Sisi Positif dari Rokok dan Kopi

Hampir semua yang ada di alam ini ada manfaat dan kerugiannya. Sebagian anti rokok mengutip pada label di belakang rokok : merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Kopi dapat menyebabkan maag. Dsb. Ya itu benar, tapi mengapa kopi dan rokok tetap ada bila ia seperti racun?

Sebagian berdalih politik, ekonomi, sosial dsb. Fakta ilmiah akan berdalih, ya, ilmiah. Mari kita lihat apa saja hasil penelitian yang mengungkapkan manfaat kopi dan rokok:
Penyakit Parkinson
Baik kopi dan rokok sama-sama mengurangi resiko penyakit parkinson. Dalam Journal of Alzheimer’s Disease, Vo. 20, Supplement 1, 2010, pp: 221-238 ditunjukkan kalau ada asosiasi negatif antara asupan kafein dan resiko penyakit parkinson. Dalam jurnal Neurology tanggal 10 Maret 2010, ditunjukkan kalau perokok jangka panjang berkurang resikonya menderita Parkinson.
Gliomas
Gliomas adalah sejenis tumor otak. Penelitian dalam American Journal of Clinical Nutrition bulan September 2010 menunjukkan kalau konsumsi kopi dan teh mengurangi resiko glioma.
Ingatan dan Fokus
Dalam jurnal Neuron tanggal 2007, nikotin di dalam rokok meningkatkan ingatan dan fokus.
Kanker Faring dan Oral
Peminum kopi berkala ditemukan dalam penelitian yang diterbitkan bulan Juni 2010 kalau ia mengalami penurunan resiko kanker oral dan faring sebesar 39 persen.
Sindrom Karposi
Sindrom Karposi adalah sejenis penyakit kulit langka. Bulan maret 2001, Lembaga Penelitian Kanker Nasional menemukan kalau resiko sindrom Karposi menurun pada perokok tetap.
Kanker Payudara
Pada wanita dengan mutasi gen tertentu, resiko kanker payudara justru berkurang jika mereka merokok. Demikian hasil penelitian yang diterbitkan tahun 1998 dalam Journal of the National Cancer Institute. Kopi juga berpengaruh yang sama, menurunkan resiko kanker payudara pada wanita yang meminum kopi seduh, seperti dalam  paper yang diterbitkan bulan Juni 2010.
Ulcerative Colitis
Ulcerative colitis adalah sejenis penyakit pencernaan yang menyerang usus besar. Hasil penelitian bulan Juni 1999 menunjukkan resiko menderita ulcer colitive lebih rendah pada perokok.
Kanker Usus Besar
Penelitian dalam journal of Agricultural and Food Chemistry bulan November 2003 menunjukkan kalau antioksidan yang terdapat dalam kopi melindungi peminum terhadap kanker usus besar.
Kerusakan Sendi
Bagi penderita rheumatoid arthritis, sifat anti pendarahan pada nikotin menurunkan laju kerusakan sendi. Demikian laporan tahun 2007.
Gout
Gout adalah sejenis rasa sakit sendi. Yayasan Arthritis tahun 2007 menemukan kalau pria yang minum empat cangkir kopi atau lebih dalam sehari memiliki resiko gout yang lebih rendah.
Orang meminum kopi karena mereka suka rasanya dan efek stimulan dalam kafein, bukan nilai gizinya. Kafein biasanya adalah komponen yang paling merusak.   Karenanya asupan kafein masyarakat harus dibatasi hanya 3 gelas kopi (400 mg) per hari untuk mengurangi resikonya.
Dari contoh-contoh penelitian di atas, sepertinya tidak ada usaha serius di kalangan ilmiah untuk melakukan penelitian besar-besaran untuk menunjukkan kopi dan rokok boleh dikonsumsi. Dalam studi-studi di atas, sebagian besar kesimpulan dibuat dengan pernyataan kalau penelitian lebih lanjut dibutuhkan atau kalau bahaya lain tidak diukur.
Bertahun-tahun lalu, perusahaan tembakau mungkin mampu menghasilkan bukti kalau merokok tidak terlalu berbahaya. Tapi sekarang, kita tahu sekarang kalau merokok memang jauh lebih merusak daripada menyehatkan. Ia memicu lebih banyak jenis kanker umum daripada menghambat beberapa jenis kanker langka. Yang kami tunjukkan disini sama sekali tidak bertujuan menyarankan anda merokok. Kami hanya menunjukkan, bahkan racunpun dapat menjadi obat.

www.faktailmiah.com

Perkebunan Kelapa Sawit di Kalimantan Hasilkan Sejumlah Besar Emisi Karbon Dioksida

Produksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan akan memerlukan evaluasi ulang terhadap pemberian kontrak sewa lahan perkebunan kelapa sawit yang berlokasi di atas lahan hutan.

Pengembangan produksi kelapa sawit di pulau Kalimantan telah mengakibatkan kerusakan hutan dan pelepasan emisi karbon dioksida secara besar-besaran, demikian hasil studi di bawah pimpinan para peneliti dari Universitas Stanford dan Universitas Yale.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change ini menunjukkan bahwa pengundulan hutan untuk pengembangan kelapa sawit di Kalimantan, Indonesia, menjadi sumber emisi karbon dioksida global yang signifikan.
Ekspansi perkebunan kelapa sawit diperkirakan akan menyumbang lebih dari 558 juta metrik ton karbon dioksida ke atmosfir di tahun 2020 — jumlah yang lebih besar dari keseluruhan emisi bahan bakar fosil di Kanada belakangan ini.
Indonesia merupakan penghasil utama minyak kelapa sawit, yang secara bersamaan menempati 30 persen penggunaan minyak nabati di seluruh dunia, dan yang juga bisa digunakan untuk biodiesel. Sebagian besar pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dikerjakan di pulau Kalimantan, yang luas areanya hampir menyamai luas penggabungan Kalifornia dan Florida di Amerika Serikat.
Di tahun 2010 sendiri, pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit di Kalimantan sudah melepas lebih dari 140 juta metrik ton karbon dioksida — jumlah yang setara dengan emisi tahuan dari 28 juta unit mobil.
Sebagai rumah bagi hutan tropis terbesar ketiga di dunia, Indonesia juga merupakan salah satu negara terbesar di dunia yang menyumbang gas rumah kaca akibat dari hilangnya hutan-hutan kaya karbon dan lahan gambut. Sejak tahun 1990, pengembangan perkebunan kelapa sawit telah membabat hutan seluas 16.000 kilometer persegi di Kalimantan — kira-kira sama luasnya dengan Hawaii. Hal ini mengakibatkan hilangnya 60 persen dari total hutan di Kalimantan pada waktu itu, catat para penulis studi.
“Meskipun masih berlangsung perdebatan dalam hal penjadwalan jenis dan penggunaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit, sektor ini justru berkembang pesat selama 20 tahun terakhir,” kata pemimpin proyek Lisa M. Curran, seorang profesor antropologi ekologi di Stanford dan rekan senior di Institut Lingkungan Stanford Woods. Dengan menggabungkan pengukuran lapangan dengan analisis citra satelit beresolusi tinggi, studi ini mengevaluasi lahan-lahan yang ditargetkan untuk menjadi perkebunan serta mendokumentasikan emisi karbonnya ketika dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.
Para peneliti studi membuat peta komprehensif pertama dari ekspansi perkebunan kelapa sawit yang berlangsung dari tahun 1990 hingga 2010. Dengan menggunakan teknologi klasifikasi mutakhir, yang dikembangkan oleh rekan penulis studi Gregory Asner dari Departemen Ekologi Global Institut Carnegie, para peneliti menghitung jenis-jenis lahan yang dibuka untuk perkebunan kelapa sawit, sekaligus emisi karbon dan penyerapan dari perkebunan kelapa sawit.
“Sebuah terobosan besar terjadi saat kami mampu membedakan bukan hanya lahan hutan dan non-hutan, tetapi juga hutan yang ditebangi, beserta mosaik berbagai ladang, pohon karet, kebun buah-buahan dan hutan sekunder dewasa yang digunakan petani kecil untuk mata pencaharian mereka,” kata Kimberly Carlson, seorang mahasiswa doktor Yale dan penulis utama dalam studi ini. “Dengan informasi ini, kami mampu mengembangkan pembukuan karbon yang kuat dalam rangka mengukur emisi karbon dari pengembangan kelapa sawit.”
Tim peneliti mengumpulkan catatan-catatan kontrak sewa lahan kelapa sawit selama wawancara dengan lembaga-lembaga pemerintah lokal dan regional. Catatan-catatan ini mengidentifikasi lokasi yang telah menerima persetujuan dan dialokasikan kepada perusahaan kelapa sawit. Total kontrak sewa yang sudah dialokasikan membentang sekitar 120.000 kilometer persegi, luas yang sedikit lebih kecil dari Yunani. Sebagian besar kontrak sewa lahan dalam studi ini menempati lebih dari 100 kilometer persegi, luas yang sedikit lebih besar dari Manhattan.
Dengan menggunakan kontak sewa ini, yang dikombinasi dengan peta-peta lahannya, tim riset mengestimasi pembukaan lahan di masa depan dan emisi karbon dari perkebunan. Delapan puluh persen kontrak sewa lahan tetap tidak ditanami di tahun 2010. Jika lahan-lahan kontak ini dikembangkan, maka lebih dari sepertiga dataran rendah di Kalimantan akan ditanami kelapa sawit di tahun 2020.
Meskipun ini merupakan jumlah yang sangat besar, informasi yang akurat tentang kontrak sewa lahan ini tidak tersedia bagi masyarakat, bahkan di saat kontrak sewa sudah dihibahkan. Rata-rata warga di Kalimatan kurang peduli pada pengembangan perkebunan lokal kelapa sawit, yang bisa menimbulkan dampak dramatis bagi kehidupan warga serta lingkungan, kata Curran.
“Kontrak sewa lahan perkebunan ini merupakan sebuah ‘eksperimen berskala besar’ yang belum pernah dilakukan sebelumnya terhadap konversi hutan dengan monokultur kelapa eksotis,” kata Curran. “Kita mungkin melihat titik kritis dalam konversi hutan di mana fungsi-fungsi biofisik yang penting telah terganggu, meninggalkan kawasan yang semakin rentan terhadap kekeringan, kebakaran dan banjir.”
Digabung dengan hasil sebelumnya dari studi tingkat kabupaten yang lebih rinci, yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, para peneliti menekankan bahwa produksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan – suatu tujuan nasional dari industri minyak sawit Indonesia — akan memerlukan evaluasi ulang terhadap pemberian kontrak sewa lahan perkebunan kelapa sawit yang berlokasi 
di atas lahan hutan.
Studi bertajuk “Carbon Emissions from Forest Conversion by Kalimantan Oil Palm Plantations” ini didukung oleh NASA Land Cover/Land-Use Change Program, John D. dan Yayasan Catherine T. MacArthur, Institut Santa Fe dan National Science Foundation.

Peningkatan Hilangnya Keanekaragaman Hayati Mengancam Kesejahteraan Manusia

"Punahnya spesies liar di bumi akan berbahaya bagi ekosistem dunia dan bisa membahayakan masyarakat dengan berkurangnya layanan ekosistem yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia."

Dua puluh tahun setelah KTT Bumi di Rio de Janeiro, 17 ahli ekologi terkemuka menyerukan upaya internasional untuk menekan hilangnya keanekaragaman hayati, yang mengorbankan kemampuan alam untuk menyediakan barang dan jasa yang penting bagi kesejahteraan manusia.
Selama dua dekade terakhir, bukti ilmiah yang kuat telah menunjukkan bahwa hilangnya keanekaragaman hayati di dunia mengurangi produktivitas dan keberlanjutan ekosistem alam serta mengurangi kemampuannya dalam menyediakan barang dan jasa seperti makanan, kayu, pakan ternak, tanah subur, serta perlindungan dari hama dan penyakit, demikian menurut tim internasional yang dipimpin ahli ekologi Bradley Cardinale dari University Michigan.
Tindakan-tindakan manusia telah memporak-porandakan ekosistem alam di bumi, mengakibatkan kepunahan spesies dalam tingkat beberapa kali lipat lebih cepat dari yang pernah teramati dalam catatan fosil. Meskipun demikian, masih ada waktu – jika negara-negara di dunia membuat prioritas internasional pelestarian keanekaragaman hayati – untuk menyelamatkan berbagai spesies yang masih hidup dan untuk mengembalikan sebagian dari apa yang telah hilang, demikian menurut Cardinale dan rekan-rekannya.
Para peneliti mempresentasikan temuan mereka pada jurnal Nature edisi 7 Juni, dalam sebuah artikel berjudul “Hilangnya Keanekaragaman Hayati dan Dampaknya terhadap Kemanusiaan.” Makalah ini merupakan pernyataan konsensus ilmiah yang merangkum bukti-bukti dari 1.000 lebih studi ekologi selama dua dekade terakhir.
“Seperti halnya pernyataan konsensus dari para dokter dengan peringatan publiknya tentang bahaya penggunaan tembakau bagi kesehatan, ini adalah pernyataan konsensus dari para ahli yang sepakat bahwa punahnya spesies liar di bumi akan berbahaya bagi ekosistem dunia dan bisa membahayakan masyarakat dengan berkurangnya layanan ekosistem yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia,” kata Cardinale, seorang profesor di Sekolah Sumber Daya Alam dan Lingkungan serta di Departemen Ekologi dan Biologi Evolusioner UM.
“Kita harus menanggapi hilangnya keanekaragaman hayati dengan jauh lebih serius – dari individu-individu hingga badan-badan internasional – dan mengambil tindakan yang lebih besar untuk mencegah kepunahan spesies lebih lanjut,” kata Cardinale, penulis pertama dalam makalah Nature.
Diperkirakan ada sekitar 9 juta spesies tumbuhan, hewan, protista dan jamur yang menghuni bumi, berbagi dengan sekitar 7 miliar manusia.

Peneliti mengukur produktivitas ganggang di sungai. (Kredit: Brad Cardinale)

Himbauan untuk bertindak diserukan di saat-saat para pemimpin internasional mempersiapkan diri untuk berkumpul di Rio de Janeiro pada tanggal 20-22 Juni untuk menghadiri Konferensi PBB mengenai Pembangunan Berkelanjutan, yang dikenal sebagai Konferensi Rio +20. Konferensi mendatang ini menandai 20 Tahun KTT Bumi 1992 di Rio yang menghasilkan dukungan dari 193 negara terhadap tujuan-tujuan Konvensi pada Keanekaragaman Hayati berupa konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
KTT Bumi 1992 yang didorong oleh besarnya minat untuk memahami tentang hilangnya keanekaragaman hayati mungkin berdampak pada dinamika dan pemfungsian ekosistem, begitu pula pada penyediaan barang dan jasa yang berharga bagi masyarakat. Dalam makalah Nature, Cardinale dan para kolega meninjau studi-studi terkait yang sudah dipublikasikan dan membuat daftar enam pernyataan konsensus, empat kecenderungan yang muncul serta empat pernyataan “keseimbangan bukti”.
Keseimbangan bukti menunjukkan, misalnya, bahwa keragaman genetik meningkatkan hasil panen tanaman komersial, meningkatkan produksi kayu di hutan, meningkatkan produksi pakan ternak di padang rumput, serta meningkatkan stabilitas hasil panen pada perikanan. Meningkatnya keanekaragaman tumbuhan juga menghasilkan resistensi yang lebih besar terhadap invasi, menghambat patogen tanaman seperti infeksi jamur dan virus, meningkatkan penyerapan karbon di di udara melalui penyempurnaan biomassa, serta meningkatkan remineralisasi nutrisi dan bahan organik tanah.
“Tak akan ada yang setuju dengan apa yang akan terjadi jika ekosistem kehilangan spesies, namun kebanyakan dari kita setuju bahwa itu tidak akan menjadi baik. Dan kita setuju bahwa jika ekosistem kehilangan sebagian besar spesiesnya, maka itu akan menjadi bencana,” kata Shahid Naeem dari Universitas Columbia, salah satu penulis pendamping dalam makalah Nature. “Dua puluh tahun dan seribu studi kemudian, apa dipikir benar oleh dunia dalam pertemuan di Rio pada tahun 1992 akhirnya telah terbukti: Keanekaragaman hayati mendasari kemampuan kita untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.”
Meskipun terdapat dukungan luas terhadap Konvensi pada Keanekaragaman Hayati, namun hilangnya keanekaragaman hayati terus berlangsung selama dua dekade terakhir, bahkan seringkali dengan tingkat yang menanjak. Sebagai responnya, satu set tujuan baru pelestarian keanekaragaman untuk tahun 2020, yang dikenal sebagai target Aichi, baru-baru telah dirumuskan. Juga, sebuah badan internasional baru yang disebut Panel Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem telah dibentuk pada bulan April 2012 untuk memandu respon global terhadap pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem dunia.
Kesenjangan yang signifikan dalam ilmu pengetahuan di balik keanekaragaman hayati masih tetap ada dan harus diatasi apabila target Aichi harus dipenuhi, kata Cardinale dan para kolega dalam makalah Nature.
“Beberapa pertanyaan kunci yang kami uraikan dapat membantu menunjukkan jalan bagi penelitian generasi berikutnya tentang bagaimana perubahan keanekaragaman hayati mempengaruhi kesejahteraan manusia,” kata David Hooper dari Universitas Western Washington, salah satu penulis pendamping studi.
Tanpa adanya pemahaman tentang proses ekologis mendasar yang menghubungkan keanekaragaman hayati, fungsi dan jasa ekosistem, maka upaya untuk meramalkan konsekuensi sosial akibat hilangnya keragaman, dan untuk memenuhi tujuan kebijakan, akan cenderung gagal, demikian menurut 17 ahli ekologi.
“Tapi dengan adanya pemahaman yang mendasar dalam genggaman, kita mungkin bisa membawa era modern hilangnya keanekaragaman hayati ke arah jalur yang aman bagi kemanusiaan,” simpul mereka.
Selain Cardinale, Naeem dan Hooper, penulis pendamping dalam makalah Nature ini adalah J. Emmett Duffy dari The College of William and Mary, Andrew Gonzalez dari Universitas McGill, Charles Perrings dan Ann Kinzig dari Universitas Arizona, Patrick Venail dan Anita Narwani dari Sekolah Sumber Daya Alam dan Lingkungan UM; Georgina Mace dari Imperial College London, David Tilman dari Universitas Minnesota, David Wardle dari Universitas Ilmu Pertanian Swedia; Gretchen Daily dari Universitas Stanford, Michel Loreau dari Pusat Nasional de la Recherche Scientifique di Moulis, Perancis, James Grace dari US Geological Survey; Anne Larigauderie dari Museum Nasional d’Histoire Naturelle di Rue Cuvier, Perancis, serta Diane Srivastava dari Universitas British Columbia.
Penelitian ini memperoleh pendanaan dari National Science Foundation dan dari University of California-Santa Barbara dan negara bagian California.
“Kemurnian air, produksi pangan dan kualitas udara bisa mudah untuk digunakan begitu saja, namun semua itu sebagian besar disediakan oleh komunitas organisme,” kata George Gilchrist, direktur program di Divisi Biologi Lingkungan National Science Foundation, yang mendanai penelitian. “Makalah ini menunjukkan bahwa bukan hanya jumlah makhluk hidup, tetapi juga keanekaragaman hayati spesies, genetik dan sifat mereka yang mempengaruhi ketersediaan berbagai ‘jasa ekosistem’ yang penting.”

faktailmiah.com

Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Iklim – Dari yang Buruk ke Arah yang Lebih Buruk

"Ada peluang untuk mengurangi beberapa dampak ini namun membutuhkan perencanaan saat ini, bukan ketika generasi mendatang mewarisi masalah-masalah ini."

Sebuah tinjauan ilmiah utama terbaru, yang melibatkan lebih dari 30 ilmuwan dari Australia, Selandia Baru dan Kepulauan Pasifik, menetapkan pengetahuan kita saat ini pada dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati dalam edisi khusus terbaru jurnal ilmiah Pacific Conservation Biology.
Edisi khusus, yang diluncurkan dalam Konferensi Internasional untuk Ahli Biologi Konservasi di Auckland ini, juga menyajikan pilihan bagi pemerintah dalam mengelola ekosistem yang kompleks untuk menghadapi ancaman perubahan iklim.
Salah seorang dari dua editor utama, Profesor Richard Kingsford, Direktur Australian Wetlands and Rivers Centre di Univeristas New South Wales mengatakan: “Keanekaragaman hayati di wilayah kami sudah sangat dipengaruhi oleh hilangnya habitat, polusi, binatang dan gulma liar serta pemanenan. Dampak perubahan iklim hanya membuat semua masalah ini menjadi jauh lebih buruk.”
Delapan ulasan ilmiah berfokus pada pemahaman ilmiah saat ini terhadap perubahan iklim di Australia, Selandia Baru dan Kepulauan Pasifik, dan juga bagaimana hal ini bisa bervariasi pada lingkungan darat, laut dan air tawar.
Tidak mengejutkan, semua makalah mengidentifikasi bahwa peningkatan suhu dan kenaikan permukaan air laut berdampak cukup besar pada keanekaragaman hayati.
“Penduduk dan lingkungan mereka di Kepulauan Pasifik telah berada di garda depan dampak global perubahan iklim dan ini diperkirakan akan memburuk karena naiknya permukaan air laut. Kura-kura dan burung laut yang bertelur di pantai serta lahan basah air tawar menjadi sangat rentan,” kata Kingsford.
Editor lainnya, Dr. James Watson dari Wildlife Conservation Society dan Presiden Dewan Oseania Masyarakat untuk Biologi Konservasi, memperingatkan bahwa dampak perubahan iklim mempengaruhi lingkungan darat, laut dan air tawar dalam berbagai cara.
“Temperatur yang naik di lingkungan darat akan berubah di mana hewan dan tumbuhan bisa hidup di masa depan, dengan beberapa spesies yang rentan terhadap suhu ekstrim,” kata Dr. Watson. “Dalam sistem kelautan, kenaikan permukaan laut dan dampak dari suhu dan keasaman pada sistem terumbu karang menjadi perhatian khusus. Air tawar sungai dan lahan basah kami juga sangat rentan terhadap peningkatan suhu dan perubahan curah hujan di luar toleransi berbagai organisme yang berbeda-beda.”
Konsekuensi dari perubahan iklim tidak akan terelakkan, mengingat kurangnya inisiatif global yang efektif untuk membatasi gas rumah kaca sehingga semua makalah juga menkanvaskan berbagai pilihan adaptasi bagi lingkungan dan pemerintah, menurut Kingsford.
“Ada beberapa hal yang jelas yang bisa kita lakukan,” katanya. “Jika kita menghentikan praktek-praktek yang tidak berkelanjutan – seperti pengembangan sungai, penggundulan vegetasi dan menghancurkan habitat laut – kita akan membuat lingkungan yang jauh lebih tangguh.”
Dr. Watson mengatakan ada banyak cara efektif perencanaan untuk masa depan: “Kita harus meningkatkan area taman nasional kita, mengkoneksikan bagian-bagian lanskap yang terfragmentasi dan memulihkan habitat yang rusak. Untuk beberapa tanaman dan hewan ikonik, kita bahkan mungkin harus mentranslokasi mereka dari tempat-tempat di mana toleransi mereka terlampaui. “
Edisi khusus jurnal ini memberikan sinyal yang jelas kepada pemerintah dan masyarakat kawasan Oseania tentang dampak tekanan perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati beserta tantangannya, kata Kingsford.
“Ada peluang untuk mengurangi beberapa dampak ini namun membutuhkan perencanaan saat ini, bukan ketika generasi mendatang mewarisi masalah-masalah ini.”

faktailmiah.com

Ikan Semakin Mengecil Seiring Memanasnya Laut

Ini merupakan aplikasi gagasan berskala global pertama yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ikan dibatasi persediaan oksigen.

Perubahan pada sistem laut dan cuaca dapat menyebabkan ikan semakin mengecil, demikian hasil temuan studi terbaru dari para ilmuwan perikanan di Universitas British Columbia.
Studi yang dipublikasikan pada 30 September dalam jurnal Nature Climate Change ini menghadirkan proyeksi global pertama tentang penurunan potensial pada ukuran maksimum ikan di laut yang bersuhu lebih panas dan kurang oksigen.
Para peneliti menggunakan pemodelan komputer untuk mempelajari 600 lebih spesies ikan di lautan di seluruh dunia, dan menemukan bahwa berat badan maksimum yang bisa dicapai dapat menurun hingga 14-20 persen antara tahun 2000 dan 2050, dengan daerah tropis yang menjadi wilayah paling terkena dampaknya.
“Kami terkejut melihat besarnya penurunan ukuran ikan ini,” kata pemimpin penulis riset William Cheung, seorang asisten profesor di Pusat Perikanan UBC. “Ikan laut umumnya diketahui merespon perubahan iklim melalui perubahan distribusi dan musim. Namun dampak besar yang sama sekali tak terduga, di mana perubahan iklim bisa mempengaruhi ukuran tubuh, menunjukkan bahwa kita mungkin kehilangan sepotong besar teka-teki dalam memahami dampak perubahan iklim di lautan.”
Ini merupakan aplikasi gagasan berskala global pertama yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ikan dibatasi persediaan oksigen, yang lebih dari 30 tahun lalu digagas oleh Daniel Pauly, kepala peneliti bersama Sea Around Us Project UBC, yang juga menjadi penulis pendamping dalam studi ini.
“Ini adalah tantangan yang konstan bagi ikan dalam memperoleh cukup oksigen dari air agar bisa bertumbuh, dan situasi menjadi memburuk sebagaimana ikan menjadi lebih besar,” jelas Pauly. “Lautan yang lebih panas dan kurang oksigen, seperti yang diprediksi dalam perubahan iklim, akan membuat ikan yang lebih besar lebih kesulitan dalam memperoleh cukup oksigen, yang artinya mereka akan segera berhenti bertumbuh.”
Studi ini menyoroti perlunya mengurangi emisi gas rumah kaca serta mengembangkan berbagai strategi untuk memonitor dan beradaptasi pada perubahan yang sudah kita saksikan. Jika tidak, maka ini akan menimbulkan resiko terganggunya perikanan, perlindungan pangan dan cara kerja ekosistem di laut.

 

Serangga Menjadi Pendorong Utama Evolusi dan Keragaman Tanaman

"Kelimpahan dan daya saing populasi tanaman mengalami perubahan. Evolusi dapat mengubah ekologi dan fungsi organisme serta keseluruhan ekosistem."

Riset terbaru dari Universitas Toronto Mississauga (UTM) mengenai dampak serangga terhadap populasi tanaman telah menunjukkan bahwa evolusi dapat terjadi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, bahkan dalam satu generasi. Studi ini dipublikasikan dalam Science edisi 5 Oktober.
“Para ilmuwan telah lama berhipotesis bahwa interaksi antara tanaman dan serangga telah membawa begitu banyak keragaman yang bisa kita lihat di antara tanaman, termasuk tanaman pertanian, namun hingga sekarang kita masih memiliki keterbatasan bukti eksperimental langsung,” kata Marc Johnson, Asisten Profesor di Departemen Biologi UTM. “Riset ini mengisi celah mendasar pada pemahaman kita tentang bagaimana seleksi alam oleh serangga menyebabkan perubahan evolusioner pada tanaman sebagaimana mereka beradaptasi, serta menunjukkan betapa cepatnya perubahan-perubahan itu bisa terjadi di alam.”
Johnson bersama rekan-rekannya dari Universitas Cornell, Universitas Montana dan Universitas Turku di Finlandia, menanam evening primrose, suatu tanaman yang umumnya mereproduksi diri dan menghasilkan keturunan identik secara genetis, ke dalam dua set plot. Masing-masing plot awalnya berisi 60 tanaman dari 18 genotipe yang berbeda (tanaman yang mengandung set mutasi yang berbeda-beda).
Untuk menguji apakah serangga mendorong evolusi pertahanan tanaman tersebut, salah satu set plot disimpan bebas dari serangga dengan aplikasi insektisida dua mingguan secara teratur selama masa penelitian. Sedangkan set plot lainnya menerima serangga dalam tingkat yang alami.
Plot-plot tersebut dibiarkan bertumbuh tanpa gangguan lain selama lima tahun. Setiap tahun, Johnson beserta rekan-rekannya menghitung jumlah dan jenis tanaman yang memenuhi plot. Mereka juga menganalisis frekuensi perubahan genotipe evening primrose yang berbeda-beda serta sifat-sifat yang terkait dengan genotipe tersebut.


Seekor ulat ngengat evening primrose (Schinia florida) melahap tunas bunga evening primrose biasa (Oenothera biennis). Ngengat-ngengat ini secara eksklusif memakan bunga dan buah-buahan dari evening primrose dan dalam menanggapi seleksi alam yang diakibatkan oleh hal ini dan ngengat spesialis lainnya, populasi evening primrose di kemudian hari mengembangkan bunga serta memproduksi tingkat tinggi bahan kimia beracun yang disebut ellagitannins dalam buah-buahan mereka. Evolusi ini efektif mengurangi kerusakan organ reproduksi tanaman tersebut beserta keturunannya. (Kredit: Marc Johnson)

Johnson mengungkapkan bahwa evolusi, yang hanya merupakan perubahan frekuensi genotipe dari waktu ke waktu, diamati pada semua plot setelah hanya dalam satu generasi. Populasi tanaman mulai menyimpang secara signifikan dalam menanggapi serangan serangga dalam sedikitnya tiga hingga empat generasi. Misalnya, tanaman yang tidak dikenai insektisida mengalami peningkatan frekuensi genotipe yang terkait dengan tingkat bahan kimia beracun yang lebih tinggi dalam buah-buahan, yang membuat mereka terasa enak bagi benih ngengat predator. Tanaman yang berbunga belakangan, sehingga terhindar dari serangga predator, juga meningkat frekuensinya.
Johnson mengatakan temuan ini juga menunjukkan bahwa evolusi mungkin menjadi mekanisme penting yang menyebabkan perubahan ekosistem secara keseluruhan. “Sebagaimana populasi tanaman ini berevolusi, sifat mereka mengubah dan mempengaruhi interaksi mereka dengan serangga dan spesies tanaman lainnya, yang pada gilirannya dapat mengembangkan adaptasi untuk mengatasi perubahan tersebut,” kata Johnson. “Kelimpahan dan daya saing populasi tanaman mengalami perubahan. Evolusi dapat mengubah ekologi dan fungsi organisme serta keseluruhan ekosistem.”
Perubahan ekologis tambahan terjadi dalam plot ketika serangga sudah disingkirkan. Tanaman pesaing, seperti dandelion, memasuki kedua set plot tersebut namun lebih berlimpah pada plot tanpa serangga. Hal ini pada gilirannya mengurangi jumlah tanaman evening primrose. Dandelion yang lebih banyak menggunakan sumber dan juga berpotensi mencegah cahaya untuk mencapai benih evening primrose, mempengaruhi perkecambahan biji. Menurut Johnson, perubahan ekologis merupakan hasil dari tekanan dari ulat ngengat yang suka memakan dandelion.
“Apa yang ditunjukkan dalam penelitian ini adalah bahwa perubahan dalam populasi-populasi tanaman ini bukan hasil dari pergeseran genetik, melainkan secara langsung karena seleksi alam oleh serangga pada tanaman,” kata Johnson. “Hal ini juga menunjukkan seberapa cepat perubahan evolusioner dapat terjadi – tidak lebih dari ribuan tahun, tetapi selama bertahun-tahun, dan semuanya terjadi di sekitar kita.”

Larangan Dalam Merawat Rambut

Anda mungkin sudah sering mendengar apa saja yang harus dilakukan untuk membuat rambut lebih indah. Tapi Anda juga perlu tahu apa yang tidak boleh dilakukan untuk menjaga keindahan dan kesehatan rambut. 

Jangan menggunakan pelembab di kulit kepala
Beberapa kondisi rambut, terutama yang kering dan rapuh membutuhkan bantuan pelembap untuk membuatnya lebih sehat. Namun terutama untuk pemilik kulit kepala berminyak, menggunakan pelembab pada kulit kepala justru bisa mendatangkan masalah.

Kulit kepala akan menjadi semakin berminyak dan bepotensi menyebabkan timbulnya ketombe karena kelembapan yang berlebihan. Jika Anda memerlukan pelembap, cukup gunakan pada ujung-ujung rambut dan bilas sampai tuntas.

Jangan salah memilih sisir
Lain jenis rambut, lain pula sisir yang digunakan. Bentuk sisir didesain sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan pemilik rambut yang berbeda. Jika memilih bentuk sisir yang salah, kemungkinan rambut patah dan rontok akan semakin besar.

Sisir besar misalnya cocok untuk rambut panjang dan tebal. Sedangkan pemilik rambut rapuh sebaiknya memilih sisir dengan bahan alami seperti kayu dengan bantalan sisir yang lembut. Untuk penataan rambut yang maksimal, pemilik rambut pendek bisa memilih sisir kecil yang pipih atau sisir bulat dengan diameter kecil.

Jangan menyisir rambut terlalu kuat
Menyisir rambut terlalu kuat hanya akan membuatnya rontok. Gunakan tangan Anda untuk menyisir rambut yang kusut. Tangan bisa merasakan dan berhenti saat rambut berisiko rontok pada waktu dirapihkan. Urai perlahan-lahan dengan tangan. Setelah mulai teratur, rapihkan dengan sisir.

Jangan menggosok rambut dengan handuk
Menggosok rambut dengan handuk usai keramas bisa membuat rambut rapuh. Rambut basah jauh lebih rentan daripada rambut kering. Gosokan yang kuat pada rambut basah bisa dengan sukses membuat rambut Anda patah dan rontok.

Selain itu, lapisan alami rambut juga terancam rusak karena sekaan yang terlalu kuat. Akibatnya kilau alami rambut pun berkurang. Sebaiknya cukup tekan handuk ke bagian rambut yang basah hingga airnya meresap.

Hindari penataan rambut yang merusak
Menyasak rambut, menguncir rambut terlalu keras dan mengenakan aneka jepit yang membuat patah rambut adalah beberapa contoh penataan rambut yang sebaiknya dihindari.

Akar rambut akan mudah rapuh jika selalu dalam keadaan tertarik kencang. Selain akar rambut yang rapuh, aliran darah yang mengalir untuk menyehatkan kulit kepala pun terganggu. Akibatnya kerontokan rambut pun sulit dihindari.

Jangan memaksakan diri untuk menata rambut dengan sasakan atau ikatan keras setiap hari. Beri waktu rambut untuk beristirahat dan memulihkan kesegarannya setiap hari. Usahakan untuk mencari berbagai alternatif tatanan rambut sehingga tidak selalu fokus pada satu bagian rambut yang sama setiap hari. Hal ini bisa membuat rambut bisa beristirahat dan memulihkan kesehatannya.

Jangan asal memilih alat penataan rambut
Pengering atau pelurus rambut memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan rambut. Rambut kusam atau rontok bisa jadi akibat pemilihan alat yang salah. Pilih alat penataan rambut dengan panas yang bisa disesuaikan atau lapisan yang berbahan keramik untuk pelurus rambut. Memang biasanya harga alat ini sedikit lebih mahal daripada alat biasa.

Tetapi tak ada salahnya berinvestasi lebih untuk kesehatan rambut yang menjadi mahkota Anda. Apalagi jika Anda cukup sering menggunakannya. Alat yang lebih baik tentu bisa bertahan lebih lama dan menghasilkan penataan rambut yang lebih baik.

Tanda Anda Hamil Janin Laki-laki

Menebak jenis kelamin jabang bayi dalam kandungan merupakan hal yang mendebarkan bagi calon ibu. Dilansir melalui Boldsky, Kamis (5/4), berikut ini beberapa kondisi tubuh ibu yang bisa menjadi penunjuk jenis kelamin bayi tanpa harus repot-repot melakukan pemeriksaan USG. Anda boleh percaya, boleh tidak.
Mual dan morning sickness
Banyak orang bilang jika Anda sedang mengandung bayi perempuan, maka rasa mual jarang dirasakan. Namun, jika Anda sedang mengandung bayi laki-laki, maka Anda bisa muntah hingga berember-ember. Morning sickness lebih sering dirasakan pada trimester pertama dan kebanyakan bumil lebih cuek pada penampilan mereka.
Bentuk perut condong ke arah bawah
Tonjolan bayi Anda sudah mulai terlihat saat Anda hamil bayi laki-laki. Bentuk perut ini terlihat berbeda pada wanita yang mengandung bayi perempuan, yaitu perut membulat. Beberapa orang juga mengatakan bahwa wanita yang hamil bayi laki-laki, jika dilihat dari belakang malah terlihat seperti tidak sedang hamil.
Berat badan tidak naik
Kenaikan berat badan merupakan hal biasa saat hamil. Saat Anda mengandung janin bayi laki-laki, maka berat badan Anda tidak akan mengalami kenaikan terlalu banyak. Proporsi kenaikan ini berasal dari janin.
Muka sayu
Meskipun Anda merasa dengan mudah dapat membentuk kembali bentuk tubuh setelah persalinan, namun selama masa kehamilan Anda tidak akan berpenampilan 'wah'. Hal itu berbeda dengan penampilan bumil bayi perempuan yang selalu terlihat tampil cantik dan cerah, bumil bayi laki-laki lebih cenderung tampil pucat dan selalu berpenampilan serba cuek serta malas dandan.
Ngidam yang asam-asam
Menginginkan makanan sesuatu merupakan hal normal selama masa kehamilan. Hal ini menjadi cara alami bagi tubuh untuk 'menagih' asupan nutrisi tertentu yang dirasa tubuh membutuhkan asupan tersebut. Janin bayi laki-laki lebih membutuhkan nutrisi dari makanan yang asam-asam.

Gejala Kehamilan yang Jarang Diketahui

Mual pada pagi hari sebagi gejala kehamilan, tentu sudah banyak yang tahu. Bagaimana dengan gejala lainnya? Berikut ini 10 gejala kehamilan yang jarang diketahui orang.

Masalah penglihatan
Pertambahan hormon menyebabkan mata kering, gatal — dan tidak nyaman bagi perempuan yang menggunakan lensa kontak. Ini disebabkan penumpukan cairan yang menyebabkan kornea bengkak. Supaya lebih nyaman, batasi waktu bekerja di depan komputer dan cuci mata lebih sering.

Payudara nyeri
Ini mungkin merupakan gejala pertama yang akan dialami — bahkan sebelum menstruasi berhenti. Dada Anda akan bersiap lebih awal untuk kelahiran anak, dan mungkin terasa lembut jika disentuh. Belahan dada Anda juga akan terlihat lebih lebar saat mengandung.

Rambut lebih lebat
Banyak wanita hamil rambutnya akan berkilau dan lebih lebat. Tak hanya sebatas rambut kepala, namun juga rambut di seluruh tubuh. Namun jangan khawatir. Rambut-rambut yang tumbuh banyak di tubuh saat mengandung akan rontok dengan sendirinya setelah melahirkan.

Gusi berdarah
Gusi berdarah sering terjadi pada masa kehamilan. Sangat penting untuk menjaga kebersihan mulut pada saat mengandung. Periksalah secara berkala kesehatan mulut Anda.

Ceroboh
Seiring dengan kandungan yang semakin membesar, Anda akan semakin kehilangan keseimbangan. Pusat massa tubuh Anda berubah saat mengandung, sehingga menyebabkan Anda terlihat ceroboh dan kurang keseimbangan. Orang yang mengandung biasanya sering tersandung, oleh karena itu berjalanlah dengan perlahan dan hati-hati terutama saat menaiki tangga.

Lupa
Mungkin Anda sering mendengar istilah "otak hamil" namun hal tersebut menjadi tidak lucu ketika Anda yang mengalaminya sendiri. Mengulang pembicaraan dan lupa akhir kalimat sendiri, merupakan salah satu gejala yang mungkin dialami.

Bercak hitam pada kulit
Ketika Anda mengandung dan menghabiskan waktu di bawah sinar matahari, Anda mungkin akan mendapatkan bercak gelap di dahi atau di bagian tubuh lain. Gejala tersebut dikenal dengan chloasma atau melasma dan sering disebut sebagai "topeng kehamilan" dan disebabkan oleh hormon yang mengacaukan pigmentasi kulit. Hal tersebut memang tidak berbahaya, namun terlihat mencolok sehingga mungkin akan mengganggu penampilan.

Kaku di tangan
Gejala lain yang terjadi saat hamil adalah mengalami kaku tangan saat bangun tidur. Hal ini disebabkan karena nadi yang tertekan, sehingga Anda merasa seperti tertusuk jarum dan tidak dapat merasakan tangan sendiri. Walaupun itu tidak nyaman, namun sama seperti gejala lain, gejala tersebut akan hilang setelah melahirkan.

Perut terasa panas
Perut terasa panas adalah derita umum bagi setiap wanita yang mengandung, terutama pada akhir-akhir bulan kehamilan. Hal tersebut sering dipicu karena makan atau minum sebelum tidur. Pastikan selalu membawa antacid (obat penetral asam perut) ke mana pun Anda pergi.

Sembelit
Meskipun hal ini memalukan untuk dibicarakan, sembelit bukanlah sesuatu yang lucu dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa sakit yang teramat sangat saat mengandung. Jika prinsip dasar untuk makan makanan berserat dan minum air putih tidak juga berhasil, Anda bisa meminta resep obat pencahar.

Gejala-gejala di atas tidak selalu terjadi pada setiap wanita, dan jika Anda menderita salah satu gejala tersebut saat mengandung bukan berarti Anda tidak akan mengalaminya lagi. Gejala apa pun yang dialami, pastikan tubuh Anda kembali normal setelah Anda melahirkan.

Mencegah Timbulnya Uban Terlalu Dini

Penuaan memang tak bisa dihentikan, namun ciri penuaan yang timbul sebelum waktunya tentu menyebalkan. Misalnya saja uban. Uban yang muncul tidak pada waktunya tentunya akan merusak penampilan. Coba beberapa cara ini untuk memperlambat kehadirannya. 

Bersantai
Salah satu penyebab munculnya uban adalah stres yang berlebihan. Stres membuat hormon tubuh terganggu termasuk hormon yang berfungsi dalam penumbuhan rambut.

Seimbangkan kesibukan Anda dengan kegiatan bersantai. Pergi spa ke salon, mandi air hangat, atau berolahraga bisa membuat tubuh Anda lebih rileks.

Stop merokok
Tahukah Anda kalau racun yang terkandung dalam rokok bisa merusak berbagai bagian tubuh termasuk rambut. Salah satu efek merokok adalah penuaan dini. Uban dan keriput akan muncul lebih awal jika Anda tak bisa menghentikan kebiasaan merokok. Hentikan merokok sekarang juga.

Perbanyak minum
Jika tubuh Anda dehidrasi, maka nutrisi sulit untuk mencapai folikel rambut. Akibatnya kesehatan rambut pun terganggu. Salah satu efeknya adalah terganggunya pigmen yang membentuk warna rambut sehingga memicu tumbuhnya uban lebih cepat.

Perbanyak mineral dan zat besi
Kurangnya zat besi dan mineral juga merupakan penyebab kerusakan rambut dan timbulnya uban. Mulai sekarang, perhatikan asupan nutrisi yang masuk ke tubuh. Perbanyak sayuran dan buah yang kaya zat besi untuk rambut lebih sehat.

Protein, protein dan protein
Protein adalah zat yang akan menjaga kesehatan tubuh Anda termasuk rambut. Pastikan protein ada dalam variasi menu harian Anda. Ayam, telur dan ikan salmon adalah beberapa makanan yang direkomendasikan karena kaya akan protein dan zat yang bisa membuat rambut lebih indah.

Tidur cukup
Saat tidur, tubuh melakukan berbagai proses untuk termasuk memperbaiki sel-sel di kulit, termasuk kulit kepala. Tubuh perlu waktu yang cukup untuk melakukan proses peremajaan secara maksimal. Tidur cukup 7 jam sehari sangat mendukung proses perbaikan sel yang bisa membantu memperlambat timbulnya uban.

Mitos VS Fakta Seputar Kolesterol

Anda perlu tahu fakta dan mitos yang muncul selama ini tentang kolesterol akibat salah informasi.

Mitos: Hindari daging, jeroan, santan, keju, kolesterol pasti normal.
Fakta: Belum tentu, 80 persen kolesterol darah dihasilkan tubuh. Bila metabolisme tubuh sudah buruk, dibutuhkan obat pengendali kolesterol.

Mitos: Kadar kolesterol tinggi tidak berbahaya, karena tidak bergejala.
Fakta: kolesterol tinggi berbahaya karena bisa mengubah dinding pembuluh darah, memicu PJK (penyakit jantung koroner) dan penyebab kematian (serangan jantung).

Mitos: Kolesterol tinggi hanya terjadi pada orang tua saja karena metabolismenya menurun.
Fakta: Tidak benar. Pembentukan plak pada dinding pembuluh darah juga dijumpai pada usia anak-anak, dan meningkat seiring bertambahnya usia.

Mitos: Dengan berolahraga, diet, dan kondisi bugar, berarti kadar kolesterol pasti membaik.
Fakta: Tidak benar, karena berat badan, kebiasaan merokok, riwayat kesehatan keluarga, usia dan jenis kelamin juga berpengaruh.

Mitos: Daging kambing mengandung lemak yang banyak dibanding daging sapi.
Fakta: Daging sapi lebih banyak lemak jenuhnya ketimbang daging kambing. Data dari Proceedings Nutrition Society of Australia, kandungan kolesterol daging kambing berkisar 5-39 mg/100 g, daging sapi: 42-78 mg/100 g dan babi 66- 98 mg/100 g.

Mitos: Saat dokter belum vonis apapun, Anda tidak perlu risau.
Fakta: Salah. Periksa kolesterol sesering mungkin untuk memastikan kadar kolesterol LDL (jahat), kolesterol HDL (baik), dan trigliserida.

Mitos: Orang gemuk punya kadar kolesterol lebih tinggi dari orang kurus.
Fakta: Belum tentu. Kadar kolesterol dipengaruhi berbagai faktor: jenis makanan, kecepatan tubuh memproduksi dan membuang LDL, tingkat kesehatan serta kebiasaan makan.
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...