Dengan mengubah virus, para peneliti mampu membangkitkan kembali respon
sistem kekebalan terhadap HIV dan meniadakan sifat-sifatnya.
Para peneliti dari Johns Hopkins telah memodifikasi HIV (human immunodeficiency virus) dengan cara membuatnya tidak lagi mampu menekan sistem kekebalan tubuh. Dalam laporan yang dipublikasikan online 19 September dalam jurnal Blood, mereka menyebut bahwa hal ini bisa menghapus rintangan utama dalam pengembangan vaksin HIV dan mengarah pada pengobatan baru.
“Hal
tentang HIV adalah menurunkan respon kekebalan tubuh, bukan memicunya,
sehingga sulit untuk mengembangkan vaksinnya,” kata David Graham, Ph.D.,
asisten profesor molekul dan patobiologi dan obat-obatan komparatif.
“Kami sekarang sepertinya memiliki cara untuk menghindari penghalang
ini,” tambahnya.
Biasanya, ketika sel-sel sistem kekebalan tubuh terserang virus, mereka mengirimkan alarm dengan melepaskan zat kimia
yang disebut interferon untuk memperingatkan seluruh tubuh akan adanya
infeksi virus. Namun, ketika sel-sel kekebalan menghadapi HIV, mereka
melepaskan interferon terlalu banyak, sehingga menjadi kewalahan dan
menutup respon untuk melawan virus berikutnya.
Para peneliti telah
belajar dari penelitian lain bahwa ketika sel-sel kekebalan tubuh
manusia (sel darah putih) kehabisan kolesterol, HIV tidak bisa lagi
menginfeksi mereka. Ternyata selubung yang mengelilingi dan melindungi
genom HIV juga kaya dengan kolesterol, mengarahkan tim riset Johns
Hopkins untuk menguji apakah HIV yang kurang kolesterol juga masih bisa
menginfeksi sel.
Para
peneliti memasukkan HIV dengan bahan kimia yang bisa menghilangkan
kolesterol dari selubung virus. Kemudian mereka memasukkan HIV yang
sudah berkurang kolesterolnya ini ke dalam sel-sel kekebalan tubuh
manusia yang bertumbuh dalam tabung kultur, serta mengukur bagaimana
sel-sel tersebut meresponnya. Hasilnya, sel-sel yang terkena HIV
kurang-kolesterol tidak melepaskan interferon, sedangkan sel-sel yang
terpapar HIV normal melepaskan interferon.
“Pengubahan HIV tidak
membanjiri sistem dan alih-alih memicu respon imun bawaan untuk
bereaksi, sepertinya ini melakukannya pada setiap pertemuan virus
pertama,” kata Graham.
Selanjutnya, para peneliti memeriksa apakah
HIV kurang-kolesterol mengaktifkan respon imun adaptif – respon yang
membantu tubuh mengingat patogen spesifik jangka panjang sehingga tubuh
mengembangkan imunitas dan melawan infeksi di masa depan. Untuk
melakukannya, mereka menempatkan HIV normal atau yang kurang kolesterol
pada sampel darah, yang berisi semua sel berbeda yang diperlukan untuk
respon imun adaptif.
Lebih spesifik lagi, mereka menguji sampel
darah dari orang yang sebelumnya sudah terkena HIV untuk melihat apakah
darah mereka mampu menunggangi respon imun adaptif. Sampel darah yang
digunakan berasal dari 10 orang positif HIV dan dari 10 orang sehat yang
berulang kali dipaparkan HIV. Saat HIV kurang-kolesterol dipaparkan
pada darah yang tidak terinfeksi dalam tabung, sel-sel respon imun
adaptif bereaksi terhadap virus. Dengan mengubah virus, para peneliti
mampu membangkitkan kembali respon sistem kekebalan terhadap HIV dan
meniadakan sifat-sifatnya, jelas Graham.
“Selain aplikasi vaksin,
penelitian ini juga membuka jalan bagi pengembangan obat untuk menyerang
selubung virus HIV sebagai terapi tambahan terhadap promosi deteksi
virus pada sistem kekebalan tubuh,” kata Graham.
Penelitian ini didukung pendanaan dari Wellcome Trust dan Institut Kesehatan Nasional.
Kredit: Johns Hopkins Medical Institutions
Jurnal: A. Boasso, C. M. Royle, S. Doumazos, V. N. Aquino, M. Biasin, L. Piacentini, B. Tavano, D. Fuchs, F. Mazzotta, S. Lo Caputo, G. M. Shearer, M. Clerici, D. R. Graham. Over-activation of plasmacytoid dendritic cell inhibits anti-viral T-cell responses: a model for HIV immunopathogenesis. Blood, 2011; DOI: 10.1182/blood-2011-03-344218
Jurnal: A. Boasso, C. M. Royle, S. Doumazos, V. N. Aquino, M. Biasin, L. Piacentini, B. Tavano, D. Fuchs, F. Mazzotta, S. Lo Caputo, G. M. Shearer, M. Clerici, D. R. Graham. Over-activation of plasmacytoid dendritic cell inhibits anti-viral T-cell responses: a model for HIV immunopathogenesis. Blood, 2011; DOI: 10.1182/blood-2011-03-344218
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Bila teman suka dengan tulisan di atas
saya berharap teman-teman menuliskan komentarnya
tapi tolong komentar yang sopannya
mari kita jaga sopan santun di dunia maya ini