Kematian Terumbu Karang Terbesar dan Tercepat di Dunia Terjadi di Indonesia


Masyarakat Pelestarian Alam Liar (Wildlife Conservation Society – WCS) baru saja menerbitkan laporan pengamatan lapangan awal yang menunjukkan dampak peningkatan dramatis suhu permukaan di perairan Indonesia. Pemanasan global telah menyentuh negara ini dan berakibat pada peristiwa pemutihan skala besar yang merusak populasi terumbu Karang.

Para ahli biologi dari program satuan tanggap cepat WCS untuk Indonesia dilepas di Aceh bulan Mei 2010 untuk menyelidiki peristiwa pemutihan karang di NAD. Masyarakat setempat kaget ketika melihat sejumlah batu karang yang biasanya warna warni kini menjadi putih. Tim biolog melakukan survey dan menemukan kalau 60 persen terumbu karang yang ada telah mengalami keputihan.

Kenapa terumbu karang bisa menjadi putih? Hal ini karena ganggang yang biasanya tinggal dalam jaringan tubuh Spongebob ini dibersihkan oleh perubahan lingkungan. Fluktuasi suhu permukaan laut dapat menjadi pemicu stress yang membuat ganggang lepas dari tubuh terumbu karang. Tergantung pada banyak faktor, karang yang putih dapat pulih seiring berjalannya waktu atau mati.

Para ahli ekologi kelautan WCS menyusul para ahli biologi. Tim ekologi ini terdiri dari ilmuan dari Universitas Syah Kuala (Unsyah) Indonesia dan dari Universitas James Cook (JCU) Australia. Mereka selesai meneliti pada awal Agustus 2010 dan mengungkapkan peristiwa kematian terumbu karang tercepat dan terparah yang pernah terjadi di dunia! Para ilmuan menemukan kalau 80 persen spesies mati sejak peninjauan pertama dan akan ada lebih banyak lagi yang mati dalam beberapa bulan ke depan.

Peristiwa ini adalah akibat dari meningkatnya suhu permukaan laut di Laut Andaman – laut yang berada tepat di ujung Aceh dan juga memiliki pantai di Myanmar dan Kepulauan Andaman dan Nicobar. Menurut situs Hotspot Karang NOAA, suhu di daerah ini mencapai puncaknya pada bulan Mei 2010, saat suhu mencapai 34 derajat celsius, 4 derajat lebih tinggi dari suhu normal di Laut ini.

Menurut Dr Stuart Campbell, direktur program kelautan Indonesia WCS, “Sungguh menyedihkan peristiwa ini dapat terjadi. Padahal terumbu karang ini telah terbukti tahan terhadap gangguan ekosistem, termasuk peristiwa tsunami besar tahun 2004.”

Para ilmuan dari WCS dan JCU sudah meneliti daerah itu sejak bulan Maret 2005. Mereka datang untuk meneliti dampak tsunami 2004 dan telah melaporkan bahwa banyak terumbu karang di NAD tidak terpengaruh oleh gangguan besar dari tsunami. Justru terumbu karang ini rusak gara-gara manusia, seperti perusakan lahan pesisir pantai dan penangkapan ikan yang destruktif. Tapi dampak ini tidak terlalu besar dan terumbu karang dapat kembali pulih setelah manajemen diperbaiki bersama dengan pemerintah daerah. Akibat manajemen sumber daya pesisir yang baik, rakyat Aceh pasca tsunami berhasil mempertahankan biomassa ikan yang hidup di daerah terumbu karang. Namun pemutihan dan kematian mendadak tahun 2010 membalik keadaan ini, dan pada gilirannya akan berpengaruh besar pada perikanan karang.

Anomali suhu permukaan laut bukan hanya dirasakan Aceh. Seluruh daerah pesisir laut Andaman dan sekitarnya ikut terpengaruh. Laporan sudah datang dari Sri Lanka, Thailand, Malaysia dan juga daerah lain di Indonesia.

“Bila derajat kematian terumbu karang di daerah lain juga seburuk di Aceh, maka ini adalah peristiwa pemutihan terburuk yang pernah terjadi di daerah ini,” kata Dr. Andrew Baird dari Pusat Studi Terumbu Karang JCU. “Kehancuran terumbu karang seperti ini membutuhkan masa pulih yang jauh lebih panjang dari semestinya.”

“Ini adalah tragedi bukan hanya bagi sebagian terumbu karang paling ramai di dunia, namun juga masyarakat sekitar, banyak yang hidup dari menangkap ikan dan tergantung pada terumbu karang ini untuk makan dan hidup sehari-hari,” kata Direktur Program Kelautan WCS, Dr. Caleb McClennen. “Manajemen segera dan intensif diperlukan untuk mencoba dan membantu karang-karang ini hidup, termasuk perikanannya dan seluruh ekosistem agar dapat pulih dan beradaptasi. Walau begitu, terumbu karang tidak dapat dilindungi dari suhu samudera yang menghangat akibat perubahan iklim bila hanya diserahkan pada pemerintah daerah dan pusat Indonesia. Diperlukan kerjasama internasional untuk mengatasi masalah ekosistem yang sensitif ini dan rentan terhadap masyarakat di penjuru dunia yang tergantung dan hidup darinya.”

Untuk mengetahui informasi lebih lengkap kunjungi : http://www.wcs.org

Sumber artikel faktailmiah.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bila teman suka dengan tulisan di atas
saya berharap teman-teman menuliskan komentarnya
tapi tolong komentar yang sopannya
mari kita jaga sopan santun di dunia maya ini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...