Potensi Barringtonia asiatica sebagai Insektisida Alami


Barringtonia asiatica, yang di beberapa daerah dikenal dengan nama-nama : butun, kebem, bitung, dan sebagainya, adalah pohon yang cukup besar dan rindang. Tinggi pohon mencapai 15-17 meter. Daunnya lebar-lebar, berbentuk bulat telur, agak tebal, dan mengkilap. Bunganya sangat menarik, karena selain besar-besar dan berwarna putih bersih, mempunyai benang sari yang panjang berwarna putih pula. Ujung benang sari berwarna kemerah-merahan. Pada saat gugur bunga, tanah dibawah pohon seakan-akan penuh ditaburi dengan bunga berbenang sari panjang yang berwarna putih dan berwarna kemerahan.
Salah satu tumbuhan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber insektisida adalah Barringtonia asiatica. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas insektisida  ekstrak metanol biji B.asiatica pada larva Crocidolomia pavonana serta aktivitas insektisida dilakukan dengan menggunakan metode residu pada daun, sedangkan uji anti oviposisi  dilakukan pada tanaman sawi yang diberi perlakuan penyemprotan ekstrak yang kemudian ditempatkan dalam kurungan platik-kasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol biji B.asiatica memperlihatkan aktivitas insektisida yang kuat dengan LC50 sebesar 0,66% terhadap kematian larva C.pavonana instar 2 sampai dengan instar 4. Respon larva uji mengindikasikan bahwa senyawa yang terkandung dalam ekstrak mempunyai aktivitas biologi utama sebagai antifeedant. Selain itu, ekstrak juga menunjukkan aktivitas oviposisi terhadap imago C.pavonana. Pada konsentrasi 0,95% imago C.pavonana tidak dapat meletakkan telur pada tanaman sawi yang diberi perlakuan ekstrak.
Pohon Butun (Barringtonia asiatica Kurz).
Deskripsi           : Pohon berukuran kecil hingga sedang dengan ketinggian 7-20 (-30) m dan diameter 25-100 cm. Mahkota pohon berdaun besar dan rimbun. Kulit kayu abu-abu agak merah muda dan halus. Ranting tebal.
Daun                 : Berwarna hijau tua, agak tebal, berkulit dan urat daun nampak jelas. Ketika masih muda daun berwarna agak merah muda, ketika tua berwarna kuning atau merah muda pucat. Unit & Letak: sederhana dan bersilangan.
Bentuk              : Bulat telur terbalik. Ujung: agak membundar, tumpul.
Ukuran              : 15-45 x 9-20 cm
Bunga                : Menggantung, berukuran sangat besar, diameternya sampai 10 cm dan harum.
Formasi             : Bergerombol, menggantung seperti payung.
Daun mahkota   : 4, putih dan kuning. Kelopak bunga: berwarna putih kehijauan. Benangsari: banyak dan panjang, warnanya merah di bagian ujung dan putih di dekat pangkal.
Buah                  : Besar, permukaan halus dan berbentuk tetrahedral/piramid seperti buah delima. Buah berwarna hijau (kadang tersamar oleh warna daunnya) lalu berubah menjadi cokelat. Berisi satu biji berukuran besar. Ukuran: diameter buah 10- 15 cm.
Ekologi              : Tumbuh di hutan pantai, pantai dan pantai berkarang, kadang-kadang di mangrove. Tumbuh sama baiknya di daratan. Buah sering terlihat mengapung sepanjang pantai. Mereka mengapung dan dapat tumbuh setelah menempuh perjalanan yang jauh. Bunga terbuka setelah matahari tenggelam dan rontok menjelang pagi, sehingga hanya terbuka satu malam saja. Penyerbukan kemungkinan dilakukan oleh ngengat besar.
Penyebaran        : Tumbuh dari Madagaskar hingga Pasifik Barat. Tercatat di seluruh Indonesia, termasuk Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Sunda Kecil dan Maluku.
Manfaat             : Kadang-kadang ditanam sebagai tanaman hias. Pohon dan bijinya mengandung saponin yang dapat digunakan sebagai racun ikan. Biji yang digunakan sebagai racun ikan seringkali dicampur dengan tuba (Derris – rotenon). Minyak yang berwarna kemerahan dapat diperoleh dengan memanaskan dan memeras bijinya. Di Jawa, cairan yang diperoleh dari bijinya dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan payung , serta untuk membunuh ekto-parasit, seperti lintah.
 Catatan             : Jenis ini seringkali dikelirukan dengan Terminalia catappa atau Fagraea crenulata. Meskipun demikian, B.asiatica memiliki daun yang lebih berdaging, lebih mengkilat dan ujung yang lebih runcing dibandingkan dengan T.catappa. F. crenulata memiliki daun yang tumbuh berpasangan serta memiliki duri di sepanjang batangnya.

 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bila teman suka dengan tulisan di atas
saya berharap teman-teman menuliskan komentarnya
tapi tolong komentar yang sopannya
mari kita jaga sopan santun di dunia maya ini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...