Data dan Informasi Pemanfaatan Hutan Tahun 2010

Data dan informasi pemanfaatan kawasan hutan ini disusun dalam rangka menyediakan data dan informasi yang berkaitan dengan pemanfaatan kawasan hutan meliputi data informasi perkembangan pemanfaatan hutan berupa IUPHHK-HA/HTI, HTR, HKm dan hutan desa diseluruh Indonesia. Selain itu juga dilengkapi dengan definisi dan peraturan perundang-undangan yang terkait serta prosedur dan mekanisme penyelesaian proses IUPHHK-HA/HTI, HTR, Hkm dan hutan desa.
Informasi selengkapnya dapat dilihat pada lampiran berikut :www.dephut.go.id

Ikan berwarna menarik di dunia

Diantara terumbu karang, diantara tanaman sungai dan diberbagai tempat, ikan beraneka warna tampak berenang. Lihat hasil seleksi ikan paling indah disini.
Ikan menggunakan warna untuk berkomunikasi dengan sesama spesiesnya. Mereka juga memakai warna untuk ritual kawin dan bahkan bersembunyi dari pemangsanya. Mari kita lihat beberapa warna menarik dunia ikan
1. Ikan Malaikat Kaisar (Pomacanthus imperator)
Pomacanthus imperator (credit: Reef Clips)
Ikan ini muncul dalam aneka warna. Ia juga berubah warna saat dewasa. Pita putih dengan latar biru membentuk cincin konsentrik dan cukup besar untuk memberikan pita kuning horisontal pada saat ikan dewasa.

2. Ikan Cupang (Betta splendens)
Ikan cupang (credit: Betta)
Salah satu spesies ikan air tawar paling populer. Hanya jantan saja yang memiliki aneka warna – merah, hijau, biru, dan ungu – yang jelas bertujuan untuk memikat betina.

3. Clownfish (Amphiprion percula)
Amphiprion percula (Credit: Reef Builders)
Clownfish terkenal karena warna merah, jingga dan putihnya yang tajam. Ia hidup di sekitar anemon. Berbeda dengan yang kamu lihat di film Finding Nemo, clownfish sesungguhnya jenis predator yang cukup ganas. Ia bersembunyi di antara anemon untuk mengintai mangsa sekaligus menghindari predator.

4. Grouper bungkuk (Cromileptes altivelis)
Cromileptes altivelis (Credit : onder water film)
Ikan ini ditemukan di asia tenggara, dan dagingnya cukup lezat. Hidup dalam gua di bawah air untuk menghindari predator.

5. Clownfish ocellaris (Amphiprion ocellaris)
Amphiprion ocellaris (Credit : starfish)
Ikan ini memiliki tubuh jingga dengan dua pita putih. Hidup di terumbu karang dari Sri Lanka hingga Filipina terus ke Australia utara.

6. Clown Triggerfish (Balistoides conspicillum)
Balistoides conspiculum (credit : inft)
Separuh tubuhnya hitam dengan bintik putih besar dan separuh lagi hampir semuanya hitam, dengan sekelompok bentuk hitam aneh bergaris kuning. Bibirnya yang jingga terang tampak seperti badut.

7. Whitetail Damselfish (Dascyllus aruanus)
Dascyllus aruanus (credit: Web Web Media)
Dengan tubuh putih dan tiga pita hitam tebal, ikan ini berenang di antara batu karang dan terumbu karang, dan menyatu dengan lingkungannya

8. Harlequin Tuskfish (Choerodon fasciatus)
Choerodon fasciatus (credit: Wet Web Media)
Salah satu spesies ikan paling cerah warnanya di lautan tropis. Ikan ini terancam punah karena diburu untuk koleksi akuarium

9. Mandarin Dragonet (Synchiropus splendidus)
Ikan Mandarin (credit : Biosingularity)
Tubuhnya ditutupi pusaran membingungkan berwarna hijau, biru dan kuning. Ia merupakan salah satu ikan paling cantik di planet ini. Spesies kecil ini hidup tersembunyi di antara terumbu karang.

10. Threadfin Butterfly Fish (Chaetodon auriga)
Chaetodon auriga (credit: Fins)
Sebuah pita hitam menutupi masing-masing mata. Bintik berbentuk mata hitam di ekornya membuat predator tertipu atas penampilannya dan mengira hewan ini lebih besar dari aslinya.

11. Ikan mas (Carassius auratus)
Ikan Mas (credit : Aqua World)
Ikan ini merupakan ikan paling populer di akuarium, terutama karena ia sangat mudah beradaptasi. Ia memiliki indera penciuman yang tajam dan berfungsi untuk mencari pasangan dan makanan.

12. Wrasse (Bodianus sp.)
Bodianus sp. (credit: Advanced Aquarist)
Ikan ini memiliki warna mencolok dan kontras. Tujuannya untuk mengusir predator dengan menunjukkan peringatan.
Referensi
  1. Britannica Illustrated Science Library. 2002. Fish and Amphibians
  2. Illes, D. 2007. Tropical Freshwater Fish Aquariums.
  3. Thoney, D. A. dan Loiselle, P. V. 2003. Grzimek’s Animal Life Encyclopedia, Volume 4 : Fishes I. Schlager Group Inc.
Dikutip dari www.faktailmiah.com

Transisi dari Air ke Darat

Teori evolusi menyatakan bahwa kehidupan di darat berasal dari kehidupan yang awalnya hanya ada di air. Amfibi merupakan contohnya, tapi ikan paru lebih jelas.
Beberapa spesies ikan dapat bernapas langsung dengan udara dan hidup di luar air. Sebagai contoh adalah ikan tembakol (mudskipper) dari Asia Tenggara. Ikan tembakol dapat tinggal di dataran yang berlumpur dan bahkan memanjat pohon. Untuk bernapas, mereka hanya membutuhkan kelembaban di kulit mereka. Hal ini disebabkan adanya sel khusus di kulit mereka. Beberapa spesies lainnya masih memiliki paru-paru kasar seperti yang ada pada hewan akuatis pertama yang menghuni daratan.
Ikan dengan paru-paru (Lungfish)
Ikan paru memiliki paru kasar yang berasal dari hubungan antara gelembung renang dan esofagus. Keberadaan paru kasar ini memungkinkan gelembung renang berfungsi pada udara saat ikan meninggalkan air. Tergantung pada spesiesnya, ikan ini dapat bernafas sementara atau bahkan tanpa batasan waktu. Banyak jenis ikan ini memiliki fosilnya di berbagai belahan dunia, yang menunjukkan kalau mereka sangat banyak pada era Mesozoikum. Mereka mungkin vertebrata pertama yang mengembangkan paru-paru. Walau begitu, ikan paru hanya ditemukan di tiga tempat saja sekarang di dunia.
Ikan paru umumnya mampu bertahan selama 9 bulan hidup hanya dengan mengubur diri mereka dalam lumpur. Caranya dengan mencari daerah berlumpur lembut dibawah air, dimana ia dapat menggali lorong. Ia masuk kepala terlebih dahulu ke dalam lorong sambil mengeluarkan lendir tebal yang membuatnya dapat meluncur dengan mudah dan melindunginya dari dehidrasi. Sampai di dalam kantung lumpur, ia memutar tubuhnya. Kepalanya menghadap ke atas. Sebelum permukaan air surut, ia menutupi pintu masuk dengan tanah liat. Saat air sepenuhnya surut, sang ikan sudah memasuki masa hibernasi. Ia bernapas dengan dua atau tiga lobang kecil di tutupan tanah liat. Hal ini mereka lakukan saat musim kemarau tiba, dimana pantai, sungai dan kolam mengering. Mereka kemudian mengurangi fungsi metabolisme tubuh mereka mencapai minimum dan membakar sesedikit mungkin energi hingga air kembali pasang.
Ikan Paru Afrika
Ikan Paru Afrika Barat (Protopterus annectens annectens)
Ikan ini memiliki sirip daging yang mirip kaki dan tiga insang luar. Di musim kering, mereka mengeluarkan zat untuk menutupi diri. Ia dapat bertahan seperti ini selama setahun.
Ikan Paru Queensland
Ikan Paru Queensland (Neoceratodus forsteri)
Saat dipaksa bernapas dengan udara untuk waktu lama, ikan ini akan mati. Ia dapat mencapai panjang 1,25 meter, berat 10 kg dan hidup lebih dari 65 tahun.
Ikan Paru Amerika Selatan
Ikan paru amerika Selatan (Lepidosiren paradoxa)
Ikan ini memiliki insang kecil dan dua paru-paru yang dipakai untuk bernapas di musim kemarau.
Ikan Tembakol
Tembakol (Periophthalmus barbarus)
Ini adalah satu-satunya ikan yang dapat beradaptasi sepenuhnya seperti amfibi. Mereka menumpuk air di kulit mereka dan beberapa ruangan khusus di dekat insang, yang memungkinkan merkea memakai insang di luar air. Mereka hidup di pantai Samudera India dan Pasifik, di Asia Tenggara, dan pantai barat Madagaskar. Mereka biasanya berenang di air yang dangkal, berpegangan pada akar dan rumput laut dan mengangkat kepala mereka keluar air. Mereka bergerak dengan mudah di lumpur dan tanah kering, dan bahkan dapat mendaki pohon. Mereka dapat bernapas dengan air maupun udara sama baiknya. Mereka termasuk anggota famili Gobidae dan dapat mencapai panjang 15 cm.
Morfologi Ikan Tembakol (Periophtalmus sp.)
Ikan paru memiliki mata yang besar untuk menyediakan pandangan panoramik. Mata ini dilindungi oleh lapisan kulit. Untuk tetap lembab, ikan paru harus terus memutar matanya.
Bukaan di pipinya berguna untuk menyimpan air laut. Dengan cara ini, insangnya tidak pernah kering walaupun ikan telah keluar dari air.
Mulut dan tenggorokannya juga memuat organ pernapasan.
Insang berada di bukaan lain yang mengandung air dan udara. Ia dapat menyerap udara sepanjang tetap lembab.
Sirip ventral ikan paru termodifikasi menjadi cakram ventral. Cakram ini berfungsi sebagai pengungkit untuk mengangkat ikan ke akar dan batang pohon.
Sirip depannya dipakai untuk berjalan dan melompat saat berada di luar air. Mereka bahkan mampu memanjat pohon. Di air, ikan ini merangkak sepanjang dasar.
Kulitnya merupakan organ pernapasan dan harus dijaga agar tetap lembab. Sel kulitnya mampu mengumpulkan air.
Ototnya teradaptasi dengan badannya yang berlekuk-lekuk agar mampu melompat di lumpur.
Referensi
  1. Australian Museum. 1966. Queensland Lungfish. Australian Museum.
  2. Books, LLC. 2010. Lungfish: Queensland Lungfish, Protopterus, South American Lungfish, Arganodus, Gnathorhizidae, Ceratodus, Gilled African Lungfish. General Books.
  3. Girard, C. 1855. Fishes, Part IV.
  4. Graham, J.B. 1997. Air Breathing Fishes: Evolution, Diversity and Adaptation. Academic Press.
  5. Hoar, W.S. 1969. The Endocrin System. Academic Press.
  6. Hyrtl, J. 1845. Lepidosiren Paradoxa: Monographie. Friedr Ehrlich.
  7. Jordan, D.S. 2007. Check-List of Species of Fishes Known from the Philippine Archipelago. Read Books.
  8. Smith, P., Tchernov, E. 1992. Structure, Function and Evolution of Teeth. Freund Publishing House Ltd
Dikutip dari www.faktailmiah.com

Amfibi Paling Langka di Dunia

Dari salamander hingga kodok, dari axolotl hingga katak, semua terancam punah. Apa yang statusnya paling kritis?
Bagi ilmuan, amfibi merupakan salah satu indikator kesehatan ekosistem. Sayangnya, terdapat penurunan yang drastis. Dari semua spesies amfibi, 7 persen di antaranya dalam kondisi kritis. Bandingkan dengan mamalia yang hanya 4 persen atau burung yang hanya 2 persen. Dari 5700 spesies amfibi, 168 telah punah, dan 1 dari 3 spesies terancam mengalami nasib serupa. Sebagian besar penurunan ini terjadi dalam 20 tahun terakhir, dan kecepatannya sebanding dengan kecepatan punahnya dinosaurus!
Penyebab paling besar dari kepunahan spesies amfibi adalah penghancuran habitat lewat polusi udara dan air. Sebagian besar amfibi tergantung pada air tawar untuk hidup. Mereka lebih dahulu mengalami dampak polusi dibanding hewan lainnya. Hal ini membuatnya menjadi indikator kondisi lingkungan. Di Amerika dan Australia, para ilmuan telah menemukan sebuah jamur yang menyebabkan penyakit yang disebut chytridiomycosis. Penyakit ini menyerang katak dan kodok dan membuat populasi amfibi ini menurun lebih dari 50 persen. Jamur ini menyebar 28 km per tahun dan mematikan.
Berikut ini daftar amfibi yang terancam punah di dunia:
  1. Kodok Harlequin variabel Costa Rica (Atelopus varius)
Kodok Harlequin (Credit: Jurusan Biologi Universitas California Riverside)
Statusnya kritis. Penyebabnya polusi. Hidupnya di Costa Rica, Panama dan Colombia. Selain polusi, spesies ini juga sangat dicari karena warnanya yang cerah. Perburuan hewan yang tidak sah menjadi ancaman kelangsungan hidupnya. Di saat yang sama, habitat kodok ini dihancurkan oleh penggundulan hutan.
  1. Salamender tutul (Ambystoma maculatum)
Ambystoma maculatum (credit : mbd545)
Lokasi hidupnya di Amerika Serikat Timur. Karena habitatnya hanya di hutan, pertumbuhan kota dan penggundulan hutan serta polusi. Faktor-faktor ini membawanya ke dalam status terancam punah.
  1. Craugastor Tabasarae (Craugastor tabasarae)
Craugastor tabasarae (credit : Houston Zoo Frogs)
Lokasi hidupnya di Panama. Hewan ini berstatus kritis karena populasinya telah menurun 80 persen hanya dalam tiga generasi terakhir. Penurunan ini karena adanya jamur Batrachachytrium dendrobatidis. Sepertinya tidak ada cara untuk memulihkan dampaknya.
  1. Kodok Kaki Hisap Peru (Atelopus peruensis)
Atelopus Peruensis (Credit : Animales Extinction)
Dalam 10 tahun terakhir, populasi amfibi ini turun sebesar 80 persen. Spesies ini kini berstatus kritis. Tampaknya hewan ini lenyap karena infeksi mematikan yang mempengaruhi amfibi akibat jamur dari ordo Chytridiomycota.
  1. Newt tutul Kaiser (Neurergus kaiseri)
Neurergus keiseri (credit : Caudata)
Newt ini kritis karena jangkauan habitatnya di Iran kurang dari 100 km saja. Seluruh populasi spesies ini hidup dalam wilayah hanya seluas 10 km persegi. Baik panjang dan kualitas hidupnya menurun. Penurunan ini juga disebabkan jumlah spesimen dewasa yang semakin sedikit karena penjualan hewan ilegal.
  1. Katak Roket Dunn (Colostethus dunni)
Colosthetus (credit: wikimedia)
Katak ini berstatus kritis karena penurunan drastis sebanyak 80 persen hanya dalam 10 tahun terakhir. Kehancuran spesies dari Venezuela ini akibat chytridiomycosis.
  1. Axolotl Meksiko (Ambystoma mexicanum)
Axolotl (credit: Aqua Pets)
Satu-satunya habitat alami axolotl adalah Danau Xochimilco di negara bagian Puebla, Meksiko. Dan sekarang ia sudah sangat langka. Spesies asing seperti koi dan carassius yang dimasukkan orang kedalam danau memangsa telur mereka.
  1. Kodok emas (Bufo periglenes)
Katak Emas (Credit : Emit)
Hewan ini telah punah. Penyebab punahnya belum diketahui tapi tampaknya akibat hujan asam atau variasi lingkungan yang kecil. Dulunya kodok ini hidup di Costa Rica.
Referensi
  1. Allaby, M. 2010. Animals : From Mythology to Zoology. Facts on File.
  2. Britannica Illustrated Science Library. 2002. Fish and Amphibians
  3. Cobb, A. B. (ed) 2001. Animal Sciences. Macmillan
Disadur dari www.faktailmiah.com

Spesies Amphibi yang Diduga Punah ditemukan kembali

"Ini cukup luar biasa mengingat berapa lama sudah sejak hewan-hewan ini terakhir kali terlihat," kata Moore.
Dengan gembira para ahli konservasi mengumumkan pada hari Rabu bahwa mereka telah menemukan dua spesies katak Afrika dan satu spesies salamander Meksiko, yang sempat dikhawatirkan telah punah.
Penemuan ini dibuat oleh para ilmuwan dengan menyisir beberapa situs di dunia terpencil, dengan tujuan mencari tahu nasib seratus spesies amfibi yang belum terlihat selama beberapa dekade.
“Ini adalah penemuan fantastis dan bisa memiliki implikasi penting bagi semua orang sebagaimana juga bagi amfibi,” kata Robin Moore, yang mengatur pencarian untuk sebuah grup wildlife berbasis di AS, Conservation International, dan Spesialis Amfibi Group (ASG) di International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Tiga penemuan termasuk salamander gua berkaki bebek (Chiropterotriton mosaueri), hewan berkaki pink, bertubuh cokelat penghuni gua yang tak pernah terlihat sejak tahun 1941.
Salamander gua berkaki bebek (Chiropterotriton mosaueri), hewan berkaki pink, bertubuh cokelat penghuni gua yang tak pernah terlihat sejak tahun 1941.
Beberapa makhluk kecil itu ditemukan di bawah tanah di provinsi Hidalgo Meksiko oleh ilmuwan Sean Rovito dari Universidad Nacional Autonoma de Mexico, yang harus turun menyusuri lubang besar untuk mencapai lokasi mereka.
Penemuan lain adalah katak buluh Gunung Nimba (Hyperolius nimbae), terakhir terlihat pada tahun 1967, katak cokelat kecil, ditemukan kembali di Pantai Gading oleh N’Goran Kouame dari Universitas Abobo-Adjame.
Katak buluh Gunung Nimba (Hyperolius nimbae), terakhir terlihat pada tahun 1967, katak cokelat kecil, ditemukan kembali di Pantai Gading.
Spesies ketiga adalah katak buluh Omaniundu (Hyperolius sankuruensis), “seekor katak indah dengan hijau cerah, hampir terlihat bercahaya, berbintik-bintik di latar belakang coklat gelap”.
Spesies ini ditemukan di Republik Demokratik Kongo oleh Jos Kielgast dari Museum Sejarah Alam Denmark.
“Ini cukup luar biasa mengingat berapa lama sudah sejak hewan-hewan ini terakhir kali terlihat,” kata Moore.
Katak buluh Omaniundu (Hyperolius sankuruensis), tak pernah terlihat sejak tahun 1979 dan ditemukan kembali di Republik Demokratik Kongo.
“Terakhir kali Salamander Meksiko terlihat, Glenn Miller adalah salah satu bintang terbesar di dunia, sedangkan katak buluh Gunung Nimba belum pernah terlihat sejak tahun The Beatles merilis ‘Sgt Pepper’s Lonely Heart Club Band’, dan katak buluh Omaniundu menghilang di tahun saat Sony Walkman pertama kalinya dijual.”
“Kami tidak tahu apakah penelitian hewan ini dapat memberikan senyawa obat baru sebagaimana yang dimiliki amfibi lain – dan setidaknya salah satu dari hewan-hewan ini hidup di daerah yang penting untuk dilindungi karena menyediakan air minum untuk daerah perkotaan,” kata Moore dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Conservation International.
“Tapi penemuan kembali hewan-hewan ini adalah keberuntungan. Banyak spesies lain yang kami cari mungkin sudah tiada untuk selamanya.”
Misi penemuan ulang dijadwalkan untuk menghasilkan penghitungan akhir sebelum puncak bulan Oktober Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati, yang akan diadakan di Nagoya, Jepang.
Pada konvesi tersebut, pemerintah akan membahas faktor-faktor manusia yang mendorong banyak spesies tanaman dan hewan menuju kepunahan, dengan amfibi di barisan terdepannya.
Sumber:
physorg.com
bbc.co.uk
nationalgeographic.com

Disadur dari www.faktailmiah.com

80 Persen Air di Dunia Berhadapan dengan Resiko

"Anda bisa katakan bahwa satu ons air untuk pencegahan adalah seharga satu galon air untuk pemulihan."
Keanekaragaman hayati sungai dan keamanan air kita berada dalam masalah serius, demikian menurut survei komprehensif saluran air yang dirilis kemarin. Resiko berdampak pada pasokan air bagi hampir 80 persen manusia, dan bagi dua-pertiga habitat sungai di dunia.
Titik-titik yang memprihatinkan meliputi hampir seluruh Eropa, anak benua India, Cina timur, Meksiko selatan, dan Amerika Serikat timur pegunungan Rockie.
Tetapi para ahli mengatakan mungkin ada harapan untuk memulihkan sungai-sungai dan mengamankan kebutuhan air di masa depan bagi perkotaan, pertanian, produksi energi, industri – dan untuk ekosistem – dengan cara “bekerja dengan alam.”
“Kita, sebagai masyarakat global, sangat kurang peduli terhadap sumber daya air,” kata rekan pemimpin survei, Peter McIntyre, seorang ahli zoologi di Universitas Wisconsin-Madison.
Sungai, lahan basah, danau, dan kehidupan yang bergantung pada mereka, berhadapan dengan resiko di seluruh dunia karena berbagai tekanan, termasuk terlalu berlebihan menggunakan air, pencemaran, pengenalan spesies eksotik, dan penangkapan ikan yang berlebihan, demikian menurut studi baru, yang diterbitkan hari ini (30 September) dalam jurnal Nature.
Studi ini memetakan semua tekanan tersebut dan hampir dua lusin lainnya lagi; ini merupakan peta detail pertama mengenai ancaman terhadap keamanan air bagi manusia dan keanekaragaman hayati di sungai.
Memperoleh sumber
“Kami melihat sungai-sungai di berbagai bagian dunia tengah bergerak ke arah krisis,” kata rekan pemimpin studi Charles Vörösmarty, seorang peneliti air di City College of New York di New York City.
“Di mana pun terdapat kepadatan penduduk, di mana pun ada lahan pertanian besar, dan di manapun ada industrialisasi intens – di situlah tepatnya kami menemukan masalah,” tambahnya.
Akar dari banyak masalah ini terletak pada di mana orang telah memilih untuk hidup. “Kita menetap di tempat-tempat yang sangat berbahaya, seperti di delta pesisir atau di dataran banjir,” kata Vörösmarty.
Untuk melindungi masyarakat yang hidup di sana, kita “memerlukan perawatan konstan dan perhatian dalam hal teknik, untuk membangun tanggul yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, misalnya,” katanya.
Menurut laporan Nature terbaru, pasokan air berada di bawah tekanan terberat di berbagai dataran banjir dan delta di dunia – termasuk bendungan Sungai Yangtze Cina dan di sepanjang Sungai Indus Pakistan, di mana baru-baru ini banjir memaksa jutaan orang mengungsi.
Seiring berkembangnya masyarakat di semua perkotaan, dan lahan pedesaan pun perlu menafkahi mereka. Masalah utama adalah bahwa orang secara harfiah mengisap kering sungai untuk menjamin pasokan yang dapat diandalkan bagi pertanian, demikian menurut laporan penulis dan para ahli lainnya.
“Banyak sekali sungai dan lahan basah kini menjadi kering tahun ini karena dikubur atau direkayasa ulang untuk keperluan manusia,” tulis Margaret Palmer, seorang ahli biologi di Universitas Maryland, dalam sebuah komentar yang juga diterbitkan dalam Nature.
Banyak negara berkembang sekarang mengikuti rute yang sama seperti yang dilakukan oleh negara-negara maju saat ini, dimulai lebih dari 100 tahun yang lalu, kata Vörösmarty, mengacu pada seringnya teknik yang kompleks dan mahal untuk bendungan, waduk, saluran irigasi, tanggul, terowongan, dan jaringan pipa yang digunakan untuk mengerjakan, mengalihkan, dan mendistribusikan air.
“Ini pandangan abad kedua puluh” bahwa kita dapat “membuang beton dan pipa pada masalah ini,” tambahnya.
Namun, ia memperingatkan, negara-negara berkembang mungkin tidak memiliki uang atau energi untuk mengikuti langkah ini dalam jangka waktu yang lebih lama.
Mengembalikan Sungai
Ada cara “bekerja dengan alam untuk mencegah masalah timbul,” kata Vörösmarty. “Anda bisa katakan bahwa satu ons air untuk pencegahan adalah seharga satu galon air untuk pemulihan.”
Proyek-proyek yang “bekerja dengan alam” dan mencoba untuk memulihkan aliran sungai menjadi lebih alami dapat membantu meringankan tekanan terhadap sungai dan meningkatkan kualitas air, demikian pendapat studi terbaru.
Hal ini dapat melibatkan sungai memungkinkan lebih banyak ruang untuk tergenangi, dan juga memungkinkan mereka mengatur jalan mereka sendiri, daripada memaksa mereka di sepanjang rute tertentu.
Kebanyakan upaya restorasi sungai sejauh ini lebih banyak berada di negara-negara kaya, dan yang ditemukan hanya keberhasilan yang terbatas, kata McIntyre.
“Ini biaya sebuah keberuntungan kecil jika Anda ingin mencoba untuk mengembalikan beberapa fungsi alami sungai,” ia menambahkan, “dan Anda bisa hanya mengatur untuk memulihkan mereka secara sebagian dalam banyak kasus.”
Tetapi ada beberapa kisah sukses, seperti di Sungai Mississippi.
Army Corps of Engineers dan manajer air lokal di Louisiana sudah mulai membiarkan sungai meluap ke bidang-bidang yang berdekatan, seperti yang terjadi sebelum konstruksi tanggul menjadi meluas setelah banjir dahsyat pada tahun 1927.
Dengan cara ini, lahan-lahan tersebut melayani “sebagai peredam kejut besar untuk menghindari kerusakan [dan membanjiri] hilir,” di mana perkotaan, bukan lahan pertanian, berhadapan dengan risiko, kata Vörösmarty.
Kisah sukses lainnya adalah pasokan air di New York City, yang telah dijaga kebersihannya – dengan biaya yang relatif rendah dengan melindungi hutan dan lahan lainnya di daerah aliran sungai yang memberi makan Big Apple. Hutan membantu menyaring air dan menahan tanah di tempatnya, mencegah banyak sedimen longsor, yang kemudian menjaga waduk penyediaan New York City jauh lebih bersih.
“New York City telah menghemat miliaran dolar” untuk biaya pengolahan air, kata Vörösmarty, dengan memastikan bahwa daratan hulu bisa terus memberikan air-bersih — sebuah “jasa ekosistem yang gratis.”
McIntyre menunjuk pada proyek-proyek serupa yang berlangsung di Bogota, ibukota Kolombia, dan di kota-kota lainnya di Amerika Selatan.
Robin Abell, seorang ahli biologi konservasi dengan World Wildlife Fund, mengatakan bahwa selagi upaya restorasi sungai “cukup menjanjikan, cerita konservasi sungai adalah jarang, biasanya dalam skala lokal, dan sering datang sebagai akibat dari investasi besar.”
“Kami masih berjuang untuk menemukan strategi yang dapat membuat perbedaan yang berarti bagi keanekaragaman hayati air tawar,” tambahnya.
Sumber: news.nationalgeographic.com

Disadur dari  www.faktailmiah.com

Perubahan Kritis ‘Evapotranspirasi’: Wilayah-wilayah Besar di Dunia Mengering

Tekanan kekeringan bisa berimbas pada produktivitas vegetasi, akibatnya, karbon kurang terserap, pendinginan berkurang, dan gelombang panas akan lebih ekstrim.
Tanah di wilayah-wilayah besar belahan bumi selatan, termasuk bagian utama dari Australia, Afrika dan Amerika Selatan, telah mengering pada dekade terakhir, demikian kesimpulan sekelompok peneliti dalam studi besar pertama dalam rangka memeriksa “evapotranspirasi” secara global.
Kebanyakan model iklim telah menunjukkan bahwa evapotranspirasi, atau pergerakan air dari daratan ke atmosfer, akan meningkat seiring pemanasan global. Penelitian terbaru, yang diterbitkan online minggu ini dalam jurnal Nature, menemukan apa yang persis terjadi dari tahun 1982 sampai akhir 1990-an.
Namun pada tahun 1998, peningkatan signifikan pada evapotranspirasi ini – yang sempat mencapai tujuh milimeter per tahun – melambat secara dramatis atau terhenti. Di sebagian besar dunia, tanah kini menjadi lebih kering daripada sebelumnya, hanya sedikit air yang dilepaskan, dan pengaturan peningkatan kelembaban terhenti di beberapa tempat lainnya.
Karena terbatasnya jumlah waktu untuk data yang tersedia, para ilmuwan menjadi tidak yakin apakah ini variabilitas alam atau bagian dari perubahan global yang akan bertahan lama. Tapi satu kemungkinannya adalah, pada tingkat global, akselerasi siklus hidrologi di daratan telah mencapai batas.
Jika itu terjadi, konsekuensinya bisa serius.
Hal itu bisa meliputi: berkurangnya pertumbuhan vegetasi terestrial, turunnya tingkat penyerapan karbon, hilangnya mekanisme pendinginan alam yang disediakan oleh evapotranspirasi, pemanasan yang berlebih dari permukaan tanah, gelombang panas lebih intens dengan “umpan balik” yang dapat meningkatkan pemanasan global.
“Ini pertama kalinya kami bisa mengkompilasi observasi seperti ini mengenai analisis global,” kata Beverly Law, seorang profesor ilmu perubahan kehutanan global di Universitas Oregon State. Law adalah penulis mitra studi dan direktur sains jaringan AmeriFlux dari 100 lokasi penelitian, salah satu bagian utama sintesis FLUXNET yang menggabungkan data dari seluruh dunia.
“Kami tidak berharap akan melihat pergeseran evapotranspirasi yang sedemikian luas ini di belahan bumi selatan,” ujar Law. “Ini penting untuk melanjutkan pengamatan jangka panjang, karena hingga jangka waktu lama kami memantaunya, kami tidak dapat memastikan mengapa hal ini terjadi.”
Beberapa wilayah yang mengalami kekeringan paling parah meliputi tenggara Afrika, banyak wilayah di Australia, India tengah, sebagian besar Amerika Selatan, dan beberapa wilayah di Indonesia. Sebagian besar wilayah ini secara historis memang kering, namun ada pula wilayah yang sebenarnya merupakan hutan hujan tropis.
Perubahan tiba-tiba meningkatnya evapotranspirasi global yang mendekati perhentian dalam prosesnya serupa dengan peristiwa besar El Nino pada tahun 1998, catat para peneliti dalam laporan mereka, tetapi mereka tidak menyebutkan hal yang menjadi mekanisme penyebab untuk suatu fenomena yang telah terjadi lebih dari satu dekade dari sekarang.
Evapotranspirasi terbesar diperkirakan bersamaan dengan pemanasan global, karena peningkatan penguapan air dari laut dan lebih banyak curah hujan secara keseluruhan. Dan data memang menunjukkan bahwa beberapa wilayah menjadi lebih basah daripada sebelumnya.
Bagaimanapun juga, wilayah-wilayah besar lainnya kini telah mengering, demikian yang telah ditunjukan penelitian. Ini bisa mengakibatkan tekanan kekeringan meningkat pada vegetasi dan mengurangi produktivitasnya secara keseluruhan, kata Law, dan sebagai akibatnya, karbon menjadi kurang terserap, pendinginan menjadi kurang melalui evapotranspirasi, dan gelombang panas menjadi lebih sering atau ekstrim.
Beberapa situs yang digunakan dalam penelitian ini dioperasikan oleh kelompok riset Law di pusat Oregon Cascade Range di pinggiran Sungai Metolius. Mereka konsisten terhadap beberapa kekhawatiran ini. Dalam dekade terakhir telah terjadi beberapa tahun kekeringan, tekanan vegetatif, dan beberapa kebakaran hutan yang signifikan di wilayah tersebut.
Evapotranspirasi mengembalikan sekitar 60 persen curah hujan tahunan ke atmosfer, prosesnya dengan menggunakan lebih dari setengah energi matahari yang diserap permukaan tanah. Ini merupakan komponen kunci dari sistem iklim global, menghubungkan siklus air dengan siklus energi dan karbon.
Pengamatan jangka panjang dibutuhkan untuk menentukan apakah perubahan ini merupakan bagian dari variabilitas skala-dekade atau pergeseran jangka panjang dalam hal iklim global, kata para peneliti.
Penelitian ini ditulis oleh sekelompok besar ilmuwan internasional, termasuk dari OSU; penulis utama Martin Jung dari Institut Max Planck untuk Biogeo-kimia di Jerman, dan peneliti dari Institut Sains Atmosfer dan Iklim di Swiss, Universitas Princeton, National Center for Atmospheric Research di Colorado, Universitas Harvard, dan kelompok dan lembaga-lembaga lainnya.
Jaringan regional, seperti AmeriFlux, CarboEurope, dan upaya sintesis FLUXNET, telah didukung oleh banyak lembaga pendanaan di seluruh dunia, termasuk Department of Energy, NASA, National Science Foundation, dan National Oceanic and Atmospheric Administration di AS.
Sumber: sciencedaily.com
Berita di atas berasal dari bahan-bahan yang disediakan oleh Oregon State University.
Refrensi Jurnal:
Martin Jung, Markus Reichstein, Philippe Ciais, Sonia I. Seneviratne, Justin Sheffield, Michael L. Goulden, Gordon Bonan, Alessandro Cescatti, Jiquan Chen, Richard de Jeu, A. Johannes Dolman, Werner Eugster, Dieter Gerten, Damiano Gianelle, Nadine Gobron, Jens Heinke, John Kimball, Beverly E. Law, Leonardo Montagnani, Qiaozhen Mu, Brigitte Mueller, Keith Oleson, Dario Papale, Andrew D. Richardson, Olivier Roupsard, Steve Running, Enrico Tomelleri, Nicolas Viovy, Ulrich Weber, Christopher Williams, Eric Wood, Sönke Zaehle, Ke Zhang. Recent decline in the global land evapotranspiration trend due to limited moisture supply. Nature, 2010; DOI: 10.1038/nature09396

Disadur dari www.faktailmiah.com

Wilayah yang Dirusak Gajah Bermanfaat bagi Spesies Lain

"Oleh karena itu, kelimpahan dan keragaman mangsa mungkin merupakan faktor penting yang menarik spesies-spesies herpetofauna ini ke daerah yang diubah gajah."
Wilayah yang rusak berat akibat ulah gajah justru menjadi rumah bagi lebih banyak spesies amfibi dan reptil dibandingkan dengan wilayah saat hewan-hewan itu tidak merusaknya, demikian hasil sebuah penelitian.
Ilmuwan AS mencatat ada 18 spesies di wilayah yang mengalami kerusakan tinggi, tetapi hanya ada delapan spesies di habitat yang tidak mengalami kerusakan.
Gajah digambarkan sebagai “insinyur ekologi” karena mereka menciptakan dan memelihara ekosistem dengan mengubah habitat secara fisik.
Temuan ini diterbitkan dalam African Journal of Ecology.
“Gajah, bersama dengan sejumlah spesies lainnya, dianggap sebagai insinyur ekologi karena kegiatan mereka memodifikasi habitat dengan cara yang mempengaruhi spesies lain,” jelas Bruce Schulte, yang kini berbasis di Universitas Western Kentucky, AS.
“Mereka melakukan apapun, dari penggalian dengan kaki depan mereka, mencabut rumput hingga merobohkan pohon-pohon besar. Jadi mereka ini benar-benar mengubah bentuk lanskap.”
Ia menambahkan bahwa sistem pencernaan gajah tidak terlalu baik terhadap pengolahan banyak bibit yang mereka makan.
“Sebagaimana tinja juga merupakan pupuk besar, gajah juga dapat meremajakan lanskap dengan mentransportasikan bibit di tempat lain,” kata Dr Schulte.
Tim dari Universitas Georgia Southern, AS, melakukan studi di Ndarakwai Ranch, sebuah situs seluas 4.300 hektar, perpaduan hutan savana (didominasi oleh dua spesies Acacia) dan savana terbuka di Timur Laut Tanzania, antara Agustus 2007 dan Februari 2008.
Mereka mengidentifikasi daerah-daerah yang mengalami kerusakan tinggi, sedang dan rendah akibat ulah gajah, yang dibandingkan dengan area luas bebas gangguan seluas 250 hektar, yang sengaja dipagari untuk melindunginya dari herbivora besar, seperti gajah, zebra, jerapah, dan rusa eland.
Ketika mengambil sampel untuk kekayaan dan kelimpahan spesies, para peneliti menemukan “trend ke arah kekayaan yang lebih besar di daerah-daerah dengan lebih banyak kerusakan dari gajah pada vegetasi berkayu”.
Sahabat baik katak
Kategori kerusakan habitat adalah sebagai berikut:
  • Tinggi - batang utama ditepis dan/atau dijebol
  • Sedang – kerusakan pada batang utama (tidak tertekan) dan lebih dari 50% cabang dan dedaunan rusak
  • Rendah – tidak ada kerusakan pada batang utama dan minimal kerusakan pada cabang dan dedaunan.
Mereka menulis: “Delapan belas spesies herpetofaunal (amfibi dan reptil)  diambil sampelnya dari daerah kerusakan tinggi. Kerusakan daerah menengah terdiri dari 12 spesies, sementara kerusakan daerah rendah memiliki 11 spesies.
“Situs kontrol (daerah berpagar) memiliki kekayaan spesies terendah dengan hanya delapan spesies.”
Dalam tulisan ini, para ilmuwan menyimpulkan bahwa perbedaan dalam kelimpahan dan kekayaan spesies di kawasan yang rusak itu mungkin hasil rekayasa oleh gajah, habitat baru untuk menghasilkan beragam spesies katak.
“Kawah dan puing-puing kayu kasar yang dibentuk oleh pohon tumbang dan patah [meningkatkan] jumlah tempat perlindungan dari pemangsa,” kata mereka
Mereka menambahkan bahwa lokasi itu juga disukai serangga, yang merupakan sumber makanan penting bagi amfibi dan reptil.
“Oleh karena itu, kelimpahan dan keragaman mangsa mungkin merupakan faktor penting yang menarik spesies-spesies herpetofauna ini ke daerah yang diubah gajah.”
Dr Shulte menjelaskan, tim memutuskan untuk melakukan studi ini dalam rangka mengidentifikasi indikator efektif spesies yang menawarkan wawasan tentang kesehatan lingkungan di wilayah ini.
“Dalam suatu pemandangan, seperti savana Afrika, burung dapat saja meninggalkannya jika hal-hal di situ tidak begitu baik,” katanya.
“Amfibia dan reptil cenderung sensitif terhadap perubahan habitat, dan banyak dari mereka yang terbatas dalam hal seberapa jauh mereka bisa pergi dalam waktu yang relatif singkat untuk lari dari persoalan.”
Dia menambahkan bahwa temuan ini memiliki implikasi untuk strategi pengelolaan habitat dan satwa liar.
“Jika kita mengelola habitat, maka kita jelas harus tahu untuk apa kita mengelolanya.
“Apa yang menjadi poin penelitian ini adalah bahwa meskipun hal-hal yang tidak mungkin terlihat terlalu cantik di mata manusia, tidak berarti itu merugikan semua kehidupan yang ada di sana.”
Sumber Artikel: bbc.co.uk

Disadur dari  faktailmiah.com

Afrika Ternyata Memiliki Dua Spesies Gajah

"Penyimpangan dua spesies ini terjadi sekitar masa penyimpangan dari gajah Asia dan mammoth berbulu."
Bertentangan dengan yang diyakini oleh kebanyakan ilmuwan (serta kebanyakan anggota masyarakat), penelitian terbaru menegaskan bahwa Afrika memiliki dua – bukan satu – jenis gajah. Para ilmuwan dari Harvard Medical School, Universitas Illinois, dan Universitas York di Inggris menggunakan analisis genetik untuk membuktikan bahwa gajah savana Afrika dan gajah hutan Afrika, yang ukurannya lebih kecil, telah banyak  terpisah selama beberapa juta tahun.
Para peneliti, yang temuan dipublikasikan online dalam PLoS Biology, membandingkan DNA gajah modern dari Afrika dan Asia dengan DNA yang mereka ekstraksi dari dua spesies yang sudah punah: raksasa mammoth berbulu dan mastodon. Ini bukan saja yang pertama kalinya ilmuwan menghasilkan urutan untuk genom inti mastodon, namun juga untuk pertama kalinya gajah Asia, gajah hutan Afrika, gajah savana Afrika, mammoth berbulu yang punah, dan mastodon Amerika yang punah, telah diamati secara bersamaan.

Atas: Gajah hutan di Afrika kini telah dikukuhkan sebagai spesies baru gajah dan telah dibedakan dari gajah savana yang lebih besar di Afrika. Bawah: gajah savana Afrika adalah berbeda dengan gajah hutan Afrika, sama bedanya seperti gajah Asia dengan mammoth, menurut sebuah studi baru di PLoS Biology. (Kredit: Gajah hutan foto oleh Nicholas Georgiadis; Gajah savanna foto oleh A. Schaefer)
“Secara ekperimental, kami memiliki tantangan besar untuk mengekstrak urutan DNA dari dua fosil – mammoth dan mastodon – dan garis mereka dengan DNA gajah modern, lebih dari ratusan bagian genom,” kata ilmuwan penelitian ini, Nadin Rohland dari Fakultas Genetika di Harvard Medical School.
Menurut David Reich, profesor di fakultas yang sama, “Temuan ini mengejutkan karena gajah hutan dan savana dari Afrika – yang sebagian berpendapat adalah spesies yang sama – adalah berbeda satu sama lain, sama bedanya seperti gajah Asia dan mammoth.”
Para peneliti hanya memiliki DNA dari seekor gajah tunggal pada tiap-tiap jenis, tetapi telah mengumpulkan cukup data dari setiap genom yang melintasi jutaan tahun evolusi ke masa ketika gajah pertama kali menyimpang dari satu sama lain.
“Penyimpangan dua spesies ini terjadi sekitar masa penyimpangan dari gajah Asia dan mammoth berbulu,” kata Profesor Michi Hofreiter, yang mengkhususkan diri dalam penelitian DNA purba di Fakultas Biologi York. “Pemisahan antara gajah savana dan gajah hutan Afrika hampir sama tuanya dengan pemisahan antara manusia dan simpanse. Hasil ini sungguh membuat kami tabjud.”
Kemungkinan bahwa kedua spesies ini adalah berbeda pertama kali diangkat pada tahun 2001, tapi ini adalah bukti ilmiah yang paling menarik sejauh di mana mereka memang berbeda.
Sebelumnya, naturalis banyak yang meyakini bahwa gajah savana Afrika dan gajah hutan Afrika merupakan dua populasi spesies yang sama, meskipun perbedaan ukurannya sangat signifikan. Gajah savana memiliki ketinggian bahu rata-rata 3,5 meter sedangkan gajah hutan memiliki ketinggian bahu rata-rata 2,5 meter. Berat gajah savana antara enam hingga tujuh ton, kira-kira dua kali lipat berat gajah hutan.
Analisis DNA menunjukkan berbagai keragaman genetik dalam setiap spesiesnya. Gajah savana dan mammoth berbulu memiliki keragaman genetik yang sangat rendah, gajah Asia memiliki keragaman menengah, dan gajah hutan memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi. Para peneliti percaya bahwa ini adalah akibat dari berbagai tingkat persaingan reproduksi di antara pejantan.
“Kita sekarang harus memperlakukan gajah-gajah hutan dan savana sebagai dua unit yang berbeda untuk tujuan konservasi,” kata Alfred Roca, asisten profesor di Fakultas Ilmu Hewan di Universitas Illinois. “Sejak tahun 1950, semua gajah Afrika telah dilestarikan sebagai satu spesies. Sekarang kita tahu bahwa gajah hutan dan savana adalah dua hewan yang sangat khas, gajah hutan harus menjadi prioritas yang lebih besar untuk tujuan konservasi.”
Penelitian ini didanai oleh Max Planck Society dan oleh Burroughs Wellcome Career Development Award di Biomedical Science.
Sumber faktailmiah.com

Lingkungan Membatasi Penganekaragaman Spesies

"Secara umum, semakin besar daerah tersebut, semakin besar jumlah spesies yang bisa didukungnya."
Penelitian terbaru pada kadal di Karibia menunjukkan bahwa penganekaragaman spesies dibatasi oleh lingkungan. Penemuan ini mendukung dan memperluas teori biogeografi kepulauan MacArthur-Wilson.
Sudah lama diterima oleh para ahli biologi bahwa faktor lingkungan menyebabkan keragaman – atau jumlah – spesies meningkat sebelum akhirnya terhenti. Beberapa studi baru, bagaimanapun juga, telah menyarankan bahwa keanekaragaman spesies berlanjut bukan masuk ke dalam keadaan keseimbangan. Namun penelitian terbaru pada kadal di Karibia tidak hanya  mendukung teori asli di mana ruang yang terbatas, persediaan makanan yang terbatas, dan persaingan untuk sumber daya,  semuanya bekerja sama untuk mencapai keseimbangan; ini melengkapi teori dengan memperluasnya lewat jangka waktu yang lebih lama lagi.
Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Rabosky dari Universitas California, Berkeley, dan Richard Glor dari Universitas Rochester ini mempelajari pola akumulasi spesies kadal selama jutaan tahun di empat pulau Karibia Puerto Rico, Jamaika, Hispaniola, dan Kuba. Makalah mereka dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, 21 Desember.
Glor dan Rabosky terfokus pada keragaman spesies – jumlah spesies kadal yang berbeda – bukan jumlah kadal individu.
“Ukuran geografis berkorelasi terhadap keanekaragaman,” kata Glor. “Secara umum, semakin besar daerah tersebut, semakin besar jumlah spesies yang bisa didukungnya. Sebagai contoh, terdapat 60 spesies kadal Anolis di Kuba, namun spesies ini jauh lebih sedikit di pulau-pulau yang lebih kecil seperti Jamaika dan Puerto Rico.” Hanya ada 6 spesies di Jamaika dan 10 spesies di Puerto Rico.
Ahli ekologi Robert MacArthur dari Universitas Princeton, dan EO Wilson dari Universitas Harvard, membangun teori biogeografi kepulauan pada tahun 1960 untuk menjelaskan keragaman dan kekayaan spesies di habitat terbatas, serta batas-batas pertumbuhan jumlah spesies. Glor mengatakan bahwa teori MacArthur-Wilson dikembangkan untuk skala waktu-ekologi, yang mencakup ribuan tahun, sedangkan studinya bersama Rabosky memperluas konsepnya menjadi lebih dari satu juta tahun. “MacArthur dan Wilson mengenali implikasi studi evolusionari makro mereka,” jelas Glor, “tapi fokus pada skala waktu ekologis pada kesederhanaan.”
Secara historis, ahli biologi memerlukan catatan fosil untuk mempelajari pola diversifikasi spesies kadal di pulau-pulau Karibia. Namun kemajuan dalam metodologi molekul memungkinkan Glor dan Rabosky menggunakan urutan DNA untuk merekonstruksi pohon evolusi yang menunjukkan hubungan di antara spesies.
Dua ilmuwan ini menemukan bahwa penganekaragaman spesies kadal pada empat pulau telah mencapai puncaknya jutaan tahun yang lalu dan secara mendasar telah berakhir.
Glor mengatakan bahwa perluasan dan kualitas data yang digunakan dalam penelitian ini memungkinkan dia dan Rabosky bisa menunjukkan bahwa penganekaragaman spesies kadal di pulau-pulau itu tidak berlanjut dan memang telah memasuki keadaan keseimbangan.
“Saat kita melihat pulau-pulau dan benua lain di mana kekayaan spesiesnya berbeda-beda,” kata Glor, “kita tidak bisa hanya mempertimbangkan tingkat akumulasi, kita pun perlu melihat pada titik-titik puncaknya.”
Glor menekankan bahwa keadaan kesetimbangan tidak berarti bahwa evolusi suatu spesies berakhir. Kadal akan terus beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan mereka, tetapi mereka tidak berevolusi dengan cara meningkatkan jumlah spesies di dalam habitat.
Glor yakin studinya dengan Rabosky merupakan “kata akhir” tentang pentingnya batas terhadap keragaman jenis di atas laju spesiasi saat menjelaskan hubungan area-spesies pada kadal anole.
Sumber faktailmiah.com

Cangkang Bagian Luar Tawon Mampu Memanen Tenaga Listrik Surya

Garis-garis coklat dan kuning di perut lebah dapat menyerap radiasi matahari, dan pigmen kuningnya mengubahnya menjadi tenaga listrik.
Dalam proses fotosintesis, tumbuhan menyerap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik. Sekarang, tim Universitas Tel Aviv telah menunjukkan  bagaimana anggota dari kerajaan hewan, tawon Oriental, juga mengambil energi matahari dan mengubahnya menjadi tenaga listrik – di bagian tubuhnya yang berwarna coklat dan kuning.
“Hal yang menarik di sini, makhluk biologis hidup juga melakukan hal seperti itu,” kata fisikawan Prof. David Bergman dari Fakultas Fisika dan Astronomi Universitas Tel Aviv, yang merupakan bagian dari tim untuk penemuan ini. “Tawon mungkin telah menemukan hal yang belum kita ketahui.”
Dalam kemitraan dengan Prof. Jacob Ishay dari Fakultas Kedokteran Sackler universitas, Prof. Bergman dan kandidat doktor, Marian Plotkin, terlibat dalam sebuah proyek penelitian yang benar-benar interdisipliner untuk menjelaskan proses biologis yang mengubah perut lebah menjadi sel surya.
Tim riset membuat penemuan ini beberapa tahun lalu, dan baru-baru ini mencoba menirunya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cangkang tubuh lebah, atau exoskeleton, mampu memanen energi surya. Mereka baru saja mempublikasikan hasil studi ini dalam jurnal Naturwissenschaften, Jerman.
Menemukan sebuah sistem baru untuk energi yang lebih baru?
Sebelumnya, para ahli entomologi mencatat bahwa tawon Oriental, tidak seperti tawon dan lebah lainnya, aktif di sore hari daripada pagi hari ketika matahari baru meninggi. Mereka juga memperhatikan bahwa tawon ini lebih intens membuat sarang seiring meningkatnya intensitas matahari.
Dengan mengambil informasi ini untuk laboratorium, tim Universitas Tel Aviv mempelajari kondisi cuaca, seperti suhu, kelembaban dan radiasi matahari untuk menentukan apa dan bagaimana faktor-faktor ini juga mempengaruhi perilaku lebah, namun menemukan bahwa hanya dengan radiasi UVB saja sudah cukup menentukan perubahan.
Dalam penelitian, tim Universitas Tel Aviv juga menemukan bahwa garis-garis kuning dan coklat pada perut tawon memungkinkan efek foto-volta: garis-garis coklat dan kuning di perut lebah dapat menyerap radiasi matahari, dan pigmen kuningnya mengubahnya menjadi tenaga listrik.
Tim menentukan bahwa cangkang coklat tawon itu dibuat dari alur yang membelah cahaya menjadi sinar divergen. Garis-garis kuning di perutnya terbuat dari depresi lubang jarum, dan berisi pigmen yang disebut xanthopterin. Secara bersamaan, alur cahaya divergen, depresi lubang jarum dan cahaya xanthopterin berubah menjadi energi listrik. Cangkang perangkap cahaya dan pigmen melakukan konversi.
Sebuah pompa panas biologis
Para peneliti juga menemukan sejumlah energi proses yang unik pada serangga ini. Seperti AC dan kulkas, lebah memiliki sistem pompa panas yang berkembang dengan baik di dalam tubuhnya yang membuatnya lebih dingin pada suhu luar selagi ia mencari makan di bawah sinar matahari. Ini adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan, kata Prof. Bergman.
Untuk melihat apakah kepiawaian mengumpulkan solar lebah bisa digandakan, tim meniru struktur tubuh lebah, namun memiliki hasil yang buruk dalam mencapai tingkat efisiensi yang samanya tinggi dalam mengumpulkan energi. Di masa depan, mereka berencana memperbaiki model ini untuk melihat apakah “peniruan-biologis” ini bisa memberikan petunjuk untuk solusi energi yang baru.
Tim peneliti juga menemukan bahwa tawon menggunakan pengasahan halus sinyal akustik untuk membimbing mereka sehingga dapat membangun penjelajahan dengan presisi yang luar biasa dalam kegelapan total. Lebah setidaknya bisa melihat apa yang mereka lakukan, namun tawon tidak bisa – benar-benar gelap di dalam sarang tawon.

sumber faktailmiah.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...