip dari faktailmiah.com

Relung Ikan Air Tawar di Indonesia

Berbeda dengan mamalia, ikan air tawar lebih sulit menyebar ke sungai lain, apalagi bila sungai tersebut tidak terhubung. Bila Mamalia hanya terbagi menjadi tiga daerah di Indonesia, maka ikan air tawar memiliki lebih banyak relung.
Ekosistem air tawar mendukung perbandingan keanekaragaman hayati dunia yang sangat tinggi. Wilayahnya hanya mencakup 0.8% permukaan Bumi, namun diperkirakan mengandung 100 ribu spesies, atau sekitar 6% spesies yang ada di Bumi.
Relung ikan air tawar di Indonesia diselidiki oleh tim peneliti yang luas. Secara global terdapat 830 relung ikan air tawar, 20 diantaranya mencakup Indonesia. Dari 20 relung ini, 13 diantaranya khas Indonesia.
Relung ini antara lain:
769 – Kepulauan Nicobar. Walaupun hampir seluruhnya mencakup kawasan kepulauan Nicobar, ujung selatannya mencakup Pulau We di NAD.
736 – Aceh. Mencakup NAD dan Sumatera Utara bagian Timur.
737 – Lereng Samudera Hindia bagian Sumatera dan Jawa. Mencakup pantai barat Sumatera dan pantai selatan Jawa. Termasuklah Pantai Barat Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, pantai Barat Lampung, Pantai Selatan Banten, pantai selatan Jawa Barat, Yogyakarta dan bagian barat pantai selatan jawa timur.
738 – Sumatera Tengah Selatan. Mencakup Riau dan Jambi
739 – Sumatera Selatan – Jawa Barat. Mencakup Sumatera Selatan, Lampung, Banten utara, Jakarta dan Jawa Barat Utara
740 – Jawa Tengah dan Timur – mencakup Jawa Tengah bagian utara dan sebagian besar Jawa Timur.
748 – Kepulauan Sunda Kecil – dari bagian timur Jawa Timur, Bali, NTT, NTB, Timor Leste.
741 – Kapuas. Mencakup Kalimantan Barat kecuali daerah Ketapang.
746 – Kalimantan Tenggara. Mencakup Kabupaten Ketapang, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
745 – Kalimantan Timur. Sebagian Besar Kalimantan Timur.
743 – Dataran Tinggi Kalimantan. Bagian Tengah pulau Kalimantan.
744 – Kalimantan Timur Laut. Mencakup bagian utara Kalimantan Timur dan negara bagian Sabah.
749 – Sulawesi. Hanya mencakup Gorontalo.
751 – Danau Poso. Mencakup daerah Sulawesi Tengah, Timur dan Selatan.
750 – Danau-danau Malili di Sulawesi Tenggara.
747 – Maluku
812 – Vogelkop-Bomberai. Mencakup Semenanjung Kepala Burung, Papua.
813 – Pantai Utara Nugini. Mencakup pula Papua bagian utara.
814 – Pegunungan Tengah Nugini. Mencakup pula dataran tinggi Papua.
815 – Dataran Rendah Nugini-Trans Fly Barat Daya. Mencakup pula dataran rendah di selatan Papua.
Referensi
Robin Abell, dkk. “Freshwater Ecoregions of the World: A New Map of Biogeographic Units for Freshwater Biodiversity Conservation.” Bioscience, May 2008, Vol. 58 No.5 hal 403-415
Referensi Lanjut
Dudgeon D, et al. 2006. “Freshwater biodiversity: Importance, threats, status and conservation challenges.” Biological Reviews 81: 163–182.


dikutip dari faktailmiah.com

Selasa, Maret 09, 2010

10 Hewan Yang Terancam Punah di dunia




Manusia dan hewan seharusnya hidup berdampingan secara damai di dunia ini. Namun karena sifat serakah manusia, jumlah satwa tersebut terus berkurang dari waktu ke waktu. Bahkan, banyak diantara hewan-hewan tersebut yang sudah tidak ada lagi alias punah. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menyelamatkan mereka, antara lain dengan mendirikan sejumlah tempat konservasi. Berikut adalah daftar sepuluh hewan terancam punah dunia 2009 versi Livescience:
1. Badak Sumatera
Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) adalah badak berukuran paling kecil di antara semua spesies badak di dunia. Badak kebanggaan Indonesia yang hidup di pulau Sumatera ini dinyatakan terancam punah karena saat ini hanya tersisa sekitar enam populasi di alam liar atau tinggal 300 ekor saja. Faktor utama berkurangnya jumlah badak ini adalah perburuan liar. Di pasar gelap, cula badak ini dihargai 30.000 dolar AS atau setara dengan Rp 300 juta per kilogram. Selain itu, tingkat keberhasilan pengembangbiakan badak yang sangat kecil turut menuntun hewan ini menuju kepunahan.

2. Paus Abu-Abu
Lembaga International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyatakan pada 2008 bahwa jumlah paus abu-abu (Esrichtiius robustus) berada dalam level aman. Namun, itu hanyalah paus abu-abu yang hidup di sejumlah tempat konservasi, bukan di alam liar. Sejak tahun 1947 pada masa-masa perburuan paus abu-abu, jumlah hewan berbobot 30 ton itu terus berkurang dan belum kembali normal hingga sekarang. Dari 100 paus abu-abu, kini hanya tersisa 23 betina yang masih mampu bereproduksi di wilayah perairan Pasifik Selatan.

3. Serigala Merah
Anda pernah menonton film animasi Ice Age? Film ini menceritakan kehidupan unik sejumlah satwa pada zaman es, zaman dimana hampir seluruh permukaan bumi ditutupi es. Nah, percaya atau tidak, hewan bernama serigala merah (Canis lupus rufus) ini adalah salah satu hewan Ice Age yang masih hidup hingga kini. Para ilmuwan mengestimasi hanya ada 100 serigala merah di alam liar Carolina Utara, Amerika Serikat, dan sekitar 150 ekor di beberapa fasilitas penangkaran.

4. Harimau Siberia
Harimau Siberia atau disebut juga harimau amur (Panthera tigris altaica) adalah spesies harimau yang pernah tinggal di wilayah Cina, Semenanjung Korea, dan Mongolia. Namun, kini hewan tersebut hanya bisa bebas berkeliaran di Rusia, di wilayah perlindungan kawasan Amur-Ussuri. Sejumlah ahli meyakini masih terdapat 350 hingga 450 hewan ini di alam liar.

5. Musang Berkaki Hitam
Akibat ulah manusia yang terus membabat alam liar tanpa henti, musang berkaki hitam (Mustela nigripes) hampir punah dari muka bumi. Hewan asli Amerika Utara ini kini dinyatakan sebagai mamalia paling terancam punah di kontinen AS. Hewan malam hari atau nokturnal ini memburu hewan pengerat, prairie dog sebagai makanan utama. Seiring menurunnya jumlah populasi hewan buruannya, jumlah musang berkaki hitam ini juga ikut berkurang.

6. Buaya Filipina
Sesuai namanya, buaya Filipina (Crocodylus mindorensis) adalah spesies buaya yang dilindungi di Filipina. Berdasarkan survei pada 1995, buaya bertubuh relatif kecil ini hanya tersisa 100 ekor di Filipina. Hal ini menjadikan buaya tersebut sebagai satu dari spesies hewan paling terancam di dunia.

7. Gorilla Gunung
Sejak gorila gunung (Gorilla beringei beringei) ditemukan akhir 1902, jumlah populasi hewan ini terus berkurang akibat pembalakan liar, perburuan massal, dan perdagangan hewan ilegal. Saat ini, jumlah primata yang mampu hidup di daerah dingin maupun panas ini hanya ada 720 ekor yang tersebar di wilayah Uganda.

8. Hiu Gangga
Hiu penghuni Sungai Gangga di India bernama hiu gangga (Glyphis gangeticus) ini merupakan satu dari 20 daftar hiu terancam punah versi IUCN. Hiu yang memiliki reputasi sebagai pemakan manusia ini banyak diburu untuk diambil minyaknya. Selain itu, semakin tercemarnya Sungai Gangga menjadi faktor lain yang menyebabkan spesies ini kian sulit ditemukan.

9. Orang Utan Sumatera
Satu lagi hewan terancam punah dari Tanah Air, Orangutan Sumatra (Pongo abelii). Primata langka bertubuh lebih kecil dari dua spesies orangutan yang lain ini adalah pemakan buah-buahan dan serangga. Seperti biasa, penyebab berkurangnya jumlah mereka adalah habitat yang hancur dan perburuan liar. Orangutan ini termasuk salah satu hewan yang memiliki kemampuan reproduksi rendah. Pongo abelli betina hanya mampu melahirkan tiga anak selama masa hidupnya.

10. Burung Kondor California
Burung kondor California (Gymnogyps californianus) adalah burung pemakan bangkai asal California, AS, yang mempunyai masa hidup paling panjang dibanding burung lain, yaitu sekitar 50 tahun. Gara-gara perburuan liar dan berkurangnya habitat, burung langka ini hampir punah secara keseluruhan pada 1980. Namun berkat upaya konservasi dari berbagai ahli hewan, burung ini selamat. Kini, terdapat 332 Burung Kondor California di beberapa penangkaran, termasuk 152 ekor di alam liar