Tampilkan postingan dengan label informasi dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label informasi dunia. Tampilkan semua postingan

Selasa, September 08, 2020

Satwa-Satwa yang ‘Hidup Kembali’ dari Kepunahan

Diperkirakan, satu juta spesies hewan dan tumbuhan terancam punah di seluruh dunia. Sekitar 40% spesies amfibi, 33% spesies mamalia laut, dan 14% spesies burung menghadapi masa depan yang suram.

Ditengah ancaman kepunahan, ada juga kabar baik yaitu ditemukannya kembali beberapa hewan yang pernah diyakini telah lama punah seperti Galegeeska revoilii, Phoboscincus bocourti, Solenodon cubanus, Pterodroma cahow, dan Pezoporus occidentalis.

PBB memperingatkan bahwa setidaknya ada satu juta spesies hewan dan tumbuhan terancam punah di seluruh dunia. Penurunan dramatis keanekaragaman hayati global ini merupakan krisis tersendiri dan juga ancaman bagi populasi planet ini. Ada juga berita-berita yang memberi secercah harapan, yakni ditemukannya kembali beberapa hewan yang pernah diyakini telah lama punah. Dikutip dari World Economic Forum, berikut 5 satwa yang muncul kembali dari kepunahan.

Tikus gajah Somalia [Galegeeska revoilii

Satwa ini terakhir kali terlihat hampir 50 tahun lalu, dan setelah itu diasumsikan punah. Pada Agustus 2020, tim peneliti dan akademisi melaporkan bahwa makhluk mungil yang tampak aneh ini masih hidup dan sehat.

Dikenal sebagai Somali Sengi, hewan seukuran tikus ini, dengan hidung memanjang yang khas mirip gajah, berkembang biak secara baik di Djibouti, negara di kawasan Tanduk Afrika. Terdapat 20 spesies sejenis di dunia, tapi hewan unik yang satu ini adalah yang paling misterius, hanya ada 39 spesimennya tersimpan. Sebelumnya, ia diketahui hanya eksis di Somalia.

Kadal Teror [Phoboscincus bocourti]

Pada 1872, seorang ahli botani berkebangsaan Prancis Benjamin Balansa, mencatat penemuan kadal saat mengunjungi Kaledonia Baru, sebuah koloni Prancis di kawasan Pasifik. Ukurannya cukup mencolok, yakni sepanjang 50 cm, sehingga tidak terlalu sulit untuk dikenali. Kadal ini dinamai kadal ‘teror’ karena mulutnya yang dipenuhi gigi-gigi tajam.

Namun, setelahnya, kadal ini tak pernah terlihat lagi di kawasan tersebut, diasumsikan sudah punah. Hingga pada 2003, kadal ini ditemukan kembali oleh para ilmuwan, dan kini lebih banyak penelitian dilakukan untuk mempelajari lebih lanjut tentang mereka.

Solenodon Kuba [Solenodon cubanus]

Di Bumi, ada beberapa saja mamalia yang berbisa, dan Solenodon Kuba adalah salah satunya. Satwa ini pernah ‘punah’ beberapa lama, karena tak pernah lagi ditemukan di alam liar. Solenodon Kuba adalah salah satu fosil hidup yang pernah hidup satu zaman dengan dinosaurus, dan bentuknya tak berubah selama jutaan tahun.

Gigitannya cukup mematikan, namun satwa itu kurang memiliki kekuatan dan ketangkasan untuk mempertahankan atau melarikan diri dari bahaya, menjadikannya sasaran empuk predator. Deforestasi juga berkontribusi pada gangguan populasinya.

Burung laut Bermuda [Pterodroma cahow]

Cahow, atau petrel Bermuda, terakhir kali terlihat di Nonsuch Island di kawasan Bermuda pada 1620. Setelah itu, mereka tak pernah terlihat lagi. Mereka kemudian ‘hidup kembali’ tahun 2020, dan kemunculannya terekam kamera. Cahow adalah burung yang menggali dan sebagian besar habitat aslinya telah dihancurkan oleh erosi laut dan kerusakan akibat badai. Pemerintah Bermuda telah membangunkan tempat-tempat khusus bagi mereka untuk bersarang, dan memberlakukan perlindungan terhadap keberadaan mereka.

Bayan Malam Australia [Pezoporus occidentalis

Burung ini telah dianggap punah setelah penampakan terakhirnya tahun 1912. Pada 1990, satu individu ditemukan di negara bagian Queensland. Sayangnya, mati tak lama kemudian. Perlu 23 tahun lagi sebelum ada kemunculan lagi yang dicatat seorang peneliti. Lokasinya sama dengan penampakan pertama, di tempat yang hingga kini dirahasiakan untuk melindungi burung-burung tersebut. Pemerintah negara bagian Queensland mengawasi secara ketat suaka margasatwa tempat burung-burung tersebut hidup.


Sumber https://www.mongabay.co.id/2020/09/04/lima-satwa-yang-hidup-kembali-dari-kepunahan/


Selasa, Maret 31, 2020

Perbedaan Antiseptik dengan Desinfektan

Keduanya terbuat dari bahan kimia yang dikhususkan sebagai zat pembersih dan pembunuh kuman, baik antiseptik maupun disinfektan mengandung bahan kimia yang disebut biosida.

Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, Istilah antiseptik digunakan untuk zat kimia anti mikroorganisme yang diaplikasikan pada jaringan hidup terluar pada manusia maupun hewan, misalnya sabun mandi dan pembersih wajah. 

Sedangkan desinfektan adalah zat kimia anti mikroorganisme yang diaplikasikan pada permukaan benda-benda mati seperti lantai dan kamar mandi. Disinfektan adalah bahan kimia seperti lisol, kreolin, yang digunakan untuk mencegah terjadinya pencemaran jasad resik. Disinfektan merupakan cara menghilangkan atau membunuh segala hal terkait mikroorganisme baik virus maupun bakteri, pada objek permukaan benda mati.

Satu hal yang penting diperhatikan adalah zat kimia desinfektan berbahaya bagi manusia, oleh karena itu tidak dapat digunakan pada peralatan yang berhubungan langsung dengan makanan maupun bahan makanan..

Itulah perbedaan dasar antiseptik dan desinfektan. 

Kamis, Desember 12, 2019

SINYO NAKAL (Duranta erecta)

Merupakan jenis tanaman terna atau perdu 1 tahun, tingginya hingga 50 cm. Batang berbentuk lunak, beruas dengan penampang berbentuk bulat, berbulu, bergetah putih, hijau kecoklatan. Berdaun tunggal, berhadap-hadapan, lanset, pangkal dan ujung meruncing, tepi bergerigi, permukaan atas dan bawah berbulu, pertulangan menyirip, panjang 5-50 mm, tangkai panjang 2-4 mm, dan lebar 0,7-1 mm hijau keunguan.*



Nama Umum
Indonesia: sinyo nakal; 
Inggris: sapphire showers

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Asteridae
Ordo: Lamiales
Famili: Verbenaceae
Genus: Duranta
Spesies: Duranta erecta L**.


Sinonim
Duranta erecta var. alba L.
Duranta repens Auct.Non Jacq
Duranta repens var. alba L.
Duranta repens var. microphylla L.

sumber 
*https://biodiversitywarriors.org/isi-katalog.php?idk=3763
**http://plantamor.com/species/info/duranta/erecta

Senin, Desember 09, 2019

Manfaat Buah Salak Untuk Kesehatan

Salak termasuk buah yang mudah didapat nyaris sepanjang musim di Indonesia.  Salak mengandung protein, vitamin C, serat, zat besi, kalsium, fosfor, hingga karbohidrat yang sangat bagus untuk kesehatan dan juga kaya akan kandungan beta-karoten dimana lima kali lebih banyak  dibandingkan dengan buah lainnya seperti semangka dan mangga. Berikut manfaat buah salak untuk kesehatan

Kontrol Gula Darah
Salak mengandung pterostilbene yang merupakan agen penurun glukosa darah yang baik untuk kendalikan diabetes. Sangat bagus jika Anda menambahkan salak ke dalam makanan Anda karena cukup bermanfaat untuk menurunkan kadar gula darah. Selain dagingnya, kulit salak yang dikeringkan dan dibuat menjadi teh juga bisa membantu regenerasi sel pankreas yang membantu mengendalikan diabetes.

Meningkatkan Daya Ingat
Salak memiliki kandungan mineral dan bahan aktif seperti potasiom, beta-karoten dan pektin. Pektin adalah salah satu kandungan yang mampu meningkatkan aliran darah ke otak. Ini membuat kognisi dan daya ingat seseorang menjadi lebih baik. Selain itu, kandungan oksidatif dalam salah juga bantu hilangkan stres dan menurunkan risiko penyakit otak.

Obat Mata
Menurut penelitian dari spesialis kesehatan, banyaknya kandungan beta-karoten dalam buah salak bermanfaat sebagai obat mata. Anda bisa mengonsumsinya menjadi jus salak sebagai alternatif dari jus wortel yang lebih dikenal manfaatnya untuk kesehatan mata. Selain itu, kandungan vitamin A dalam salak juga sangat membantu meningkatkan ketajaman mata.

Baik bagi Ibu Hamil
Asupan kalsium yang cukup dalam buah salak juga bisa membantu ibu hamil dalam proses pembentukan tulang janin. Mengonsumsi salak manfaatnya bukan hanya pada ibu yang mengonsumsinya, tapi juga berefek pada janin yang dikandung. Tapi ingat, konsumsi salak rutin cukup satu atau dua buah saja per hari.

Lancarkan Pencernaan
Seperti kebanyakan buah lainnya yang memiliki serat tinggi, salak juga memiliki kandungan kalsium, tanin, saponin, flavonoid, dan beta-karoten yang sangat bagus untuk menutrisi perut. Misalnya, tanin yang berkhasiat anti-diare.

Selain itu, salak juga dapat menjadi obat untuk gangguan pencernaan lambung. Akan lebih baik lagi, jika Anda makan salak bersamaan dengan kulit ari tipisnya yang dapat mencegah sembelit.

Bantu Turunkan Berat Badan
Salak mengandung serat dan antioksidan yang tinggi. Salah adalah buah yang dicari banyak orang untuk bantu turunkan berat badan. Itu karena salak mengandung kalsium dan karbohidrat yang menyediakan energi dan stamina yang diperlukan bagi tubuh yang sedang diet. Sementara, teh dari kulit buah salah juga berkhasiat yang sama untuk turunkan berat badan.

dikutip dari https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4116905/6-manfaat-buah-salak-bagi-kesehatan

Kamis, Desember 05, 2019

Kisah Iman, Badak Sumatera terakhir di Malaysia

Iman merupakan badak sumatera liar terakhir yang ditemukan di Malaysia, tepatnya di Lembah Danum. Badak betina itu sudah terdeteksi mengidap tumor saat ditangkap dan dipindahkan dari Lembah Danum ke suaka badak BORA (Borneo Rhino Alliance), Maret 2014.

Iman dalam Kenangan Fota: BORA
Iman, badak sumatera di Borneo Rhino Alliance [BORA], Sabah, Malaysia, mati pada Sabtu [23/11/2019] pukul 17.35 waktu setempat.

Kehadiran Iman yang ditemukan para ahli di pedalaman hutan Sabah saat itu, sempat membawa harapan baru bagi upaya konservasi. Para ahli meyakini, Iman adalah betina yang subur dan berpotensi memiliki keturunan. Ia dibawa ke suaka badak BORA untuk dikawinkan dengan Tam, badak jantan yang sudah lebih dulu menghuni BORA. Tam mati pada 27 Mei 2019, karena faktor usia [30 tahun]

Upaya pembuahan in-vitro antara Iman dengan Tam, belum membuahkan hasil karena kualitas sel sperma yang dimiliki Tam tidak begitu bagus. Meski Iman nyatanya menderita tumor ganas, ia merupakan badak paling aktif dan bersemangat di antara dua badak lain yang sudah lebih dahulu menghuni BORA.

Kertam, badak sumatera di BORA [Borneo Rhino Alliance], Taman Nasional Tabin, Sabah, Malaysia, mati pada 27 Mei 2019. Foto: BORA

Iman juga menjadi spesies badak sumatera terakhir yang hidup di Malaysia. Kematian badak berusia 25 tahun itu menjadi pukulan berat di tengah berbagai upaya luar biasa penyelamatan spesies paling terancam di dunia itu.

Para ahli sepakat, saat ini tidak lebih 80 individu badak sumatera [Dicerorhinus sumatrensis] tersisa di Bumi. Keberlangsungan hidupnya yang kritis, kini hanya menyisakan harapan di tiga bentang alam di Pulau Sumatera dan satu wilayah di luar kawasan konservasi di Kalimantan Timur.

Badak sumatera di Pulau Sumatera hanya ada di Taman Nasional Gunung Leuser [TNGL], Taman Nasional Bukit Barisan Selatan [TNBBS], dan Taman Nasional Way Kambas [TNWK]. Untuk di kawasan Kerinci Seblat, sudah tidak ditemukan atau dilaporkan kembali keberadaannya sejak 2011. Sementara di Kutai Barat, Kalimantan Timur, diperkirakan tersisa beberapa individu.

Di hutan Sumatera, saat ini yang sangat mengkhawatirkan adalah badak yang berada di luar kawasan TNGL. Mereka diperkirakan hidup terpencar dengan jumlah sedikit. Di TNBBS, sejak 2012 WWF-Indonesia telah memasang kamera jebak. Pada 2015, hasilnya hanya ditemukan 2 individu.

Sedangkan temuan tim Rhino Protection Unit di TNBBS dari berbagai ukuran jejak dan lokasi yang berbeda dan berjauhan, di diprediksi populasinya sekitar 17-24 individu. Berdasarkan lokakarya Population Viability Analisis pada 2015, badak sumatera yang ada di TNWK diperkirakan 31-36 individu, ditambah satu anakan yang lahir di alam pada Agustus 2016.

Dikutip dari https://www.mongabay.co.id/2019/11/25/punah-badak-sumatera-di-malaysia-menyisakan-cerita/

Senin, Desember 02, 2019

Jenis - Jenis Ikan Tinggi Omega 3

Omega 3 merupakan lemak tak jenuh yang punya banyak manfaat, mulai dari menjaga kesehatan jantung, mata, anti-inflamasi hingga meningkatkan kinerja otak. Selama ini kita cuma mengetahui ikan Salmon dikenal kaya akan omega 3. Namun Berikut jenis ikan yang tinggi omega 3 selain salmon;

Ikan Tuna



Tuna adalah sumber asam lemak omega-3, protein, magnesium potassium, vitamin B-12, dan niasin yang luar biasa. Tuna biasanya disajikan sebagai fillet atau steak, dan dapat dipanggang. Ia juga sering diolah menjadi sushi.

Ikan Tenggiri


Bahan utama pempek ini kaya akan vitamin B12, tinggi omega 3, selenium, magnesium, zat besi hingga kalium.

Ikan Kembung


Ikan satu ini tak hanya lezat, murah dan mudah ditemukan, namun juga mengandung omega 3. Kandungan omega 3 pada ikan yang masuk dalam jenis makarel ini mencapai 2,6 gram dan lemak 2,3 gram.

Ikan Sarden


Ikan sarden dapat diolah berbagai macam rupa, mulai dari dibakar, dipanggang maupun diasap. Sarden juga kaya akan vitamin D, niasin, dan kalsium.

Ikan Teri


Meski ukurannya kecil, ikan teri kaya akan kandungan omega 3 lho. Tak hanya itu, ikan teri juga mengandung nutrisi lain seperti protein, kalsium dan vitamin B12.

sumber 
https://www.suara.com/health/2019/11/21/064500/hari-ikan-nasional-kenali-5-jenis-ikan-tinggi-omega-3-selain-salmon

Sabtu, November 30, 2019

Badak Sumatera, Mata Dunia Kini Tertuju ke Indonesia

Periode 90-an, badak sumatera di Malaysia diperkirakan sekitar 200 individu, tersebar di Semenanjung Malaysia dan Sabah. Populasinya terkonsentrasi di Endau Rompin [20-25 individu], Taman Negara [8-12 individu], dan Sungai Dusun Wildlife Reserve [4-6 individu]. Sisanya, tersebar di Gunong Belumut, Mersing Coast, Ulu Lepar, Sungai Depak, Kuala Balah, Bukit Gebok, Krau Wildlife Reserve, Ulu Selama, Ulu Belum, dan perbatasan Kedah.

Badak pertama yang ditangkap untuk penangkaran [captive breeding] adalah Dusun. Seperti namanya, ia ditangkap di Sungai Dusun, Semenanjung Malaysia, pada 9 September 1986. Penangkaran badak sumatera di Malaysia awalnya dibangun di Sungai Dusun Wildlife Reserve dan Zoo Melaca. Ada 6 individu yang diselamatkan, 5 betina dan satu jantan muda. Namun, jantan muda ini mati setelah dilahirkan induknya yang sewaktu ditangkap bunting.

Penangkaran badak di Sungai Dusun tidak diteruskan, selain badak yang diselamatkan dari Semananjung Malaysia tidak ada lagi di alam, badak yang dipelihara juga mati satu persatu akibat penyakit tripanosoma yang berasal dari lalat. Diduga pula, kematian tersebut akibat sanitasi kurang baik, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan serius terhadap badak di penangkaran.

Bagaimana kabar badak Dusun? Dia dikirim ke Sumatran Rhino Sanctuary, Way Kambas, Lampung, sebagai badak betina ketiga yang masuk penangkaran, berdasarkan pertukaran Malaysia dan Indonesia pada 1987. Tujuannya, menyelamatkan badak sumatera dari ancaman kepunahan. Dusun hanya bertahan di SRS selama 3 tahun, mati pada 7 Februari 2001 karena penyakit degenerasi dan senilitas [penuaan].

Selain itu, ada juga badak betina yang dikirim ke Kebun Binatang Dusit, Thailand. Namun, tidak lama mati akibat gangguan pencernaan, akibat pakan yang tidak sesuai. Badak tersebut diberi kacang-kacangan, pisang, kentang, dan beberapa jenis daun

Badak sumatera di alam, kini hanya tersisa di Indonesia, diperkirakan tidak lebih dari 100 individu. Di Sumatera tersebar di Taman Nasional Gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan, dan Way Kambas. Khusus di Kerinci Seblat, sudah tidak ditemukan lagi jejaknya sejak 2011. Di Kalimantan Timur, diperkirakan tersisa kurang 15 individu. Itu pun perkiraan terlalu optimis.

Kondisi nyatanya adalah, ada satu badak betina bernama Pahu di SRS Hutan Lindung Kelian Lestari, Kalimantan Timur, yang memerlukan jantan untuk dikawinkan. Sementara di SRS Taman Nasional Way Kambas, Lampung terdapat 7 individu badak [3 jantan dan 4 betina].

Bila dilihat sejarah penyelamatan badak, upaya ini memang cukup panjang dengan tingkat keberhasilan minim. Sejak 1982, para ahli dari mancanegara telah berdiskusi meningkatkan populasi badak di alam.

Pada 1993, perkiraan populasi optimis menyatakan, total populasi badak sumatera di dunia diperkirakan ada 400 individu. Namun, para ahli pada pertemuan 2014 di Singapura sepakat, populasinya justru kurang dari 100 individu. Melalui perdebatan khusus, jika memperkirakan populasi batas minimum, mungkin badak tersisa hanya 30 individu di alam.

Penyelamatan badak sumatera dari ancaman kepunahan, kini ada di tangan Pemerintah Indonesia. Inisiatif aksi penyelamatan, kerja sama internasional, dan penggalangan dana perlu digalakkan.

Harapan penyelamatan badak sumatera tidak dipungkiri berada di pusat penangkaran, seperti di SRS Taman Nasional Way Kambas. Program ini pun perlu dipadu-serasikan dengan potensi-potensi varietas genetik dari individu-individu yang tersisa di Leuser Timur, Bukit Barisan Selatan, Kalimantan Timur; bahkan di Sabah sekalipun meski hanya tersisa sperma dari badak Kertam *(Kertam, badak sumatera subjenis Kalimantan [Dicerorhinus sumatrensis harrisoni] yang berada di BORA [Borneo Rhino Alliance], Taman Nasional Tabin, Sabah, Malaysia, mati pada 27 Mei 2019).

Dikutip dari https://www.mongabay.co.id/2019/06/02/kepunahan-badak-sumatera-mata-dunia-kini-tertuju-ke-indonesia/

Kamis, November 28, 2019

KENCUR (Kaempferia galanga)

Kencur merupakan tanaman herba yang memiliki rimpang (rhizome) beraroma sangat harum. Khasiat dan manfaat kencur yang beragam nyatanya terletak hampir pada tiap bagiannya. Kencur dalam bahasa latin disebut dengan Kaempferia galanga, termasuk ke dalam famili jahe (Zingiberaceae). Tanaman kencur banyak tumbuh di wilayah beriklim tropis dan subtropis. Daerah penyebaran umumnya berada di Asia, antara lain di Indonesia, India, Bangladesh, Tiongkok, dan Jepang.


Nama Umum
Indonesia: kencur, cikur [sun]; 
Malaysia: cikur, cekor; 
Filipina: dusol; 
China: shan nai


Klasifikasi*
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Subkelas: Commelinidae
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Genus: Kaempferia
Spesies: Kaempferia galanga L.

*Sumber http://plantamor.com/species/info/kaempferia/galanga

Sabtu, November 23, 2019

Nasib Gajah dan Harimau di Riau Makin Terdesak

Nasib satwa langka, dan dilindungi makin menyedihkan di Riau. Habitat makin terdesak, konflik dengan manusia, sampai perburuan untuk perdagangan. Pada Oktober saja, banyak kejadian suram bagi satwa di Riau. Minggu pertama Oktober, gajah Dita mati dalam kubangan parit pembatas kebun masyarakat di Suaka Margasatwa Balai Raja, Kecamatan Mandau, Bengkalis.

Gajah betina usia 25 tahun ini, ditemukan sudah membusuk. Isi perut berserakan. Sejak 2014-2018, Dita dalam pengawasan medis Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Riau, karena tak punya tapak kaki sebelah kiri bagian depan setelah terkena jerat.

BKSDA Riau mendata, selain Dita juga ada satu gajah betina dewasa dan satu anak gajah lain di SM Balai Raja. Data WWF Riau, gajah mati bukan hanya Dita. Pada 2016, dua gajah betina dewasa mati karena sakit dan kesetrum pagar listrik warga yang melindungi kebun.

Syamsidar, WWF Riau, mengatakan, gajah di SM Balai Raja ada 25 pada 2014. Setahun terakhir, hanya lima sampai tujuh gajah terpantau. Selain Dita, ada Seruni, Rimba, Getar, Codet dan Bara.

Konflik harimau dan manusia juga terjadi 24 Oktober 2019 di Indragiri Hilir, Riau. Pada bulan Mei tanggal 23 lalu, harimau menerkam M Amri, pekerja PT RIA di kanal sekunder 41, Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Indragiri Hilir. Pada Agustus, giliran Darmawan asal Sumatera Selatan, diterkam di konsesi PT Bhara Induk, juga lansekap Kerumutan.

Tahun lalu, harimau Bonita, di kantong Kerumutan sudah merenggut dua nyawa, Sumiati dan Yusri. Bonita, harimau yang diketahui merenggut nyawa dua orang itu mau tidak mau harus dievakuasi BKSDA.

Tahun ini, BKSDA Riau tak evakuasi, kata Suharyono, karena wilayah itu memang rumah harimau. “Lansekap Kerumutan kantong harimau di Riau. Tak bijak mengevakuasi harimau dari rumahnya,” katanya, seraya bilang, akan evaluasi menyeluruh atas kejadian konflik manusia dan harimau, yang berulang.

sumber lengkap https://www.mongabay.co.id/2019/11/11/nasib-gajah-dan-harimau-di-riau-makin-terdesak/

Kamis, November 21, 2019

Daun Segudang Manfaat dan Sudah Digunakan Sejak Dahulu

Berikut Beberapa daun buah yang bisa jadi obat alami. Pengobatan dengan daun-daun buah ini bahkan sudah jadi tradisi turun temurun.

1. Daun jambu biji

Selain diare, daun jambu biji juga mampu mengontrol kolesterol, menjaga kesehatan jantung, mencegah sembelit dan menurunkan berat badan. Zat flavanoid dan tanin dalam daun jambu biji membantu mengurangi diare dan membunuh bakteri dalam usus.

2. Daun pepaya

Secara alami daun buah pepaya memiliki rasa pahit yang berasal dari zat alkaliod karpain. Meskipun pahit, daun pepaya ternyata ampuh menurunkan panas saat demam. membunuh bakteri dan jamur berbahaya hingga mengurangi tekanan darah tinggi. 

3. Daun sirsak

Kabarnya, kandungan acetogenin pada daun sirsak ini lebih tangguh melawan sel kanker dibandingkan obat kemoterapi. Tapi daun sirsak ini juga tak boleh dikonsumsi secara terus menerus dalam jangka waktu panjang karena akan berdampak buruk pada pada hati, ginjal dan sistem saraf. Daun sirsak juga tak dianjurkan untuk ibu hamil dan menyusui.

Kandungan annocatalin, asam gentisic, annomuricin, calcourin dan asam linoleat pada daun sirsak mampu mengobati asam urat.

4. Daun nangka

Daun nangka juga dipercaya bisa mencegah berbagai penyakit mulai dari jantung, stroke hingga kanker. Kandungan phytonutrisi pada daun nangka bisa menyembuhkan luka, penyembuh sakit gigi, penurun panas dan mengontrol tekanan darah. Bagi ibu menyusui, daun nangka bisa jadi alternatif santapan untuk melancarkan produksi ASI.

5. Daun mangga

Pilih daun mangga muda yang punya tekstur lembut. Daun ini bisa langsung dimakan atau diolah lagi menjadi teh. Teh daun mangga yang punya aroma menyegarkan ini juga kerap diandalkan sebagai asupan yang membuat rileks.

Kandungan tanin dan antosianin pada daun mangga terbukti efektif membantu mengobati berbagai penyakit yang disebabkan gula berlebih. Daun mangga juga biasa dikonsumsi untuk mengobati flu, asma dan bronkitis.

sumber https://food.detik.com/info-kuliner/d-4777452/5-daun-buah-ini-punya-segudang-manfaat-dan-sudah-digunakan-sejak-dahulu

Selasa, November 12, 2019

Pengertian TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri)

Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sendiri adalah nilai isian dalam persentase dari komponen produksi dalam negeri termasuk biaya pengangkutannya yang ditawarkan dalam item penawaran harga barang maupun jasa.

Tujuan diberlakukan TKDN sebenarnya untuk mengurangi defisit perdagangan akibat banyaknya barang impor yang masuk ke Indonesia khusunya Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam, Dan Komputer Tablet. Pasalnya, saat era 3G dulu, ponsel bebas diimpor masuk tanpa penyaring apa pun.

Karena untuk pengadaan (Procurement), banyak mesin dan alat-alat yang bahan bakunya masih berasal dari luar negeri tapi perakitannya dilakukan di dalam negeri, sementara Pemerintah berharap, untuk proyek-proyek yang akan dilaksanakan, lebih banyak menggunakan bahan dan jasa dari dalam negeri. Untuk itu, maka penilaian penawaran peserta pengadaan barang / jasa tidak hanya dari segi teknis dan harga tapi juga dari tingkat komponen dalam negeri yang dikandung oleh barang maupun jasa yang ditawarkan.

Produk yang tidak memenuhinya tidak akan diperbolehkan dijual di Indonesia. Vendor harus memakai komponen, produk, atau jasa dari dalam negeri untuk merakit produknya dan memperoleh nilai TKDN yang disyaratkan sehingga bisa tetap berjualan.

Pemerintah sendiri memberikan insentif terhadap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tertentu yang dimasukkan dalam proses produksi pada pelbagai jenis industri.

Berikut Peraturan yang berhubungan dengan TKDN:

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 57 Tahun 2006
"Penunjukkan surveyor sebagai pelaksana verifikasi capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) atas barang / jasa produksi dalam negeri"

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 16 Tahun 2011
"Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri"

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 68 Tahun 2015
"Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Elektronika Dan Telematika"

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 29 Tahun 2017
"Ketentuan Dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam, Dan Komputer Tablet"

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 04 Tahun 2017
"Ketentuan Dan Tata Cara Penilaian Tingkat Komponen Dalam Negeri Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya"

sumber
http://tkdn.kemenperin.go.id
https://corphr.com/pemahaman-tkdn-tingkat-komponen-dalam-negeri-1-2-desember-2015/









Senin, November 11, 2019

Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)

Orangutan tapanuli, sebelum diumumkan sebagai jenis baru, sejatinya sudah dikenal masyarakat setempat dan juga para peneliti orangutan di Sumatera. Tidak ada yang menyangka bila spesies yang telah dipublikasikan lebih seabad ini merupakan jenis berbeda dari dua jenis orangutan yang ada.

Orangutan tapanuli menjadi jenis ke tiga yang hidup di Indonesia, selain orangutan sumatera [Pongo abelii] dan orangutan kalimantan [Pongo pygmaeus].

Orangutan tapanuli [Pongo tapanuliensis], yang hidup di Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, resmi dinobatkan sebagai jenis baru, November 2017. Hasil penelitian Alexander Nater et al, berjudul “Morphometric, Behavioral, and Genomic Evidence for a New Orangutan Species” yang dipublikasikan di Jurnal Current Biology menasbihkan temuan yang diteliti sejak 1997 tersebut.

Berdasarkan habitat potensial orangutan tapanuli tersisa, diperkirakan sekitar 34% berupa hutan primer, 52% hutan sekunder, dan 14% merupakan tutupan lahan lain.

Orangutan tapanuli hidup pada habitat sangat terbatas, dalam areal sekitar 132 ribu hektar di bentang alam Batang Toru dan beberapa habitat lain yang terus diteliti. Kondisi habitatnya juga terpisah, karena faktor alam maupun akibat pembangunan wilayah.

Sementara dari sisi fungsi kawasan, sekitar 7 % habitat orangutan tapanuli berada di cagar alam yang wilayah pengelolaan dibawah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam [BBKSDA] Provinsi Sumatera Utara. Berikutnya, 64% berada di hutan lindung dan 4% di hutan produksi yang pengelolaannya berada di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah X Padangsidimpuan dan Wilayah XI Pandan. Sisanya, 25% di areal penggunaan lain yang dikelola pemerintah daerah kabupaten dan masyarakat.

Pemerintah Indonesia dalam Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi [SRAK] Orangutan 2019- 2029, menggunakan angka 577-760 individu, di habitat seluas 1.051,32 kilometer persegi yang tersebar pada dua metapopulasi. Lokasi itu adalah Batang Toru Barat dan Batang Toru Timur [Sarulla Timur].

Dugaan angka populasi orangutan tapanuli masih ada perbedaan. Penelitian Nater et al, 2017 menyatakan kisaran 800 individu, sementara Kuswanda [2018] memprediksi antara 495-577 individu.

Orangutan tapanuli awalnya diduga sebagai populasi orangutan paling selatan dari spesies orangutan sumatera [Singleton et al. 2004]. Studi genetik lebih lanjut yang dilakukan menunjukkan adanya perbedaan mendasar dengan orangutan yang berada di utara Danau Toba, sehingga dapat dinyatakan sebagai sub-spesies baru untuk spesies orangutan sumatera atau Pongo abelii tapanuliensis [Rianti 2015].

Namun, berdasarkan penelitian lebih mendalam, secara taksonomi, orangutan tapanuli lebih dekat dengan orangutan kalimantan. Dengan begitu, populasi orangutan sumatera di Batang Toru dinyatakan sebagai spesies baru bernama Pongo tapanuliensis [Nater et al. 2017].

Berdasarkan studi filogenetik menggunakan analisis komponen utama dan model genetik populasi, pada sampel genetik 37 orangutan liar dan analisis morfologi kerangka 34 jantan dewasa orangutan sumatera dan orangutan kalimantan, hasilnya menunjukkan bahwa populasi orangutan di Batang Toru memang merupakan spesies berbeda.

Orangutan tapanuli berdasarkan gen mitokondria diperkirakan telah terpisah dengan garis keturunan orangutan sumatera dan orangutan kalimantan sejak 3,5 juta tahun silam.

Isolasi terjadi setelah terjadinya erupsi Danau Toba yang mengakibatkan kekhususan mutasi gen dan peningkatan alel orangutan tapanuli.

Berdasarkan data mikrosatelit autosomal, keanekaragaman alel [gen yang memiliki lokus [posisi pada kromosom] yang sama, genom DNA mikondria, dan mitokondria HVR-I menunjukkan bahwa orangutan tapanuli merupakan spesies orangutan paling terisolasi di Sumatera.

Hal ini menunjukkan bahwa populasi orangutan di Batang Toru berbeda dengan populasi orangutan yang ada di Sumatera keseluruhan dan Kalimantan.

Berdasarkan DNA mitokondria, orangutan betina di Batang Toru memiliki kekerabatan lebih dekat dengan orangutan kalimantan dibandingkan orangutan sumatera.

Rambut orangutan dapat digunakan sebagai pembeda. Secara umum, orangutan tapanuli lebih mirip dengan orangutan sumatera dalam hal bentuk tubuh, warna, dan banyaknya rambut.

Orangutan tapanuli memiliki rambut lebih panjang dan lebat sehingga bagian ujung rambut cenderung keriting. Umumnya, betina dan jantan dewasa memiliki rambut yang tumbuh mulai dari atas bibir sampai dagu. Sementara, kepala orangutan tapanuli lebih kecil dan bentuk wajahnya lebih rata.

Pohon yang dijadikan sarang orangutan tapanuli di Batang Toru diperkirakan sebanyak 91 jenis, terdiri 27 famili. Fagaceae banyak dipilih karena pohon relatif kuat yang mampu menopang tubuh orangutan, serta memiliki percabangan horizontal rapat dengan daun tidak berbulu dan bergetah. Daunnya tidak terlalu besar dan lembut.

Namun, ketika pepohonan dari Famili Fagaceae berbuah, orangutan tapanuli justru tidak menggunakannya sebagai sarang. Alasannya, menghindari perjumpaan dan persaingan dengan satwa lain yang juga ingin memanfaatkan pohon tersebut. Rata-rata tinggi pohon yang digunakan untuk bersarang sekitar 16 meter lebih.

Keunikan lain orangutan tapanuli adalah satu-satunya populasi orangutan di hutan dataran rendah tanah kering yang menggunakan alat pada buah cemengang [Neesia sp.] yang sebelumnya hanya ditemukan pada orangutan di hutan rawa [van Schaik 2009].

Sebagai flagship species berstatus Kritis [Critically Endangered] berdasarkan IUCN Red List, orangutan tapanuli bisa dijadikan simbol peningkatan kesadaran konservasi, sekaligus penyelamatan ekosistem hutan dan pembangunan berkelanjutan.


Pemerintah Indonesia telah menetapkan orangutan tapanuli sebagai spesies dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No.P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi.

Melalui SK No.308/MENLHK/KSDAE/ KSA.2/4/2019 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia Tahun 2019-2029 yang diluncurkan 12 Agustus 2019, Pemerintah Indonesia juga telah menerbitkan rencana aksi pelestarian orangutan tapanuli sebagai target prioritas nasional.

Sumber https://www.mongabay.co.id/2019/10/29/orangutan-tapanuli-dan-7-fakta-uniknya/


Senin, November 04, 2019

Satwa Langka di Ibu Kota Baru Indonesia

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo [Jokowi] resmi mengumumkan Provinsi Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota Indonesia yang baru, di Istana Negara, Jakarta, Senin [26 Agustus 2019]. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden, setelah melalui kajian mendalam tiga tahun terakhir. Kalimantan Timur, sebagaimana dilansir dari kaltimprov.go.id, merupakan provinsi terluas kedua setelah Papua, dengan potensi sumber daya alam melimpah. Luas hutan Kalimantan Timur, berdasarkan data 2015 sekitar sekitar 8.339.151 hektar, sungguh memiliki keragaman hayati luar biasa.

Berikut delapan satwa langka kebanggaan Indonesia yang ada di Kalimantan Timur, representasi dari sedikitnya kekayaan hayati yang harus dilindungi dan dilestarikan.

Badak Sumatera
Badak sumatera merupakan satwa langka yang berdasarkan IUCN statusnya ditetapkan Kritis [Critically Endangered], atau satu langkah menuju kepunahan di alam liar. Berdasarkan data Population and Habitat Viability Analysis [PHVA] 2015, populasinya diperkirakan kurang dari 100 individu.

Satwa bercula dua ini tersebar hingga India, Bangladesh, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaysia, termasuk Kalimantan dan Sumatera, dan diklasifikasikan dalam tiga subjenis.

Badak sumatera diklasifikasikan dalam tiga subjenis. Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis tersebar di Sumatera, Malaysia, dan Thailand. Dicerorhinus sumatrensis harrissoni ada di wilayah Kalimantan. Sementara Dicerorhinus sumatrensis lasiotis ditemukan di Vietnam, Myanmar bagian utara hingga Pakistan bagian timur.

Di Kalimantan Timur, jenis Dicerorhinus sumatrensis harrissoni masih ditemukan di Kabupaten Kutai Barat. Satu individu betina bernama Pahu saat ini berada di Suaka Rhino Sumatra [SRS] Hutan Kelian Lestari.

Sementara, untuk subjenis Dicerorhinus sumatrensis lasiotis, beberapa peneliti badak menyebutkan, keberadaannya sudah tidak terlihat lagi sejak puluhan tahun lalu. Diindikasikan punah.

Orangutan Kalimantan
Orangutan merupakan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Diperkirakan, sekitar 20 ribu tahun lalu, orangutan tersebar di seluruh Asia Tenggara, dari ujung selatan Pulau Jawa hingga ujung utara Pegunungah Himalaya dan Tiongkok bagian selatan. Kini, 90 persen orangutan hanya ada di Indonesia yaitu di Sumatera dan Kalimantan, sementara sisanya ada di Sabah dan Sarawak, Malaysia.

Indonesia merupakan habitat tiga jenis orangutan: orangutan sumatera, orangutan kalimantan, dan orangutan tapanuli. Namun, ketiganya berstatus Kritis [Critically Endangered] berdasarkan kriteria yang ditetapkan International Union for Conservation of Nature [IUCN].

Orangutan kalimantan [Pongo pygmaeus], hampir berada di seluruh hutan daratan rendah Kalimantan [Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah], kecuali Kalimantan Selatan dan Brunei Darussalam.

Orangutan kalimantan dikelompokkan tiga anak jenis yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus [utara Sungai Kapuas hingga timur laut Sarawak]; Pongo pygmaeus wurmbii [tersebar dari selatan Sungai Kapuas hingga bagian barat Sungai Barito]; serta Pongo pygmaeus morio [dari Sabah hingga selatan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur].

Rangkong
Rangkong merupakan burung yang masuk keluarga Bucerotidae [julang, enggang, dan kangkareng], yang ditandai ukuran tubuhnya dari 65 cm hingga 170 cm.

Di Indonesia, ada 13 jenis rangkong. Sembilan jenis tersebar di Sumatera dan Kalimantan yaitu enggang klihingan, enggang jambul, julang jambul-hitam, julang emas, kangkareng hitam, kangkareng perut-putih, rangkong badak, rangkong gading, dan rangkong papan. Khusus Kalimantan, semua jenis rangkong tersebut dapat dilihat kecuali rangkong papan.

Empat jenis lain adalah julang sumba, julang sulawesi dan kangkareng sulawesi, serta julang papua.

Beruang Madu
Beruang madu merupakan satwa liar dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 dan juga Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Berdasarkan CITES [Convention on International Trade in Endangered Species], beruang madu dimasukkan dalam Appendix I sejak 1979 yang berarti tidak diperbolehkan diburu. Sejak 1994, statusnya dikategorikan Rentan [Vulnerable/VU] yang menunjukkan statusnya menghadapi tiga langkah menuju kepunahan di alam liar.

Beruang madu [Helarctos malayanus] merupakan maskot Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Persebarannya ada di ujung timur India, Bangladesh, Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, Vietnam, Malaysia, serta Sumatera dan Kalimantan.

Bekantan
Satwa bernama latin Nasalis larvatus ini dikenal dengan julukan kera belanda karena hidungnya mancung. Satwa endemik Kalimantan ini hidup di ekosistem hutan mangrove. Konversi habitat, perburuan, kebakaran hutan, dan illegal logging menyebabkan nasibnya di ujung tanduk.

Bekantan merupakan satwa dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Jenis ini masuk daftar CITES Apendix I yang artinya tidak boleh diperdagangkan. IUCN memasukkan statusnya Genting [Endangered/EN].

Owa
Owa merupakan primata tak berekor anggota suku Hylobatidae. Indonesia merupakan rumah besar 7 jenis owa dari 19 jenis yang ada di Asia. Ada Hylobates moloch [owa jawa] yang tersebar di Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah; Hylobates lar [serudung] yang berada di Sumatera bagian utara; Hylobates agilis [ungko] di Sumatera bagian tengah ke selatan; juga Symphalangus syndactylus [siamang] di seluruh Sumatera.

Berikutnya, Hylobates klosii [bilou] di Pulau Mentawai, Sumatera Barat; Hylobates muelleri [kelempiau] di seluruh Kalimantan; serta Hylobates albibarbis [ungko kalimantan atau kalaweit] yang berada di Kalimantan bagian barat.

Seluruh owa dilindungi Permen LHK P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Pesut Mahakam
Pesut Mahakam [Orcaella brevirostris] merupakan lumba-lumba air tawar yang merupakan simbol Provinsi Kalimantan Timur. Habitatnya di Sungai Mahakam. Ukuran tubuh pesut dewasa hingga 2,3 meter dengan berat mencapai 130 kg. Tubuhnya abu-abu atau kelabu dengan bagian bawah lebih pucat.

Badan Konservasi Dunia International IUCN menetapkan statusnya Genting [Endangered/EN]. Penurunan habitat, polusi suara dari frekuensi tinggi kapal yang melintas, industri, sampah hingga jaring adalah ancaman kehidupan yang dihadapi pesut saat ini.

Rencana zonasi habitat pesut di Kutai Kartanegara [Kukar], Kalimantan Timur, yang diusulkan Yayasan RASI [Rare Aquatic Species of Indonesia] adalah harapan utama lestarinya Irrawady Dolphin di masa mendatang.

Penyu
Indonesia merupakan rumah bagi enam spesies penyu dari tujuh spesies yang ada di dunia. Enam jenis tersebut adalah penyu hijau [Chelonia mydas], penyu sisik [Eretmochelys imbricata], penyu lekang [Lepidochelys olivacea], penyu belimbing [Dermochelys coriacea], penyu pipih [Natator depressus], dan penyu bromo [Caretta caretta].

Di perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, banyak ditemukan penyu hijau. Jenis ini merupakan pemakan tumbuhan yang sesekali memangsa hewan kecil.

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi disebutkan bahwa penyu bromo, penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, dan penyu pipih merupakan jenis dilindungi.

Pelaku kejahatan bisa dijerat UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ancamannya, 5 tahun penjara dan denda Rp100 juta.

Senin, Agustus 19, 2019

Fakta Menarik Tentang Hiu Paus

Menyandang predikat sebagai ikan terbesar di dunia saat ini, tak membuat hiu paus menjadi hewan laut yang aman. Keberadaannya masih menjadi incaran banyak orang dan terus diburu di perairan tropis dan air hangat. Seperti halnya di Indonesia, negara yang sejak 2013 sudah menerapkan perlindungan penuh untuk hewan laut tersebut.

Untuk bisa menjaga hiu paus, perlu pemahaman yang luas tentang hewan laut tersebut. Apa saja itu seperti di kutip dari Mongabay 
  1. Hiu paus adalah ikan terbesar dan masuk dalam kelompok hiu (Rhincodon typus). Namun, meski besar, per individu dikenal jinak kepada manusia dan hewan laut lainnya. Dia juga memiliki gigi yang berukuran 6mm saja dan tidak setajam hewan laut kelompok hiu lainnya;
  2. Di Indonesia, hiu paus dikenal juga dengan sebutan hiu totol atau gurano bintang. Penamaan tersebut muncul karena fisik hiu paus dipenuhi pola totol-totol di seluruh kulitnya. Yang unik, seperti sidik jari manusia, masing-masing individu hiu paus dipastikan memiliki pola totol-totol yang berbeda;
  3. Hiu Paus ini mampu hidup seperti usia manusia. Per individu, rerata hiu paus mampu hidup hingga usia 70 tahun. Selain itu, karena sosoknya yang raksasa, hiu paus dipercaya adalah hewan laut dari masa pra sejarah dan keberadaannya diperkirakan sudah sejak 60 juta tahun lalu;
  4. Pergerakan hiu paus sangat lambat dan bisa mencapai 5 km/jam saja. Karena lambat, hiu paus bisa saja terkena insiden tabrakan dengan kapal laut. Tetapi meski lamban, hiu paus mampu menyelam hingga kedalaman 1.000 meter. Dan ternyata, walau jago di perairan dalam, lokasi favorit hiu paus ada di perairan dangkal sekitar 50 meter saja;
  5. Sejak 2013, Pemerintah RI melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No.18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus. Dengan demikian, terhitung sejak waktu tersebut, Hiu Paus dilindungi secara penuh di Indonesia. Perlindungan tersebut sangat penting dilakukan, karena Hiu Paus di Indonesia masih menjadi perburuan liar. Selain Indonesia, negara lain yang sudah mengeluarkan perlindungan penuh, adalah Filipina, India, dan Taiwan;
  6. Bersama hiu lain yang masuk dalam kelompok hiu, perkembangbiakan hiu paus berjalan sangat lambat dan itu membuat mereka rentan dari ancaman kepunahan. Seperti dilansir Dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN Red List), hiu paus ditetapkan berstatus vulnerable (atau rentan punah);
  7. Sebagai predator di lautan tropis dan perairan hangat, keberadaan hiu paus memberi manfaat untuk menjaga keseimbangan ekosistem (rantai makanan) perairan laut, dan menjaga kelestarian biota laut langka (eksotik). Selain itu, juga menjaga nilai dan keanekaragaman sumberdaya ikan dan lingkungan secara berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan pariwisata bahari berbasis ikan hiu paus;
  8. Meski memiliki mulut yang besar dan fisik yang raksasa, hiu paus tetaplah hewan laut yang jinak. Dia memakan plankton atau di Indonesia Timur makanannya dikenal dengan sebutan ikan furi. Mulut hiu paus lebar 1.5 meter dan berisikan 10 lembaran penyaring dan sekitar 300 hingga 350 deret gigi kecil-kecil. Ikan ini juga memiliki lima pasang insang berukuran besar. Dua mata yang kecil terletak di ujung depan kepalanya yang datar dan lebar. Warna tubuhnya umumnya keabu-abuan dengan perut putih; tiga gigir memanjang terdapat di masing-masing sisi tubuhnya, serta lukisan bintik-bintik dan garis kuning keputih-putihan yang membentuk pola kotak-kotak. Kulitnya memiliki ketebalan 10 sentimeter. Sirip punggung dan sirip dada masing-masing sepasang. Pada hewan muda, sirip ekornya lebih panjang yang sebelah atas, sementara pada hewan dewasa sirip ini lebih berbentuk seperti bulan sabit.
  9. D Indonesia, hiu paus bisa ditemukan di seluruh perairan yang beriklim tropis dan hangat. Namun, kemunculannya baru diketahui di sejumlah daerah saja seperti Nabire dan Kaimana (Papua Barat), Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Sabang (Aceh), Situbondo (Jawa Timur), dan Nusa Tenggara.
sumber https://www.mongabay.co.id/2016/08/31/hiu-terbesar-tapi-jinak-dan-bukan-karnivora-begini-9-fakta-menarik-tentang-hiu-paus/

Senin, Agustus 12, 2019

Perairan Indonesia Timur Adalah Rumah Hiu Berjalan yang Hanya Ada di Indonesia

Tak hanya dikenal sebagai surga terumbu karang, Indonesia juga ternyata menjadi surga bagi hiu yang sangat langka. Perairan yang menjadi lokasi favorit untuk berdiam dan berkembang biak, adalah perairan Indonesia Timur, khususnya di Papua Barat dan Maluku. Dari informasi yang dirilis Conservation International (CI) Indonesia, sedikitnya ada lima jenis hiu langka yang sudah ditemukan ada di perairan Indonesia.

Menurut CI Indonesia, hingga saat ini hiu berjalan hanya ada sembilan jenis di dunia dan lima jenis di antaranya sudah diketahui ada di perairan Indonesia. Marine Program Director CI Indonesia Victor Nikijuluw mengatakan, keberadaan lima dari sembilan jenis hiu berjalan di Indonesia, sudah sepatutnya mendapatkan perhatian istimewa di kalangan pecinta ekosistem laut.

Victor memaparkan, sebagai hiu yang langka ditemukan di belahan bumi lainnya, keberadaan lima spesies hiu berjalan di Indonesia, sudah sepantasnya mendapatkan peningkatkan status perlindungan dari Pemerintah. Peningkatan perlindungan tersebut, sudah diberikan kepada Hiu Paus dan Pari Manta.

Lebih lanjut Victor menuturkan, hiu berjalan dinilai sangat istimewa, karena dari semua jenis hiu yang ada, hanya hiu berjalan yang berbeda sendiri. Kata dia, disebut hiu berjalan, karena gerakannya di dasar laut menggunakan sirip -siripnya untuk bergerak.

“Itu persis seperti melata atau berjalan. Cara tersebut terutama dilakukan di perairan dangkal dan umumnya bisa dilihat pada malam hari,” sebut dia. Secara taksonomi, Victor menjelaskan, hiu berjalan sering disebut sebagai Hiu Bambu (Bamboo shark) dan dikelompokkan dalam genus Hemiscyllium.

Adapun, lima jenis hiu berjalan yang ada di Indonesia, seperti rilis resmi CI Indonesia, empat diantaranyaadalah spesies endemik atau hanya ditemukan di perairan Indonesia. Keempatnya, adalah hiu berjalan Raja Ampat (Hemiscyllium freycineti), biu berjalan Teluk Cendrawasih (H. galei), hiu berjalan Halmahera (H. halmahera), dan hiu berjalan Teluk Triton Kaimana (H. henryi).

Sementara, satu spesies lagi, adalah biu berjalan H.trispeculare yang ditemukan di perairan Aru Maluku. Spesies tersebut tidak masuk endemik, karena bisa ditemukan juga di pantai utara dan barat Benua Australia.

Menurut pakar hiu dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Fahmi, terbatasnya jumlah dan perairan yang menjadi habitat hiu berjalan di dunia, tidak lain karena hiu jenis tersebut memiliki sifat biologi yang unik dan tidak seperti spesies ikan terumbu karang lain.

Fahmi menyebutkan, dari lima jenis hiu berjalan yang sudah ditemukan di Indonesia, baru hiu jenis Hemiscyllium freycineti yang sudah diberikan perlindungan penuh. Aturan tersebut dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten Raja Ampat yang menjadi penguasa wilayah perairan tempat hiu tersebut ada.

“Sejauh ini, baru spesies Hemiscyllium freycineti yang ada di Raja Ampat yang dilindungi oleh Perda Raja Ampat Nomor 9 Tahun 2012 mengenai Larangan Penangkapan Ikan Hiu, Pari Manta, dan Jenis-jenis Ikan Tertentu di Perairan Laut Raja Ampat,” papar dia.

Menurut Fahmi, upaya yang dilakukan Raja Ampat tersebut patut untuk diikuti oleh daerah lain yang diketahui wilayah perairannya terdapat hiu berjalan. Perlindungan penuh penting dilakukan, karena jika dibiarkan bebas, maka akan banyak yang memburunya dan itu akan memusnahkan populasinya yang sangat sedikit.

“Saat ini, kelompok hiu berjalan merupakan kelompok ikan hiu yang sering dijadikan ikan hias dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran internasional. Beberapa negara maju bahkan sudah melakukan upaya budidaya spesies hiu berjalan untuk kepentingan komersial,” ungkap dia.

Dengan fakta seperti itu, Fahmi mendesak kepada Pemerintah untuk segera melakukan pengelolaan terhadap jenis hiu tersebut dan juga habitatnya. Jangan sampai, keberadaan jenis hiu tersebut ke depan justru banyak ditemukan di akuarium-akuarium ikan hias dan justru sulit ditemukan di habitat aslinya.

sumber https://www.mongabay.co.id/2017/01/21/ternyata-perairan-indonesia-timur-adalah-rumah-hiu-berjalan-yang-hanya-ada-di-indonesia/

Senin, Agustus 05, 2019

KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptana)

Nama Umum
Indonesia: kangkung darat, kangkung; 
Malaysia: kangkong kampong; 
Filipina: kangkong; 
Thailand: phak boong ban; 
Inggris: garden morning glory

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili: Convolvulaceae
Genus: Ipomoea
Spesies: Ipomoea reptana Poir.

sumber http://plantamor.com/species/info/ipomoea/reptana

Rabu, Juli 31, 2019

Peneliti Temukan Cadangan Air Tawar Raksasa di Bawah Laut Atlantik

Ribuan tahun yang lalu, sebagian besar planet bumi tertutup oleh gletser. Gletser atau glasier, adalah bongkahan es yang besar yang terbentuk di atas permukaan tanah yang merupakan akumulasi endapan salju yang membatu selama kurun waktu geologi.   Lautan surut ketika air membeku di lapisan es besar yang menyelimuti benua Amerika Utara. Saat zaman es berakhir, gletser pun mencair. Delta sungai besar mengalir keluar melintasi landas kontinen. Lautan naik, dan air segar terperangkap dalam sedimen di bawah laut.

Dilaporkan dalam edisi terbaru jurnal Scientific Reports, para ilmuwan dari Columbia University dan Woods Hole Oceanographic Institution menghabiskan 10 hari di kapal riset yang menarik sebuah sensor elektromagnetik dari New Jersey ke Massachusetts sejauh 350 melewati pantai-pantai di perairan sekitar New York, Rhode Island, dan Connecticut. Dengan mengukur cara gelombang elektromagnetik melintasi air tawar dan air asin, para peneliti berhasil memetakan reservoir (cadangan) air tawar yang terisolir di dasar laut  .

Ternyata cadangan air tawar dalam jumlah besar di bawah laut ini membentang  di lepas pantai Atlantik Amerika Serikat, yang berisi banyak sekali cadangan air tanah salinitas rendah, sekitar dua kali volume Danau Ontario. Endapan air tawar ini berada 183 m di bawah dasar laut dan membentang ratusan kilometer.

Akuifer ini mengandung 2.800 kilometer kubik air tawar. Akuifer ini juga diperkirakan berumur sangat tua. Setidaknya sudah ada dari zaman es.

Para ilmuwan mendapat petunjuk pertama bahwa ada akuifer di bawah laut pada tahun 1970-an, ketika sebuah perusahaan yang mengebor wilayah pantai untuk mencari minyak menabrak tampungan air tawar tersebut. Namun belum jelas apakah endapan air tawar ini adalah sebuah kantong air yang terisolasi dan sejauh apa bentangannya.

“Kami tahu ada air tawar di sana di tempat-tempat yang terisolir satu sama lain, tetapi kami tidak tahu luas dan bentangannya” kata pemimpin tim Chloe Gustafson, seorang kandidat PhD di Lamont-Doherty Earth Observatory, Universitas Columbia, seperti dilansir  Phys.org. “Cadangan air tawar ini  bisa menjadi sumber daya penting di bagian lain dunia.”

Ukuran dan luasnya endapan air tawar menunjukkan bahwa mereka juga mendapatkan suplai oleh limpasan air dari daratan — dan mungkin ada di tempat lain dengan topografi yang serupa.

Menurut studi tersebut, ada dua cara berbeda mengapa kolam air tawar ini bisa ada di bawah laut.

“Kira-kira 15 ribu hingga 20 ribu tahun lalu, menjelang akhir zaman glasial, kebanyakan cadangan air dunia terkunci di dalam es. Di Amerika Utara, itu meluas ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai New Jersey, Long Island, dan New England di Amerika Serikat,” papar peneliti.

“Permukaan laut saat itu jauh lebih rendah sehingga dapat memperlihatkan landas benua di bawah air. Ketika es mencair, sedimen membentuk delta sungai yang besar di atas landas benua dan air tawar terperangkap di sana. Namun sayangnya, permukaan laut kembali naik sehingga menutupinya,” tambah mereka.

Seorang peneliti lain, Kerry Key menyebutkan bahwa akuifer ini kemungkinan tidak bermukim lama di bawah laut Atlantik. Mereka akan terdorong ke laut dari daratan yang disebabkan oleh adanya tekanan naik dan turun ombak lautan.

Dia menambahkan bahwa ujung akuifer yang paling banyak mengandung air tawar terletak dekat dengan pantai dan semakin jauh, airnya semakin asin, yang mengindikasikan bahwa akuifer ini perlahan bercampur dengan air laut.

Key menyebutkan air tawar yang dekat dengan daratan, tingkat perbandingannya sekitar 1 bagian per seribu air laut, sama seperti keadaan air tawar di darat pada umumnya.

Sebaliknya, tingkat perbandingan garam di air tawar di daerah tepi luar akuifer adalah sekitar 15 bagian per seribu, yang masih lebih rendah dari tingkat air laut pada umumnya yaitu 35 bagian per seribu.

Para peneliti mengatakan, jika berhasil mendapatkan air tawar tersebut, kita tidak perlu melakukan penyulingan garam. Itu bisa menjadi cadangan air bersih untuk dunia.

“Kita mungkin tidak perlu melakukan itu, tetapi setidaknya jika kita dapat menunjukkan ada akuifer besar di wilayah lain, bisa memunculkan potensi sumber daya air baru,” tambah Key.

sumber
https://www.mongabay.co.id/2019/07/01/penemuan-mengejutkan-peneliti-temukan-cadangan-air-tawar-raksasa-di-bawah-laut-atlantik/

Sabtu, Juli 20, 2019

Dinyatakan Punah 136 Ribu Tahun Silam, Burung Mandar Aldabra Ini Muncul Kembali

Pernah dengar nama Atol Aldabra? Karang terbesar ke dua di dunia ini luasnya mencapai 60 mil persegi. Letaknya 265 mil barat laut Madagaskar, di Samudera Hindia, sebagai rumah besar ratusan spesies, termasuk kura-kura raksasa Aldabra.


Sekitar 136 ribu silam, banjir besar melanda pulau-pulau itu, menghancurkan semua kehidupan. Termasuk, burung seukuran ayam yang disebut burung mandar Aldabra. Burung ini dapat dikenali dari bulu bercorak putih di tenggorokannya.

Di masa lalu, jenis ini diyakini sempat mendiami Pulau Aldabra. Di sini, berevolusi hingga menjadi burung yang tak bisa terbang dikarenakan sedikitnya predator yang ada. Kemampuan terbang menjadi hal yang tidak begitu dibutuhkan. Jenis ini pun dinyatakan punah ketika Pulau Aldabra hilang ditelan ombak dan tergenang ribuan tahun.

Kini, burung ini seolah lahir kembali. Tim peneliti mengungkapkan, jenis ini bisa kembali ‘hidup’ setelah melalui proses evolusi sangat langka yaitu iterative evolution atau evolusi berulang.

Ribuan tahun lalu, mandar berleher putih Madagaskar [Dryolimnas cuvieri] bermigrasi ke Mauritius, Reunion, dan pulau-pulau batu kapur di Atol Aldabra. Di sana, dengan tidak adanya predator, mereka kehilangan kemampuan terbang, membentuk subspesies baru yang dikenal sebagai burung mandar Aldabra (Dryolimnas cuvieri aldabranus).

Diperkirakan, setelah banjir melanda pulau ini [136 ribu tahun silam], sekitar 100 ribu tahun lalu, zaman es menyebabkan turunnya permukaan laut, membuat atol Aldabra dapat dihuni kembali. Sehingga, burung mandar terbang dari Madagaskar ke sini, tanpa adanya predator. Mereka pun kehilangan kemampuan terbang sekali lagi.

Pada dasarnya, spesies mandar Madagaskar melahirkan dua subspesies yang juga tidak dapat terbang dalam waktu beberapa ribu tahun. Hal ini sangat tidak biasa. Para ilmuwan dari Universitas Portsmouth dan Natural History Museum, Inggris, sampai pada kesimpulan ini setelah menganalisis fosilnya sebelum dan sesudah peristiwa tenggelamnya Atol Aldabra. Keduanya tidak dapat terbang.

“Skenario ini mungkin tampak mengejutkan, tetapi burung-burung mandar dikenal sebagai burung ulet, dapat berevolusi cepat jika kondisi alam sekitar tak sesuai,” jelas penulis penelitian dalam Zoological Journal of Linnaean Society. “Karena itu, kemungkinan penyebaran Dryolimnas dari Madagaskar ke Aldabra terpencil terjadi beberapa kali, seperti yang  juga dilakukan kura-kura raksasa.”

Penelitian ini tidak hanya menandai pertama kali evolusi berulang dicatat pada burung mandar tetapi memberikan satu contoh terbaik fenomena burung keseluruhan.

“Hanya di Aldabra, yang memiliki catatan paleontologis tertua dari pulau samudera manapun di kawasan Samudera Hindia, adalah bukti fosil yang menunjukkan efek perubahan permukaan laut pada peristiwa kepunahan dan rekolonisasi,” jelas Profesor David Martill dari University of Portsmouth dalam sebuah pernyataan, dilansir dari IFL Science.

“Fosil unik ini memberikan bukti tak terbantahkan bahwa anggota keluarga burung mandar menghuni Atol Aldabra, kemungkinan besar dari Madagaskar, dan menjadi tidak bisa terbang secara independen pada setiap kesempatan,” ungkap ketua peneliti Dr. Julian Hume dari Museum Sejarah Alam London, dikutip dari CNN.

“Bukti fosil yang disajikan unik, menjelaskan kemampuannya untuk kembali mengkoloni pulau-pulau terpencil dan berevolusi terbang kembali,” tandasnya.

sumber
https://www.mongabay.co.id/2019/05/13/dinyatakan-punah-136-ribu-tahun-silam-burung-ini-muncul-kembali/