Dormansi Benih pada tanaman

Dormansi dapat dipandang sebagai salah satu keuntungan biologis dari benih dalam mengadaptasikan siklus pertumbuhan tanaman terhadap keadaan lingkungannya, baik musim maupun variasi-variasi yang kebetulan terjadi. Dormansi pada benih dapat berlangsung selama beberapa hari, semusim, bahkan sampai beberapa tahun tergantung pada jenis tanaman dan tipe dari dormansinya. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua keadaan tersebut. Pertumbuhan tidak akan terjadi selama benih belum melalui masa dormansinya, atau sebelum dikenakan suatu perlakuan khusus terhadap benih tersebut.
Dormansi fisik yaitu dormansi yang menyebabkan pembatasan structural terhadap perkecambahan, seperti impermeabilitas kulit biji terhadap air (benih keras) dimana pengambilan air terhalang kulit biji yang mempunyai struktur terdiri dari lapisan sel-sel serupa palisade berdinding tebal terutama di permukaan paling luar dan bagian dalamnya mempunyai lapisan lilin dari bahan kutikula; Resentensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio (benih tetap berada dalam keadaan dorman disebabkan oleh kulit bijinya yang cukup kuat untuk menghalangi pertumbuhan dari embrio); permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap gas-gas (di alam biasanya biji yang sebelah bawah akan berkecambah segera setelah cukup tua pada musim semi,biji yang sebelah atas tetap dorman sampai tahun berikutnya. Perkecambahan akan terjadi bila kulit biji dibuka atau jika tekanan oksigen disekitar benih ditambah).
Dormansi fisiologis yaitu dormansi yang disebabkan oleh sejumlah mekanisme (immaturity embrio, after ripening, dormansi sekunder, dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolis pada embrio). Dormansi ini pada umumnya dapat disebabkan pengatur tumbuh baik penghambat atau perangsang tumbuh, dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor dalam seperti immaturity atau ketidakmampuan embrio, dan sebab-sebab fisiologis lainya.
Cara-cara mematahkan dormansi benih
1. Perlakuan mekanis (skarifikasi yaitu mengikir atau menggosok kulit biji dengan kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau, perlakuan impaction/goncangan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus dan dengan tekanan). Umumnya dipergunakan untuk memecahkan dormansi benih yang disebabkan oleh impermeabilitas kulit biji baik terhadap air atau gas, resistensi mekanis kulit perkecambahan yang terdapat pada kulit biji.
2. Perlakuan kimia bertujuan menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki oleh air pada waktu proses imbibisi.
3. Perlakuan perendaman dengan air (diberi perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih, air dipanaskan sampai 180°-200°F)
4. Perlakuan pemberian temperature tertentu (stratifikasi yaitu memberikan temperature rendah pada keadaan lembab, kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis tanaman. Perlakuan dengan temperature rendah dan tinggi). Temperature tinggi jarang digunakan untuk memecahkan dormansi benih, kecuali baru pada kelapa swit.
5. Perlakuan dengan cahaya, pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalam jumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan panjang hari. Pengaruh cahaya ini dalam satu dan lain hal bertalian erat dengan pengaruh temperature pada benih dan dengan bahan pengatur tumbuh yang ikut serta dalam menyebabkan atau memecahkan dormansi benih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bila teman suka dengan tulisan di atas
saya berharap teman-teman menuliskan komentarnya
tapi tolong komentar yang sopannya
mari kita jaga sopan santun di dunia maya ini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...