Tampilkan postingan dengan label kehutanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehutanan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, November 23, 2019

Nasib Gajah dan Harimau di Riau Makin Terdesak

Nasib satwa langka, dan dilindungi makin menyedihkan di Riau. Habitat makin terdesak, konflik dengan manusia, sampai perburuan untuk perdagangan. Pada Oktober saja, banyak kejadian suram bagi satwa di Riau. Minggu pertama Oktober, gajah Dita mati dalam kubangan parit pembatas kebun masyarakat di Suaka Margasatwa Balai Raja, Kecamatan Mandau, Bengkalis.

Gajah betina usia 25 tahun ini, ditemukan sudah membusuk. Isi perut berserakan. Sejak 2014-2018, Dita dalam pengawasan medis Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Riau, karena tak punya tapak kaki sebelah kiri bagian depan setelah terkena jerat.

BKSDA Riau mendata, selain Dita juga ada satu gajah betina dewasa dan satu anak gajah lain di SM Balai Raja. Data WWF Riau, gajah mati bukan hanya Dita. Pada 2016, dua gajah betina dewasa mati karena sakit dan kesetrum pagar listrik warga yang melindungi kebun.

Syamsidar, WWF Riau, mengatakan, gajah di SM Balai Raja ada 25 pada 2014. Setahun terakhir, hanya lima sampai tujuh gajah terpantau. Selain Dita, ada Seruni, Rimba, Getar, Codet dan Bara.

Konflik harimau dan manusia juga terjadi 24 Oktober 2019 di Indragiri Hilir, Riau. Pada bulan Mei tanggal 23 lalu, harimau menerkam M Amri, pekerja PT RIA di kanal sekunder 41, Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Indragiri Hilir. Pada Agustus, giliran Darmawan asal Sumatera Selatan, diterkam di konsesi PT Bhara Induk, juga lansekap Kerumutan.

Tahun lalu, harimau Bonita, di kantong Kerumutan sudah merenggut dua nyawa, Sumiati dan Yusri. Bonita, harimau yang diketahui merenggut nyawa dua orang itu mau tidak mau harus dievakuasi BKSDA.

Tahun ini, BKSDA Riau tak evakuasi, kata Suharyono, karena wilayah itu memang rumah harimau. “Lansekap Kerumutan kantong harimau di Riau. Tak bijak mengevakuasi harimau dari rumahnya,” katanya, seraya bilang, akan evaluasi menyeluruh atas kejadian konflik manusia dan harimau, yang berulang.

sumber lengkap https://www.mongabay.co.id/2019/11/11/nasib-gajah-dan-harimau-di-riau-makin-terdesak/

Selasa, Mei 07, 2019

KELAPA (Cocos nucifera)

Nama Umum
Inggris: coconut;
Indonesia: kelapa, nyiur, kalapa [sun], krambil [jav];
Vietnam: dua;
Malaysia: kelapa, nyiur;
Filipina: niyog, lobi, inniug, ongot, gira;
Thailand: maphrao;
China: ye zi;
Jepang: yashi no mi, kokonattsu

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Subkelas: Arecidae
Ordo: Arecales
Famili: Arecaceae
Genus: Cocos
Spesies: Cocos nucifera L.

sumber http://plantamor.com/species/info/cocos/nucifera

Minggu, April 21, 2019

DURIAN (Durio zibethinus)

Nama Umum
Indonesia: durian, duren, kadu [Snd];
Malaysia: durian;
Filipina: durian;
Thailand: thurian;
China: liu lian;
Inggris: durian

Klasifikasi
Kingdom:      Plantae
Subkingdom: Viridiplantae
Superdivisi:    Embryophyta
Divisi:           Tracheophyta
Subdivisi:      Spermatophytina
Kelas:           Magnoliopsida
Subkelas:      Dilleniidae
Ordo:           Malvales
Famili:        Bombacaceae
Genus:        Durio
Spesies:     Durio zibethinus Murray

sumber http://plantamor.com/species/info/durio/zibethinus

Jumat, April 12, 2019

Siamang, Owa Besar Sumatera yang Terlupakan oleh Dunia

Si Kera Penyanyi dan Jagoan Berayun
Susan Lappan, seorang antropolog di Appalachian State University, menjelaskan bahwa “lagu-lagu berirama” biasanya merupakan duet antara pasangan jantan dan betina yang “dijalin bersama menjadi tampilan vokal yang rumit yang dikoordinasikan dengan gerakan akrobatik melalui pohon-pohon.”

Para peneliti percaya bahwa jenis-jenis owa, termasuk siamang, bernyanyi untuk menandai wilayah mereka, membentengi ikatan keluarga, melindungi pohon buah terbaik dan upaya untuk menarik perhatian pasangan, khusus yang terakhir mirip dengan apa yang umum dilakukan oleh manusia juga.

Bakat bawaan jenis owa ‘untuk bersuara secara eksotis’ dengan nada vokal terbentang layaknya seruling Jepang hingga raungan sirene polisi dan kemampuannya akrobatiknya yang luar biasa telah menyebabkan keluarga primata ini dijuluki “kera bernyanyi yang senang berayun bebas”.

Tapi seluruh keahlian yang tersebut tidak membawa siamang, dan spesies owa lain, serta merta menjadi pusat perhatian dunia. Sejak lama mereka telah diabaikan oleh para konservasionis, ilmuwan dan masyarakat global, setidaknya jika dibandingkan dengan kera besar, harimau, gajah dan badak, bahkan saat mereka menghadapi banyak bahaya yang sama seperti mamalia besar Asia lainnya. Padahal saat ini, siamang pun telah terdaftar sebagai satwa terancam punah (endangered) oleh IUCN Red List.

Mayoritas siamang yang tersisa di dunia ditemukan di Sumatera. Meski terdapat populasi lain di daratan Asia, yaitu Semenanjung Malaysia dan Thailand, meski para konservasionis masih memperdebatkan apakah kedua populasi tersebut (yang ada di Sumatera dan daratan Asia) mewakili dua sub spesies yang terpisah.

Bukan hanya siamang, spesies owa yang terancam kepunahan. Dari enam belas jenis owa yang ada dalam daftar IUCN Red List, satu dianggap rentan, sebelas dianggap langka dan empat dalam status kritis punah (critically endangered).

Morfologi siamang
Siamang digambarkan sebagai jenis owa raksasa. Ukuran tubuhnya dapat mencapai satu meter dengan berat 14 kg, dua kali ukuran tubuh dari jenis owa lainnya, meski masih tetap lebih kecil dari ukuran kera besar lain seperti orangutan dan simpanse. Siamang dikelompokkan sebagai owa (gibbons) dari famili Hylobatidae, namun memiliki genus mereka sendiri, yaitu Symphalangus.

Tidak hanya berbeda dalam bentuk ukuran, siamang adalah satu-satunya keluarga owa yang memiliki kantung tenggorokan yang dapat digembungkan, yang disebut gular, mirip dengan yang dimiliki oleh burung frigate, beberapa jenis belibis dan katak. Ketika sampai pada titik maksimalnya, gular dapat lebih besar dari ukuran kepala siamang. Gular berguna untuk memberi dorongan (semacam bag pipe) yang secara signifikan meningkatkan volume kekerasan suaranya.

Bagi Lappan, siamang tidak hanya berbeda secara fisik dari owa kerabatnya, salah satu yang menarik perhatiannya adalah bagaimana siamang mengasuh anak-anak mereka.

“Siamang adalah satu-satunya spesies owa di mana sang jantan sangat terlibat dalam perawatan bayi,” jelasnya. Dia mencatat bahwa siamang jantan turut merawat bayi mereka hingga mencapai usia satu tahun. “Siamang muda umumnya mulai berbagi tempat tidur dengan induk jantannya, bukan dengan ibu mereka, ketika adik mereka lahir, siamang remaja terus berbagi tempat tidur dengan induk jantan hingga mereka berusia 4 hingga 5 tahun.”

Meskipun umumnya berpasangan monogami dan mengasuh anak secara bersama, namun penelitian O’Brien menyebutkan bahwa terdapat pula kelompok siamang yang bersifat poliandri, dimana satu betina memiliki beberapa jantan sebagai pasangannya.

Seperti semua jenis owa lainnya, siamang adalah spesialis akrobat arboreal yang mampu melakukan gerakan yang sulit di puncak-puncak tajuk pohon hutan hujan tropis dengan mudah. Sembari bergerak menyangga tubuhnya, siamang berayun diiringi dengan lagu-lagu mereka.

Dalam peran ekologisnya, siamang memainkan peran penting di hutan tropis sebagai penyebar benih. Mengacu pada penelitian Mohamad Rusmanto, seperti yang disebutkan oleh Lappan, saat buang air besar beberapa biji disebarkan ‘secara utuh dan tidak rusak berjarak ratusan meter dari pohon induknya.’

Dengan demikian, siamang membantu penyebaran biji makanan favoritnya agar jenis-jenis vegatasi itu dapat bereproduksi. Bayangkan, jika siamang punah dari alam, maka agen layanan penyebaran benih tersebut hilang, sesuatu yang akan berdampak pada degradasi hutan secara jangka panjang.

Spesies yang Diabaikan Dunia
Meskipun penting secara ekologi, siamang dan berbagai jenis owa lainnya hanya mendapat perhatian minim dari upaya konservasi dan riset. Ketika bicara tentang satwa liar Sumatera, perhatian akan berkisar pada empat spesies utama: orangutan, gajah, harimau dan badak. Siamang dan dua spesies owa lainnya di pulau ini jarang sekali disebutkan.

Menurut Lappan, pengabaian ini awalnya mungkin berasal dari sikap masyarakat yang lebih intensif memperhatikan spesies yang lebih besar.

“Badak, harimau dan gajah telah akrab dengan masyarakat dunia selama beberapa dekade,” katanya. “Sebelum studi lapangan jangka panjang pertama siamang pada 1970-an, hampir tidak ada yang mengetahui tentang perilaku dan ekologi owa ini.”

Menurut O’Brien hal tersebut mungkin berhubungan dengan cara pandang dunia terhadap jenis-jenis owa yang disebut sebagai “kera kecil”. Menurutnya, penamaan gibbons berasosiasi kepada “jenis kera yang memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dengan sepupu kera besar mereka.” Sayangnya label ini telah membuat satwa ini menjadi kurang karismatik, kurang menarik dan kurang menarik perhatian ketimbang yang disebut sebagai “kera besar” (great apes).

Nasib serupa tampaknya telah menimpa banyak jenis-jenis kucing liar berukuran kecil di dunia, seperti margay (Leopardus wiedii) di Amerika Tengah atau kucing emas afrika, dua spesies yang lama diabaikan oleh konservasionis dan peneliti; bahkan seperti nasib satwa-satwa berukuran kecil lainnya, termasuk jenis-jenis kera kecil, saat ini statusnya telah bergeser dari status aman menjadi terancam.

Gap Konservasi
Sedikit yang diketahui tentang keadaan populasi siamang hari ini. Para ilmuwan sebagian besar berfokus pada riset yang berhubungan dengan perilaku siamang, lagu atau gerak, sementara hanya sedikit studi yang melihat ancaman dan status owa raksasa ini. Di Sumatera misalnya, para konservasionis dapat memberikan perkiraan yang cukup baik berapa jumlah harimau, badak atau gajah yang tersisa, bahkan IUCN sendiri pun tidak memberikan perkiraan kasar dari jumlah total siamang.

“Sebagian besar populasi siamang belum disensus, namun diperkirakan puluhan ribu siamang masih hidup di dalam dan sekitar beberapa taman nasional di Sumatera,” tutur Lappan. Pada tahun 2002, sebuah survei populasi siamang di TN Bukit Barisan Selatan, salah satu kawasan konservasi terbesar di Sumatera bagian selatan, memperkirakan wilayah tersebut adalah tempat bagi sekitar 22 ribu individu spesies ini.

“[Sumatera mungkin harapan terakhir] saat sebagian besar Semenanjung Malaysia saat ini telah gundul. Ada kekhawatiran besar tentang status siamang di Malaysia dan Thailand selatan,” jelas Lappan melanjutkan.

Lembaga konservasi internasional, IUCN bahkan mulai memberi peringatan tentang turunnya jumlah populasi siamang di dunia. “Setidaknya populasi siamang telah berkurang 50 persen selama 40 tahun terakhir (tiga generasi) akibat perburuan, perdagangan satwa peliharaan dan hilangnya habitat tempat hidup.”  Laporan jumlah populasi terakhir dilakukan tujuh tahun terakhir, padahal banyak wilayah yang telah kehilangan kawasan hutannya sejak saat itu.

Mungkin siamang termasuk spesies yang kurang beruntung tinggal di negara yang termasuk dua peringkat terbesar deforestasi tercepat di dunia. Indonesia adalah penggundul hutan terbesar di dunia, melebihi Brasil, sementara Malaysia pun sama saja. Lebih buruk lagi, Sumatera adalah pulau yang paling banyak kehilangan hutan di seluruh Asia. Sumatera telah kehilangan 85 persen hutan dalam 50 tahun terakhir, dan itu terus berlangsung.

Pada tahun 2008, seperti perkiraan IUCN, siamang telah kehilangan 70-80 persen habitat utamanya di Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Satu-satunya kabar baik adalah siamang merupakan jenis satwa yang mudah beradaptasi dari hilangnya habitat dibandingkan dengan berbagai spesies hutan hujan lainnya, termasuk jenis-jenis owa lainnya. Siamang masih mampu hidup di hutan sekunder, yang memiliki kepadatan yang lebih rendah dibandingkan hutan hujan primer. Namun para saintis tidak percaya bahwa siamang dapat tetap bertahan hidup di area monokultur seperti sawit, kopi, HTI akasia yang telah menggantikan secara cepat hutan tempat mereka hidup dalam beberapa dekade terakhir ini.

“Siamang dan jenis owa lainnya hidup di pepohonan dan memerlukan dahan di kanopi pohon untuk bergerak,” jelas O’Brien. “Kalau hutan ditebang, petak yang tersisa menjadi terisolasi dan menjadi terlalu kecil untuk mendukung populasi siamang yang layak.”

Siamang pun menghadapi ancaman tambahan, yaitu perdagangan satwa peliharaan ilegal. Menurut sebuah laporan tahun 2009 tentang perdagangan owa di Sumatera, siamang jarang diperjualbelikan secara terbuka, namun dapat dengan mudah diperoleh di pasar ilegal.

“Para pedagang satwa di pasar dapat mengatur penjualan mamalia besar seperti orangutan, siamang, harimau sumatera, beruang madu dan satwa lainnya jika ada permintaan,” jelas laporan tersebut. Siamang pun menjadi satwa peliharaan populer di kalangan PNS maupun aparat militer baik di Sumatera maupun Jawa, pulau yang tidak memiliki populasi siamang asli.

Di Jawa, siamang adalah jenis primata yang paling umum diperdagangkan. Laporan ini pun mengungkap bahwa banyak kebun binatang di Indonesia dan di Asia yang bergantung pada para pedagang untuk memperoleh siamang mereka. Padahal perburuan dan perdagangan satwa peliharaan umumnya bermodus membunuh ibu satwa dan menculik bayi satwa tersebut.

Di Indonesia, satu organisasi yang bekerja untuk menghentikan perdagangan ilegal owa adalah Kalaweit. Berfokus pada jenis-jenis owa, Kalaweit membantu merehabilitasi jenis kera ini di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Namun sayangnya sebagian besar jenis owa yang mereka selamatkan tidak dapat lagi dikembalikan ke alam liar karena telah terjangkit penyakit yang ditularkan oleh manusia. Namun, owa yang dirawat secara benar, kadang-kadang masih dapat kembali ke rumah hutan mereka.

Sebagai spesies satwa yang sangat terpukul karena deforestasi, perdagangan satwa dan kurangnya perhatian dunia konservasi, kedepannya siamang dapat menjadi kandidat primata Asia Tenggara yang berakhir dengan status critically endangered jika tidak mendapat perhatian serius.

“Siamang adalah mahluk ciptaan yang sangat luar biasa. Saya masih berharap masih diberi kesempatan untuk menghabiskan banyak waktu bersama mereka,” tutur Lappan. 

sumber
https://www.mongabay.co.id/2015/08/09/siamang-owa-besar-sumatera-yang-terlupakan-oleh-dunia/

Rabu, April 10, 2019

Penetapan Hutan Adat Hanya 1% dari Realisasi Perhutanan Sosial

Pemerintahan Presiden Joko Widodo–Jusuf Kalla, mempunya target lumayan tinggi untuk distribusi lahan dan hutan kepada warga, antara lain lewat skema perhutanan sosial dengan target 12,7 juta hektar, belakangan merevisi jadi 4,39 juta hektar sampai 2019. Realisasi hutan adat, termasuk penetapan pada Februari lalu, total baru 28.286,34 hektar alias terkecil atau 1% dari skema perhutanan sosial yang lain.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, per 4 Maret 2019, capaian perhutanan sosial 2.566.708,15 hektar, terdiri dari 1.281.049,18 hektarhutan desa, 645.593,82 hutan kemasyarakatan, 331.993,68 hektar hutan tanaman rakyat, 549.785,13 hektar kemitraan kehutanan dan 28.286,34 hektar hutan adat.

Februari lalu, KLHK menetapkan tujuh hutan adat baru di Banten, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat, seluas 2.182 hektar.

Bambang Supriyanto, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, KLHK mengatakan, dari rencana anggaran 2019, KLHK menargetkan menetapkan atau memverifikasi hutan adat seluas 30.000 hektar.

Selanjutnya, KLHK akan menetapkan, enam lokasi di Jambi, seluas 1.518 hektar hingga total 3.700 hektar dari capaian Februari lalu.

”Angka-angka capaian akan terus bertambah, seiring proses fasilitasi dan verifikasi hutan adat,” katanya, seraya bilang, tahap lanjutan akan menyasar ke Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, Bali, Bengkulu, Sulawesi Tengah dan lokasi lain yang secara prosedur siap ditindaklanjuti.

Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan kala penetapan tujuh hutan adat Februari lalu mengatakan, hutan adat untuk perlindungan masyarakat adat dan kearifan lokal hingga tak menghilangkan fungsi sebelumnya, seperti fungsi lindung ataupun konservasi.

”Selain itu, (pemerintah menimbang) kekhususan adat adalah kebersamaan (komunal). Karena itu, hutan adat juga tidak untuk diperjualbelikan dan dipindahtangankan,” katanya.

Muhammad Arman, Direktur Advokasi Kebijakan, Hukum dan HAM Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengatakan, proses pengakuan wilayah adat ini lambat erat kaitan dengan kemauan politik pemerintah masih setengah hati.

Data AMAN, ada 71 produk hukum daerah soal masyarakat adat tetapi pemerintah selalu menuntut usulan wilayah yang sudah memiliki produk hukum itu harus clean and clear atau tak terjadi tumpang tindih lahan.

Dia berharap, RUU masyarakat adat segera sah. “Siapapun presiden nanti, perlu memastikan pengakuan masyarakat adat harus terjadi, bukan kemauan individu atau komunitas, itu perintah konstitusi.”

Hasil kajian sementara, AMAN mencatat dari 9,6 juta hektar wilayah adat yang terpetakan dan terdaftar di pemerintah, ada 313.000 hektar tumpang tindih dengan izin-izin hak guna usaha (HGU), tersebar di 307 komunitas adat.

Arman menyesalkan, KLHK tak juga pencadangan wilayah adat, setelah rapat koordinasi masyarakat adat. ”Bahkan hingga Pokja percepatan perhutanan sosial hingga Desember lalu selesai (2018-red), tidak ada [SK Menteri untuk mengamankan wilayah adat],” katanya.

Selain itu, tak ada keterbukaan informasi publik menjadi penyebab wilayah adat hilang. ”Masyarakat adat tak pernah tahu bagaimana proses wilayah adat jadi kawasan hutan negara atau diberikan kepada izin-izin konsesi. Masyarakat adat baru tahu setelah didatangi alat-alat berat.”

Berdasarkan hasil telaah DItjen PSKL terhadap peta-peta usulan penetapan hutan adat dari berbagai sumber, terdapat areal 369.861 hektar ditetapkan dan disusun dalam peta indikatif lokasi hutan adat (PILHA). Bambang mengatakan, angka itu dari peta usulan dan informasi termasuk hasil Rakor Hutan Adat Januari 2018.

Peta Indikatif Lokasi Hutan Adat per 31 Januari 2019, terdiri dari kawasan hutan negara (300.631 hektar), areal penggunaan lain (51.571 hektar) dan hutan adat yang ditetapkan seluas 34 unit (17.659 hektar).

Sumber
https://www.mongabay.co.id/2019/03/27/penetapan-hutan-adat-hanya-1-dari-realisasi-perhutanan-sosial/

Selasa, Februari 26, 2019

Pengertian Reduced Impact Logging

Sejarah kelahiran teknik pembalakan ramah lingkungan atau Reduced Impact Logging dilandasi oleh kesadaran bahwa penerapan teknik pembalakan konvensional memberi kontribusi yang tinggi terhadap tingkat kerusakan hutan. Dengan ciri-ciri berupa kegiatan tebang dan jual, praktek penebangan konvensional telah mengakibatkan kerusakan hutan mulai dari terbukanya lahan hutan, kerusakan tanah, erosi, kerusakan tegakan tinggal, dan penumpukan limbah penebangan.

Pengertian Reduced Impact Logging (RIL)
Pembalakan ramah lingkungan berdasarkan terminologi konsep RIL mengacu pada definisi low impact logging (LIL), reduced impact timber harvesting (RITH), pembalakan yang direncanakan, serta pembalakan yang bernuansa lingkungan. Berdasarkan terminologi di atas, RIL didefinisikan sebagai teknik pembalakan hutan yang direncanakan secara intensif dengan sistem operasi lapangan menggunakan teknik pelaksanaan dan peralatan yang tepat serta diawasi secara terpadu untuk meminimalkan kerusakan tanah maupun kerusakan tegakan tinggal. Oleh karena itu RIL merupakan salah satu teknik yang dapat menggantikan teknik pembalakan konvensional yang terbukti menjadi penyebab degradasi fungsi ekologis hutan.

Tujuan Teknik RIL
Tujuan penerapan teknik RIL antara lain adalah :
- Meminimalkan dampak negatif aktivitas pembalakan hutan pada lingkungan seperti erosi, sedimentasi, maupun pengeruhan air sungai
- Meningkatkan efisiensi pembalakan melalui pengurangan volume limbah penebangan, biaya pembalakan dan peningkatan kualitas produksi kayu
- Menciptakan ruang tumbuh yang optimal bagi tegakan tinggal dengan memaksimalkan pertumbuhan pohon dan hasil hutan non-kayu
- Meningkatkan pendapatan, kesehatan, dan keselamatan pekerja maupun masyarakat, serta
- Menciptakan prakondisi pengelolaan hutan tropis secara lestari

Komponen Penting dalam Teknik RIL
Dalam pelaksanaannya, untuk mengoptimalkan dampak positif yang dikontribusikan dari implementasi teknik RIL, terdapat 7 (tujuh) komponen penting yang harus disiapkan dan dilaksanakan.
1. Survei yang bertujuan mendapatkan data yang diperlukan untuk perencanaan kegiatan pembalakan.
2. Pemetaan lokasi pohon dan topografi sebagai petunjuk penyaradan dan penebangan.
3. Pembersihan jenis-jenis liana pada kegiatan pembalakan untuk memudahkan penebangan dan penyaradan
4. Pelatihan yang baik untuk mengikuti dinamika ilmu pengetahuan.
5. Pengarahan rutin tentang teknik dan prosedur pembalakan untuk mengikuti dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi.
6. Perlakuan pasca penebangan.
7. Pengadopsian sistem pembayaran berupa gaji dan insentif yang disesuaikan dengan jumlah maupun kualitas produksi yang dihasilkan untuk menjamin kesejahteraan tenaga kerja.

Tahapan Kegiatan RIL di Indonesia
Kegiatan memanen hasil hutan kayu dengan teknik RIL di Indonesia, secara konsep teknis mengacu pada sistem silvikultur TPTI. Implementasi konsepsi teknis RIL dalam TPTI terbagi dalam 4 tahap yaitu:
- Et-3 (tiga tahun sebelum penebangan) meliputi kegiatan penataan areal kerja
- Et-2 (dua tahun sebelum penebangan) meliputi kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP), survei topografi, pembuatan peta pohon pada peta kontur, dan perencanaan pembukaan wilayah hutan (PWH)
- Et-1 (satu tahun sebelum penebangan) meliputi kegiatan perencanaan pemanenan, pembukaan wilayah hutan, dan persiapan lapangan sebelum penebangan.
- Et-0 (pada tahun penebangan) meliputi kegiatan pembukaan tempat pengumpulan kayu (TPn) dan pembukaan jalan sarad, penebangan, dan pembagian batang, operasi penyaradan, pembagian batang, pengulitan, dan penumpukan kayu di TPn, pengangkutan kayu, perbaikan areal pasca panen, serta inspeksi dan pelaporan.

Pada prinsipnya teknik RIL sendiri secara konsep di bagi ke dalam 4 jenis kegiatan yaitu:
1. Kegiatan perencanaan pemanenan yang meliputi 3 kegiatan utama yaitu kegiatan sebelum perencanaan penebangan, penataan zona penebangan, dan perencanaan penebangan.
2. Kegiatan operasi pemanenan yang meliputi 3 kegiatan utama yaitu supervisi operasi pembalakan, operasi penebangan, dan operasi penyaradan dan penumpukan kayu di TPn
3. Kegiatan pemeliharaan yang meliputi 3 kegiatan utama yaitu pemeliharaan dan servis, kesehatan kamp, dan keselamatan kerja
4. Kegiatan pasca panen yang meliputi 7 tahap kegiatan utama yaitu penutupan jalan, penutupan jalan
sarad, penutupan penyeberangan sementara, penutupan tambang, penutupan TPn, penutupan kamp dan bengkel, dan pemeliharaan rutin.

sumber

Senin, Februari 18, 2019

Pohon Puspa (Schima wallichii)

PUSPA (Schima wallichii)

Nama Umum: puspa, seru, ceheru, cihu, parakpak

Kingdom                  : Plantae
Subkingdom             : Tracheobionta
Superdivisi               : Spermatophyta
Divisi                       : Magnoliophyta
Kelas                        : Magnoliopsida
Subkelas                   : Dilleniidae
Ordo                         : Theales
Famili                       : Theaceae
Genus                       : Schima
Spesies                     : Schima wallichii (DC.) Korth.

Jumat, Februari 15, 2019

MILAS (Parastemon urophyllum)

MILAS (Parastemon urophyllum)

Nama Umum Indonesia: milas, ilas, malas

Klasifikasi
Kingdom               : Plantae
Subkingdom          : Tracheobionta
Superdivisi            : Spermatophyta
Divisi                    : Magnoliophyta
Kelas                     : Magnoliopsida
Subkelas                : Rosidae
Ordo                      : Rosales
Famili                    : Rosaceae
Genus                   : Parastemon
Spesies                 : Parastemon urophyllum A. DC

Senin, Februari 11, 2019

Buah Lapiu buah khas Kalimantan Yang Makin Langka

Tidak berlebihan bila beberapa pakar mengatakan bahwa Indonesia sebagai Negara kepulauan dengan 17.244 buah pulau, yang memiliki Rain Forest terbesar kedua di dunia kaya akan Biodiversity Fauna dan Flora, terlebih dengan posisinya yang terletak antara dua benua membuatnya memiliki keragaman Biota yang tinggi dari kedua benua tersebut.

Salah satunya buah khas Kalimantan terutama didaerah  sepanjang tepi sungai yang ada di Kalimantan Utara yaitu Buah Lapiu yang mirip dengan jengkol. Pohon Lapiu menempel dan merambat dari pohon ke pohon, menurut beliau pohon ini kalau di potong batangnya akan mengeluarkan air, Daun berbentuk segi empat memanjang (sprt trapesium), dalam satu daun terdapat empat tulang daun dari pangkal daun, satu tangkai terdapat dua lembar daun dari satu tangkai pada cabang pohon merambat dan berwarna Hijau,  batang yang berwarna kayu (Kuning kecoklatan) buah berbentuk polongan (biasa) antara 4 – 6 polong  dan bila telah tua akan berwarna Coklat kehitaman serta merekah terbelah dua maka  buah biji-biji akan berjatuhan  ketanah.    

Buah Lapiu

Bentuk buah Lapiu merupakan biji agak pipih  berbentuk  bundar (diameter 3-7 Cm) terbungkus kulit ari yang tipis dan licin berwarna Coklat kemerahan, sedang isinya berwarna putih kekuningan terbelah dua.  Buah Lapiu mungkin masih se Famili dengan buah Jengkol yang termasuk buah polong-polongan (bentuk sprt terpelintir) dengan nama latin Archidendron panviflorum (Benth), Famili Fabaceae namun buah Jengkol lebih tebal, bundar,  besar dan tumbuhan pohon namun dari rasa buah Lapiu lebih berasa gurih dan efek bau setelah memakannya tidak ada. Cara memasaknya pun sangat mudah yaitu hanya dengan direbus sampai empuk dan matang ditambah sedikit garam lalu di dinginkan lalu di kupas dan lepiu pun siap dimakan. Warna buahnya kuning pudar dan dagingnya agak sedikit berminyak ketika direbus Rasa buah ini seperti umbi-umbian manis dan makanan ini cocok untuk ngemil dan bersama keluarga. Pohon Lapiu ini hanya dapat berbuah sekali dalam 3-5 tahun. 

Buah Lapiu sangat dekat dengan kehidupan  Masyarakat Dayak pesisir seperti Tidung yang banyak mendiami daerah pantai Kalimantan Utara utamanya di daerah sepanjang sungai besar.  Buah Lapiu juga termasuk tanaman lokal daerah berau dan mereka menyebutnya buah Ginalang Leppiu.   Musim berbuahnya hampir bersamaan dengan musim buah-buahan Kalimantan lainnya yaitu Kapul, Durian, Ellai, Langsat, dan Mangga.

Daun Lapiu


Minggu, Juli 27, 2014

Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan

Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan
Nomor : P.5/VI-BPPHH/2014
Tentang Standar Dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK) Selengkapnya dapat diunduh pada tautan berikut : P.5/VI-BPPHH/2014

Senin, Mei 26, 2014

Bintaro (Cerbera odollam)

Bintaro
Cerbera odollam Gaertn.
Nama umum
Indonesia:Bintaro, kayu susu, kenyen putih, koyandan, mangga prabu, mangga laut
Inggris:Indian suicide tree, grey milkwood, pong pong tree, sea mango
Cerbera odollam
Bintaro

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Gentianales
Famili: Apocynaceae
Genus: Cerbera
Spesies: Cerbera odollam Gaertn.

sumber: http://www.plantamor.com/index.php?plant=2135

Mahkota Duri (Euphorbia milii)

Mahkota Duri
Euphorbia milii Ch.Des Moulins
Nama umum
Indonesia:Mahkota duri, pakis giwang,
Inggris:Crown-of-thorns
Cina:Tie hai tang
Euphorbia milii
Mahkota Duri

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Euphorbiales
Famili: Euphorbiaceae
Genus: Euphorbia
Spesies: Euphorbia milii Ch.Des Moulins

sumber: http://www.plantamor.com

Mindi (Melia azedarach)

Mindi
Melia azedarach L.
Nama umum
Indonesia:Mindi, mindi kecil, renceh, gringging, cakra-cikri
Inggris:Chinaberry, China tree
Vietnam:may rien
Cina:ku lian zi
Melia azedarach
Mindi

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Sapindales
Famili: Meliaceae
Genus: Melia
Spesies: Melia azedarach L.

sumber: http://www.plantamor.com

Buni (Antidesma bunius)

Buni
Antidesma bunius (L.) Spreng
Nama umum
Indonesia:Buni, wuni (Jawa), huni (Sunda)
Inggris:Bignay, Chinese laurel
Pilipina:Bignay



Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Euphorbiales
Famili: Euphorbiaceae
Genus: Antidesma
Spesies: Antidesma bunius (L.) Spreng

sumber: http://www.plantamor.com

Sabtu, Maret 01, 2014

Deskripsi Trenggiling

Klasifikasi Trenggiling sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas              : Mammalia
Ordo               : Pholidota
Famili              : Manidae
Genus              : Manis
Spesies            : Manis javanica

Trenggiling termasuk ke dalam ordo pholidota yang artinya bersisik banyak. Hewan ini memiliki 20 variasi spesies yang ada didunia, salah satu contohnya ialah Manis javanica yang hidup di hutan hujan tropis dataran rendah yang dapat ditemukan di Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia). Trenggiling merupakan hewan unik karena memiliki kemampuan untuk menggulungkan tubuhnya.



Morfologi, Anatomi dan Tingkah Laku Trenggiling

Hewan ini juga memiliki morfologi tubuh yang unik. Permukaan tubuh bagian dorsal terdapat sisik-sisik yang keras dan diantara sisik tersebut terdapat rambut-rambut yang kasar. Sisik-sisiknya merupakan derivat kulit yang berkembang dari lapisan basal epidermis. Sisik ini hanya tumbuh pada bagian dorsal tubuhnya dan berwarna coklat terang, sedangkan pada bagian ventral tubuhnya tidak terdapat sisik dan hanya terdapat rambut-rambut.
 
 
Adapun ketujuh spesies yang masih hidup adalah sebagai berikut :
1.      Trenggiling India (Manis crassicaudata) , terdapat di India dan Srilangka. Panjang tubuh dan kepala speses ini 60 cm, panjang ekor 45-50 cm. Sisik berwarna coklat muda kekuning-kuningan, kulitnya berwarna coklat.
2.    Trenggiling Cina (M. Pentadactyla) , terdapat di Taiwan dan R.R.Cina Selatan. Panjang tubuh dan kepalanya 50-60 cm, ekor 30-40 cm. Warna sisik coklat kehitam-hitaman, sedangkan kulitnya berwarna putih kelabu.
3.      Trenggiling Jawa ditemukan di Semenanjung Malaysia, Burma, Indocina (Vietnam, Laos, Kampuchea) dan pulau-pulau Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Panjang kepala dan tubuh spesies ini 50-60 cm, ekor 50-80 cm. Warna sisik kuning sawo sampai coklat kehitam-hitaman dan kulit berwarna  agak putih. Ketiga spesies ini berbeda dengan spesies Afrika, antara lain dengan adanya bulu-bulu diantara sisik.
Di Afrika terdapat empat spesies yang satu dengan yang lain berbeda. Trenggiling-pohon-bersisik-kecil (M. tricuspis), terdapat di rimba raya tropis, mulai dari Sierra Leone sampai Afrika tengah. Panjang tubuh sampai kepala 35-45 cm, ekor 40-50 cm. Warna sisik kelabu kecoklat-coklatan sampai coklat tua dan kulitnya berwarna putih. Trenggiling-berekor-panjang (M. tetradactyla) yang terdapat di daerah-hutan hujan Afrika lebih panjang dibandingkan dengan trenggiling –pohon-bersisik kecil. Panjang kepala dan tubuh hewan ini 30-35 cm, ekor 60-70 cm. Sisik berwarna coklat tua dengan pinggir kekuning-kuningan, sedangkan kulitnya berwarna coklat tua sampai agak hitam. Trenggiling raksasa (M. gigantea) juga menghuni hutan-hujan tropis. Panjang tubuh dan kepala hewan ini 75-80 cm, ekor 55-65 cm. Sisik berwarna coklat keabu-abuan dan kulit berwarna agak putih. Trenggiling Temminck (M. temminck) hidupnya di padang belukar Afrika timur, mulai dari Enthiopia sampai propinsi Cape.

Pada hewan jantan dan betina terdapat perbedaan, yaitu pada trenggiling jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan trenggiling betina. Rata-rata panjang tubuhnya adalah 75-150 cm dengan panjang ekor 45-65% dari panjang total tubuhnya. Berat tubuh trenggiling sekitar 2 kg. Memiliki ukuran kepala yang kecil dan mata yang kecil yang dilindungi oleh kelopak mata yang tebal. Kelopak mata ini berfungsi untuk melundungi mata dari gigitan semut. Trenggiling memiliki daun telinga berukuran kecil dan bentuknya seperti bulan sabit, juga memiliki lidah yang dapat menjulur panjang dan dapat dihubungkan oleh oto-otot. Lidah ini bentuknya ramping dan panjang. Bentuk dari lidahnya akan semakin menipis dan menyempit pada bagian apex, hal ini membuat lidahtrenggiling menyerupai cacing dan bersifat lengket, sehingga memudahkan trenggiling untuk mencari makan.
Tubuh trenggiling ditunjang oleh empat kaki yang pendek yang tiap-tiap kaki dilengkapi lima jari dan kuku cakar yang panjang dan  melengkung. Kuku cakar pada kaki depan biasanya lebih panjang berperan ketika trenggiling menggali lubang semut atau rayap.
Perilaku hewan ini juga tergolong unik saat mencari makan. Trenggiling merupakan hewan plantigradi, yaitu hewan yang cara berjalannya dengan suluruh tapak kakinya diatas tanah, padahal seluruh kakinya dilengkapi oleh kuku-kuku yang panjang, namun ini tidak menghalangi trenggiling ketika bergerak. Kuku-kukunya akan dilipat ke dalam dan bertumpu pada bagian luar dari telapak kakinya.

Keunikan yang dimiliki oleh trenggiling selain hal-hal diatas adalah upaya pertahanan diri dari predatornya. Trenggiling merupakan satwa yang menjadi mangsa beberapa jenis karnivora besar di habitat aslinya. Oleh karena itu trenggiling membuat mekanisme pertahanan diri dengan cara menggulungkan tubuhnya jika terancam. 

trenggiling yang menggulungkan tubuhnya.



Menurut tipenya trenggiling memiliki 12-16 ruas tulang punggung, 5-6 ruas tulang pinggang, 2-4 ruas tulang kelangkang dan 21-47 ruas tulangh ekor. Trenggiling berekor panjang mempunyai ruas tulang belakang yang paling banyak (46-47) dari semua binatang menyusui. Juga tonjolan berupa pedang tulang dada pada trenggiling malaysia, trenggiling cina. Pada trenggiling pohon bersisik kecil dan trenggiling berekor panjang tonjolan berbentuk pedang ini bermuara pada dua bagian bertulang rawan dan yang pada ujungnya tumbuh menjadi satu, kemudian pada kedua sisinya terdapat tonjolan bertulang rawan yang menjulur ke depan. Bentuk penyesuaian ini ada kaitan dengan lidahnya yang sangat panjang. Trenggiling tidak mempunyai tulang selangka. Kaki belakang yang bentuknya seperti tiang dengan sol yang besar berperan penting dalam gerakan hewan ini. Sering berjalan dengan sikap agak tegak dengan kaki depan hampir tak menyentuh tanah. Ekor yang diulurkan sedikit ke atas tanah bekerja sebgai alat keseimbangan. Bila hewan ini mengalami iklim yang buruk bagian depan tubuh yang diangkat, kaki belakang dan ekor dipakai untuk duduk di atasnya. Semua trenggiling mampu menggulung seperti bola.

Untuk melakukan gerakan berpindah tempat seperti berjalan dan berlari maka dibutuhkan sepasang kaki depan dan kaki belakang. Umumnya alat gerak tubuh dibentuk oleh dua unsur, yaitu alat gerak pasif dan alat gerak aktif. Tulang merupakan alat gerak pasif yang terbagi menjadi tulang, tulang rawan, ligamentum dan tendo. Tulang dan tulang rawan membentuk kerangka yang fungsinya untuk memberi bentuk pada tubuh, melindungi organ-organ tubuh yang lunak, dan tempat melekatnya otot-otot kerangka. Sedangkan tendo merupakan jaringan yang menghubungkan otot dengan tulang.
Otot merupakan alat gerak aktif, ketika otot-otot berkontraksi, otot akan menarik tulang yang menyebabkan terjadinya gerakan.
Alat gerak hewan dijalankan oleh tulang-tulang apendikular, yaitu tulang-tulang anggota gerak tubuh yang terdiri atas tulang pembentuk kaki depan dan kaki belakang. Kaki depan dan kaki belakang memiliki perbedaan yaitu kaki belakang memiliki persendian antar tulang dengan tubuh sedangkan kaki depan dihubungkan oleh otot-otot tubuh. Perbedaan ini dikarenakan fungsi dari kaki depan sebagai penunjang atau penahan berat tubuh.


Trenggiling yang hidup di tanah karena kekuatannya yang luar biasa mampu membongkar gundukan rayap yang paling keras. Serangga dijilat dengan lidahnya yang secara teratur dibasahi oleh cairan kelenjar ludah. Lambung bekerja sebagai alat pengunyah. Karena hewan ini tidak bergigi, semut dan rayap sampai di lambung secara utuh kemudian dihaluskan disana. Untuk itu, lambung tidak dilapisi selaput lendir melainkan epitel pipih berlapis zat tanduk. Trenggiling pohon bersisik kecil dapat memakan serangga sampai 200 gram satu malam. Treenggiling raksasa dapat melahap lebih banyak lagi. Karena tidak hanya memakan serangga dari gundukan rayap, maka ia juga memakan berbagai jenis semut dan rayap yang lalu-lalang pada malam hari.
Trenggiling memiliki sepasang puting. Trenggiling berekor panjang dan trenggiling pohon bersisik kecil hidup sendiri-sendiri. Jantan dan betina hanya bertemu pada musim kawin. Pada tipe-tipe yang hidup di Asia nampak tinggal berpasangan di lubang atau goa bawah tanah. Dulu trenggiling dikelompokan sebagai Edentata bersama kus-kus, pemakan-pemakan semut lain, dan armadilo, tetapi sekarang dianggap sebagai ordo tersendiri, yakni pholidota.

Trenggiling memiliki struktur anatomi untuk reproduksi yang tidak berbeda dengan mamalia lainnya dan  memiliki kelenjar susu sebanyak dua pasang. Trenggiling diperkirakan berkembangbiak pada musim gugur atau kemarau dan melahirkan dimusim hujan dan semi. Jumlah anak yang dilahirkan umumnya satu ekor dan lama kebuntingan rata-rata sekitar empat bulan. Masa sapih anak trenggiling sekitar tiga bulan dan kematangan seksual dicapai pada saat anak berumur satu tahun. Induk trenggiling diperkirakan dapat bereproduksi sepanajang tahun. Tidak banyak informasi yang dapat disampaikan mengenai reproduksi ini.

anak trenggiling yang berada diatas ekor induknya.

Ini berhubungan dengan aktivitas makan dan minum pada trenggiling, yaitu defekasi dan urinasi. Defekasi ialah aktivitas membuang metabolisme dalam bentuk padat dan urinasi dilakukan dengan cara membuang metabolisme dalam bentuk cair


sumber http://manisjavani.blogspot.com/

Tanaman Kehutanan Akasia

Ada dua jenis akasia yang sudah umum ditanam, kedua jenis itu adalah magi-magi gunong (Acacia mangium) dan akor (Acacia auriculiformis). Keduanya termasuk dalam famili Caesalpinaceae, suku Fabaceae dan marga Acacia.

Magi-magi gunong (Acacia mangium)

Daerah penyebaran alaminya meliputi daerah Queensland, Australia bagian utara, Irian Jaya bagian utara, Kepulauan Aru, Maluku Selatan, Seram bagian barat, dan daerah Bentuas Kalimantan Timur. Satu-satunya faktor pembatas Acacia mangium yaitu tidak dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian tempat lebih dari 300m di atas permukaan laut.

Ciri tanaman ini adalah bentuk batangnya bulat lurus , bercabang banyak (simpodial), berkulit tebal agak kasar, dan kadang beralur kecil dengan warna cokelat muda. Pohon yang dewasa tingginya dapat mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai lebih dari 75 cm. Tajuknya menyerupai kerucut sampai lonjong. Sewaktu tanaman masih muda ( dalam persemaian) memiliki daun majemuk ganda. Sedangkan setelah dewasa muncul daun semu tunggal (phyllodia). Lebar daun di bagian tengah antara 4-10 cm dengan panjang antara 10-26cm. Pada umur 2 tahun tanaman ini sudah mulai berbunga dan berbuah. Akan tetapi biji yang dihasilkan belum layak menjadi sumber benih. Buah yang baik untuk dijadikan benih berasal dari tanaman yang telah berumur minimal 5 tahun atau lebih. Musim bungan terjadi antara bulan Maret-April sehingga buah akan masak antara bulan September-Oktober.

Akor (Acacia auriculiformis)

Acacia auriculiformis yang bernama daerah akor atau ori akor penyebaran alaminya meliputi Australia, Maluku, dan Irian Jaya. Dapat tumbuh pada tanah yang kurag subur dengan curah hujan tahunan 1 080-2 100 mm. Ketinggian tempat yang ideal untuk tanaman ini berkisar antara 0-400 m dpl.

Pada umumnya jenis ini dapat mencapai tinggi 15 m dengan diameter batang ± 50 cm. Pada waktu muda pertumbuhannya sangat cepat. Sehingga umur 4 tahunsaja dapat mencapai tinggi 10 m dengan diameter batang 6.6 cm. Bentuk batangnya kurang baik dengan percabangan yang rendah dan banyak. Tajuknya lebar agak rapat dengan ukuran panjang daun 150-400 mm dan lebar 100-180 mm. Musim berbuahnya pada bulan Juli-November.
 
http://tipspetani.blogspot.com/2011/02/mengenal-tanaman-kehutanan-akasia.html
Gambar http://rahmanandra.blogspot.com/2011/01/acacia-mangium-aka-akasia-daun-lebar.html

Minggu, Januari 12, 2014

Kayu Ulin (Kayu Besi)

Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) atau biasa di sebut sebagai kayu besi merupakan kayu terkuat dari habitat aslinya, Pulau Kalimantan. Kayu Ulin juga sebar di kawasan Asia tenggara, seperti Pulau Sumatra, Bangka, Belitung, Kalimantan, Kepulauan Sulu, Sabah, Sarawak, dan Pulau Palawan di Pilipina di awal tahun 1900-an. Namun kini, Populasi kayu ulin terancam punah. Eksploitasi besar-besaran ulin di masa lalu membuat pohon ini musnah di beberapa negara, dan menjadikannya flora yang dilindungi di tanah air. Perdagangan dan pemanfaatannya mendapat pengawasan ketat dari pemerintah. 

Tinggi pohon dapat mencapai 35 m dengan panjang batang bebas cabang 5-20 m, diameter 60-80 cm, dan bahkan bisa mencapai 50 cm. Ulin umumnya tumbuh pada ketinggian 5 – 400 m di atas permukaan laut dengan medan datar sampai miring, tumbuh terpencar atau mengelompok dalam hutan campuran. Ciri utama ulin adalah batangnya yang lurus dengan banir yang tumbuh tidak secara melingkar. Kulit pohonnya licin, berwarna kuning atau kelabu muda. Ulin yang sudah dipotong akan menghitam jika lama terendam air. Tekstur kayunya kasar, sangat keras sehingga sulit digergaji, dan baunya aromatis. 

Kayu Besi adalah salah satu jenis kayu khas dari salah satu pulau di Indonesia yakni pulau Kalimantan. Kayu yang memiliki nilai komersial cukup baik di pasaran ini memiliki ciri-ciri berwarna kuning coklat atau ada juga yang berwarna coklat kelabu kehitam-hitaman pada bagian teras di permukaan kayunya. Sedangkan bagian gubalnya berwarna coklat kuning muda. Antara bagian teras dan gubal terlihat batas yang jelas. 

 Pohon yang tak banyak cabangnya ini memperbanyak diri dengan buah dan biji. Ulin bisa tumbuh dengan baik di tanah yang mudah meresapkan air, biasanya pada tanah berpasir. Meskipun menyukai udara lembab, ulin bisa tumbuh di daerah kering. Hingga umur 3 tahun, ulin tak butuh banyak cahaya. Setelah itu, sedikit demi sedikit membutuhkan cahaya sampai penuh. 

Keistimewaan kayu Ulin, selain kuat dan awet (termasuk dalam kelas kuat I dan kelas awet I) adalah tahan terhadap serangan rayap dan serangga penggerek. Kayu Ulin juga tahan terhadap perubahan suhu, kelembaban, dan pengaruh air laut. Karenanya jenis ini banyak digunakan untuk konstruksi jembatan, dermaga, bangunan yang terendam air, bantalan rel kereta api, perkapalan, dll. Ulin juga digunakan sebagai bahan sirap (atap) karena mudah dibelah. Namun, sebagai bahan baku furniture jarang dijumpai karena sifat kayunya yang sangat berat dan keras. Kayu Ulin dapat digergaji dan diserut dengan hasil baik, tetapi sangat cepat menumpulkan alat-alat karena kayunya sangat keras. Kayu Ulin dapat dibor dan dibubut dengan baik, tetapi sukar direkat dengan perekat sintetik dan harus dibor dahulu sebelum disekrup atau dipaku, karena cenderung untuk pecah dalam arah radial. 

PEREDARAN DAN PEMANFAATAN KAYU RAMIN

Kayu Ramin (Gonystylus spp) telah menjadi primadona sejak lama. Penampakan fisik jenis ramin yang bertekstur halus, warna yang cerah, bentuk permukaan yang rata serta mudah dalam pengerjaannya,membuat jenis ini cukup digemari di pasar industri pengolahan kayu di dunia. Sehingga  kayu ramin banyak dipanen, dan bisa ditebak pada akhirnya, terjadi kelangkaan tegakan kayu ramin.

Perdagangan kayu ramin dilarang (sementara) baik kayu bulat maupun olahan sejak dikeluarkannya Keputusan Menteri Kehutanan No. 127/Kpts-V/2011. Keputusan ini keluar karena disinyalir penebangan kayu jenis  ramin ini  telah merambah ke kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi;  perdagangannya telah  meluas pada lingkup nasional maupun internasional, untuk itu langkah pencegahan meluasnya penebangan liar dan atau perdagangan liar kayu ramin diperlukan.

Upaya penyelamatan ramin juga dilakukan dengan memasukkan raminsebagai spesies yang dilindungi dalam Convention on International Trade of Endangered Species (CITES) Appendix II. CITES, dalam sidangnya di Bangkok, Thailand tanggal 3-14 Oktober 2004 menyepakati kayu Ramin masuk kedalam golongan Apendix II, sehingga perdagangan kayu ramin harus diatur dan diawasi secara ketat tidak hanya oleh negara produsen tetapi juga seluruh negara aggota CITES. Kayu Ramin masuk Appendix II dengan anotasi I, yaitu memasukkan seluruh bagian dan turunannya.

Pengaturan pemanfaatan dan peredaran kayu ramin diterbitkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 168/Kpts-IV/2011 jo. Peraturan Menteri Kehutanan No. 1613/Kpts-II/2001 tentang Pemanfaatan dan Peredaran Kayu Ramin, sebagai tindak lanjut dari Keputusan Menteri Kehutanan No. 127/Kpts-V/2011.

Diantara bentuk pengaturan pemanfaatan dan peredaran kayu ramin sesuai  Keputusan Menteri Kehutanan No. 168/Kpts-IV/2011 adalah adanya  larangan penebangan ramin di seluruh kawasan hutan tetap, di kawasan hutan yang dapat dikonversi, dan hutan hak, kecuali terhadap HPH (IUPHHK-HA) yang telah memperoleh Sertifikat Pengelolaan Hutan Alam Lestari (SPHAL).  

Selanjutnya peredaran dan pemanfaatan kayu ramin dari IUPHHK-HA yang telah memperoleh Sertifikat Pengelolaan Hutan Alam Lestari, untuk dalam negeri wajib dilengkapi bersama-sama dengan dokumen SKSHH (sekarang SKSKB) yang diterbitkan oleh pejabat penerbit SKSHH (sekarang Pejabat Penerbit SKSKB). Sedangkan untuk keperluan ekspor diterbitkan Surat Angkut  Tumbuhan dan Satwa Liar ke Luar Negeri (SATS-LN).

Untuk mendapatkan Surat Angkutan Tumbuhan dan Satwa Liar ke luar negeri (SATS-LN) perusahan wajib mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan dengan melampirkan dokumen asal usul bahan baku (dokumen SKSKB) dan rekomendasi dari Dinas Kehutanan Provinsi.


Hingga saat tulisan ini diposting, Keputusan Menteri Kehutanan  127/Kpts-V/2011. Dan No. 168/Kpts-IV/2011 jo. Peraturan Menteri Kehutanan No. 1613/Kpts-II/2001 tentang Pemanfaatan dan Peredaran Kayu Ramin, masih tetap berlaku alias belum dicabut.